Vino saat ini tengah berada di dalam kamarnya bermain Play Station dengan kedua temannya, Fatha dan Bagas. Bukan Vino yang bermain Play Station, kedua temannyalah yang sibuk memainkannya dengan mulut yang tak ada hentinya mengumpat.
"Curang lo, Gas!"
"Lha, kalah ya kalah aja, Fat. Nggak usah bilang gue curang. Terima dong kekalahan lo. Inget tentang taruhan kita, lo harus nggak duduk sebangku selama seminggu sama Lulu dan pura-pura marah sama dia."
"Kok gitu? Lo kan tahu si Lulu nggak bisa jauh dari gue. Yang ada gue di semprot sama Lulu ditambah nyokap gue yang marah kalau kaya gitu."
"Resiko dong."
Fatha hanya mendengus mendengarnya.
Sedangkan Vino yang mendengarnya tak menanggapi kedua makhluk itu.
Dari pembicaraan mengenai Fatha dan Lulu, hingga Bagas yang jomblo menahun, dan kini mereka mengalihkan topik menjadi tentang sahabat mereka yang memiliki kekasih begitu banyaknya.
"Vin, kasih gih satu cewek lo buat nih curut satu. Kasian gue dia nggak punya cewek dari lahir."
Bagas yang mendengar perkataan Fatha mendelik kesal menatap cowok tersebut. Karena di antara ke tiganya hanya Bagas yang tidak memiliki kekasih.
"Cari sendiri."
"Kalau lo suruh nih anak cari sendiri nggak bakal ketemu juga, Vin. Mana ada yang mau sama dia."
"Lo kalau ngomong gitu ya, Fat. Dalem coy. Banyak yang mau sama gue, gue nya yang pilih-pilih nggak mau sembarangan. Emang si Vino, liat yang bening langsung ditembak."
Memang benar banyak yang menyukai Bagas karena Bagas yang humoris dan manis. Namun, Bagas hanya menginginkan satu perempuan yang selalu cuek kepadanya. Bahkan Bagas sudah menyatakan perasaannya berkali-kali pada perempuan itu.
"Vin, lo nggak mau apa mutusin cewek lo yang lusinan itu? Kasian gue liat neng emes yang lo jadiin salah satu doang. Setia kek sama satu cewek."
Fatha yang mendengarnya mengangguk setuju.
Fatha dan Bagas adalah orang yang berusaha menjaga perasaan perempuan, tak ada niatan untuk memiliki pacar lebih dari satu. Seperti Bagas misalnya, yang tetap setia dengan sang pujaan hati walaupun selalu mendapat sikap cuek. Bagas tak ingin menyerah.
"Kalian kan tau alesan gue kaya gini."
"Tapi nggak gini juga lah, Vin. Lo mainin banyak hati cewek."
"Terserah gue dong."
Fatha dan Bagas menghembuskan nafasnya kasar. Mereka sudah lelah menasehati teman mereka yang satu ini. Percuma mereka menasehati Vino, cowok itu tetap akan pada pendiriannya karena dia adalah orang yang keras kepala.
"Heran gue sama cewek jaman sekarang, dijadiin koleksi mau aja. Lo kecakepan sih, Vin. Kalau nggak cakep aja pada nggak bakal mau sama lo. Pasti maunya sama gue. Bikin jelek muka lo kek. Apa perlu gue ke dukun biar bikin lo nggak cakep lagi, cakep lo pindahin ke gue aja."
Fatha yang mendengarnya langsung menjitak sahabatnya yang otaknya dirasa kurang itu.
"Aww, apa sih, Fat?!"
"Lo kalau ngomong yang bener dikit dong. Gimana dukunnya bisa lo mintain tolong. Liat lo dateng aja keburu kabur dukunnya gara-gara merasakan aura yang terlalu suram dari lo."
"Ah, Fatha makin sayang gue sama lo."
Bagas langsung menghambur ke pelukan Fatha. Sementara Fatha langsung mendorong tubuh Bagas hingga menjauh darinya dan memasang ekspresi jijik andalannya ketika menghadapi Bagas yang mirip homo.
"Temen lo, Fat?" Tanya Vino kepada Fatha.
"Kapan gue punya temen gila kaya dia?" Jawab Fatha dengan menunjuk Bagas yang memasang ekspresi seperti ternistakan.
🍁🍁🍁
Araisy tengah berada di balkon kamarnya malam ini, rasa dingin yang menerpa tak gadis itu hiraukan. Ia betah berlama-lema berada di sana menatap gemintang yang ada di atas sana. Lama gadis itu terdiam hanya menatapi bintang-bintang. Pandangannya menatap langit namun pikirannya terbang memikirkan sosok kekasih yang bahkan mungkin hanya memainkan perasaannya. Selalu luka yang diberi oleh laki-laki yang berstatus sebagai kekasihnya. Orang yang disayanginya. Bayangan awal pertemuannya dengan Vino yang manis, yang mampu membuatnya seolah melayang tak berpijak lagi pada bumi kembali berputar di ingatannya. Bukan hanya itu, kekecewaan yang ia anggap bagai pil pahit hidup, yang diakibatkan laki-laki itu pun terputar di otaknya. Rasa yang tadinya melayang tiba-tiba terhempas kembali ke tanah. Bukan jatuhnya yang sakit, tapi luka dari jatuh itu yang menyakitinya.
Hatinya lagi-lagi lelah, perlahan menjadi patah. Tenang, hatinya belum hancur. Ia masih bisa bertahan walau harus kepayahan. Ia belum mau menyerah, ia yakin Vino akan berubah dan menjadikannya satu-satunya wanita di hidupnya. Ya, Araisy yakin.
"Aku masih bisa bertahan, Vin. Entah besok atau lusa." Lirihnya.
Beribu pengharapan terpendam dalam angan-angannya. Semoga suatu saat tak berujung kecewa untuk kesekian kali, pada orang yang sama lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Araisy [END]
Novela JuvenilLo terlalu baik sih, sampai hati aja rela lo bagiin sampai habis. Sampai lo nggak punya hati lagi! -Araisy . . . Bercerita tentang Araisy yang ceria, cerewet, dan penyabar. Juga tentang Vino yang egois dan playboy. Kuatkah Araisy menjalani hubungan...
![Araisy [END]](https://img.wattpad.com/cover/224385934-64-k792152.jpg)