Ara segera bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan Vino yang masih terpaku dengan ucapan Ara. Air matanya terus menetes. Mengapa di saat Vino bisa mencintainya justru di saat hati Ara sudah hancur? Kenapa bukan dari dulu? Kenapa baru sekarang? Kenapa harus di saat Ara sudah mulai belajar untuk merelakan Vino?
"RA SEENGGAKNYA KASIH AKU KESEMPATAN!"
Ara segera menghentikan langkahnya saat mendengar seruan Vino. Lalu menoleh ke belakang. Menatap Vino yang kini sudah kacau keadaannya. Bukan hanya Vino yang terluka. Ara juga terluka, bahkan dari dulu.
"KESEMPATAN YANG GUE KASIH UDAH BERULANG KALI KALAU LO LUPA."
Setelah mengucapkan itu Ara segera melangkahkan kakinya kembali.
"AKU AKAN PERJUANGIN KAMU LAGI, RA!"
Ara masih mendengar kalimat itu. Namun, tak Ara hiraukan. Terserah Vino mau berjuang atau tidak. Itu sudah bukan urusannya lagi. Ara tidak mau menerima sakitnya kembali dari hububgannya bersama Vino. Sudah cukup lara yang dia terima.
.
.
.
"Gimana, Vin?"
Vino hanya menghela nafasnya saat Fatha bertanya.
"Pasti Ara udah nggak mau sama dia lagi." Kali ini Bagas yang berkomentar. Dan ucapannya memang 100% benar.
"Vino, dengerin gue. Ara selama ini udah berjuang, bertahan mati-matian buat lo. Sekarang giliran lo yang berjuang buat Ara. Buktiin sama dia kalau lo bukan Vino yang dulu. Buktiin ke dia kalau cuma Ara yang sekarang ada di hati lo." Ujar Fatha dengan sungguh-sungguh.
Vino hanya diam mendengarkannya. Namun, Vino juga berpikiran serupa. Kini saatnya Vino yang berjuang. Vino akan rebut kembali apa yang harusnya menjadi miliknya.
.
.
.
Sementara di lain sisi. Kini Ara tengah menenangkan dirinya di kelas. Jujur Ara maaih mencintai Vino. Namun, Ara sudah lelah dengan tingkah Vino dulu. Ara juga sudah memantapkan hatinya untuk move on. Omongan Vino terus terngiang di telinganya. Apa benar laki-laki itu akan berjuang untuk Ara?
"Ra."
Ara segera menoleh ke ara Anggi dan Rendi.
"Vino bilang apa aja sama lo?"
"Minta maaf."
"Huh. Pasti nyesel sekarang tuh anak." Ujar Anggi dengan kekesalan memuncak. Namun, juga terlihat ada kepuasan dalam nada bicaranya. Ya, Anggi memang sangat puas melihat Vino menyesal.
"Sekarang lo harus move on dari Vino. Kebahagiaan lo nggak cuma selamanya ada di Vino, Ra."
Ara langsung tersenyum ke arah Rendi. Benar apa yang Rendi katakan. Kebahagiaan Ara tidak hanya berada bersama Vino. Justru bersama Vino Ara selalu merasakan sakit. Entah apa yang membuat Ara dulu menjadi gadis bodoh, yang mau saja dilukai berkali-kali oleh satu laki-laki.
.
.
.
Bel pulanh sekolah sudah berbunyi dengan lantangnya. Membuat para murid SMA Nusa Bangsa bersorak karena akhirnya mereka terbebas dari sekolah ini untuk pulanh ke rumah.
Vino, Bagas, dan Fatha tengah berada di parkiran sekolah. Vino kini sedang menunggu Ara untuk dia ajak pulang bersama. Sementara Fatha tengah menunggu Lulu. Dan Bagas? Dia hanya menemani kedua sahabatnya.
Dari kejauhan Vino sudah melihat Ara yang tengah berjalan ke arah parkiran. Senyumnya terbit dengan sempurna melihat gadis itu. Namun, tak lama senyuman itu lenyap seketika. Saat sadar, gadis itu berjalan bersama laki-laki lain, yang tak lain adalah Rendi, sambil bergandengan. Jangan lupakan senyum merekah yang Ara tunjukkan pada Rendi. Dulu, senyuman itu hanya Ara berikan untuk Vino. Namun sekarang? Vino bahkan hanya bisa menikmati senyum itu dari kejauhan. Nyeri. Kenapa dadanya sangat nyeri melihat Ara bersama Rendi.
Ara dan Rendi tiba di dekat moto Rendi yang kebetulan diparkir persis di samping motor Vino.
"Hai Bagas, Fatha?" Sapa Ara dengan senyumannya.
Hanya Bagas dan Fatha yang disapanya. Sedangkan Vino? Ia seolah tak terlihat ada di sana.
"Hai, Ra." Balas kedua sahabt Vino.
Vino segera mendekati Ara lalu mencekal lengan gadis itu. Sedangkan Ara hanya menatap Vino dengan datar.
"Pulang bareng aku."
Ara segera melapas cekalan Vino dengan hati-hati. Namun, ekspresinya masih sama. Datar.
"Lo nggak lihat? Gue mau pulang bareng Rendi."
Vino segera mengalihkan pandangannya pada Rendi.
"Ara pulang bareng gue." Ujar Vino datar.
"Nggak bisa gitu dong. Ara udah mau pulang sama gue duluan." Rendi segera menarik Ara ke arahnya.
Tak tinggal diam, Vino segera menggenggam tangan Ara yang lainnya. Berusaha menarik gadis itu, namun Rendi sudah mencegahnya untuk menarik Ara.
"Ara bakal pulang sama gue!"
"Nggak bisa gitu. Ara udah sama gue duluan!"
"Tapi, gue mau Ara pulang bareng gue!"
"Tapi,..-"
"STOP!"
Ara yang jengah dengan kedua laki-laki yang merebutkan dirinya untuk pulang bersama segera menghentikan perdebatan tak bermutu itu. Ara pusing mendengar mereka yang berebut. Ara segera melepaskan cekalan kedua laki-laki itu.
"Kalian tuh kaya bocah tahu nggak?!"
Lalu Ara segera menghadap ke arah Vino.
"Dan lo!" Tunjuknya pada Vino.
"Ngapain lo ajak gue pulang bareng?! Kita udah MANTAN. Gue mau pulang bareng Rendi!"
Ara segera menarik lengan Rendi.
"Ayo, Ren." Ujarnya.
Lalu Rendi dan Ara segera meninggalkan parkiran.
Vino yang melihatnya semakin nyeri dia rasakan. Kini Vino tahu rasanya ditolak, diabaikan, dan dibentak oleh orang yang dia cintai. Perjuangannya belum seberapa, tapi kenapa sakitnya sangat terasa?
Fatha yang mengerti perasaan Vino segera menepuk pundak laki-laki itu.
"Lo harus lebih berusaha."
KAMU SEDANG MEMBACA
Araisy [END]
Teen FictionLo terlalu baik sih, sampai hati aja rela lo bagiin sampai habis. Sampai lo nggak punya hati lagi! -Araisy . . . Bercerita tentang Araisy yang ceria, cerewet, dan penyabar. Juga tentang Vino yang egois dan playboy. Kuatkah Araisy menjalani hubungan...
![Araisy [END]](https://img.wattpad.com/cover/224385934-64-k792152.jpg)