Araisy 33

3.5K 200 0
                                        

"VINO!!!"

Langkah kaki orang yang memanggil Vino kian melebar seiring langkahnya yang mendekati pintu kelas Vino. Rahangnya mengeras, dan jangan lupakan tatapan mata tajamnya yang memancarkan aura permusahan.

Sepanjang koridor terus saja dia mendapat tatapan dari orang-orang yang penasaran akan kemarahannya. Namun, tak sama sekali dia pedulikan. Yang saat ini ada di fikirannya adalah menghajar Vino. Orang yang telah berani menyakiti kakaknya.

Brak

Pintu kelas yang semula masih tertutup kini telah terbuka dengan kasar akibat tendangan dari Rio. Jangan sepelekan Riondi. Meskipun masih kelas sepuluh namun nyalinya seolah sudah seperti kelas dua belas. Tak ada kata takut dalam dirinya. Tak ada yang menegur akibar perilaku lancang Rio, karena mereka tahu, bagaimana kemampuan seorang Rio. Terlebih aura hitam yang saat ini menguar dari Rio membuat mereka menelan saliva dengan kepayahan karenanya.

Tatapan mata tajamnya mengintai seisi kelas itu untuk mencari keberadaan Vino, dan.. gotcha! Dia menemukannya. Vino duduk di bangku pojok paling belakang saat ini tengah menatapnya.

Rio segera melangkahkan kakinya ke arah Vino. Tatapan tajamnya kian menusuk ke arah Vino. 'Jangan harap lo bisa bebas dari gue!' , batinnya.

Rio segera mencengkeram erat kerah kemeja Vino. Lalu menyeretnya keluar kelas. Sedangkan Vino saat ini tengah berusaha menahan luapan emosi akibat perlakuan Rio padanya. Namun, tak mungkin juga dia melawan Rio di kelas dengan kondisi masih ramai seperti ini. Bagas dan Fatha pun berusaha untuk menenangkan Rio. Namun, percuma. Rio tak akan mendengar mereka.

Saat sampai di tengah lapangan, Rio segera menghempaskan Vino. Hingga laki-laki itu sedikit terhuyung, namun tak sampai terjatuh. Dan saat ini mereka berdiri saling berhadapan dengan aura permusuhan dari masing-masing kubu.

Tanpa aba-aba Rio segera melayangkan pukulannya dan mengenai pelipis Vino. Membuat Vino sedikit terhuyung ke samping. Sungguh, tinjuan Riondi tak bisa dibilang sepele.

Saat Rio akan melayangkan pukulannya kembali, pukulan tersebut sudah lebih dulu ditangkis oleh Vino yang kemudian ingin mencoba melayangkan pukulannya pada Rio. Namun, dengan gesitnya Rio segera menghindar. Hingga keributan itu terus berlangsung. Membuat murid Nusa Bangsa mengerumuni mereka.

Sementara saat ini Anggi yang baru saja dari kantin tengah berlari tergopoh-gopoh untuk menghampiri Ara.

"ARA!"

Ara yang merasa namanya terpanggil segera mengalihkan perhatiannya dari novel yang tengah dibacanya ke arah Anggi.

"Itu... Rio, Ra.. Rio.. berantem di lapangan." Ujar Anggi dengan nafas tersenggal.

Sedangkan Ara langsung menegang di tempat. Dan tanpa banyak bicara Ara segera berlari keluar kelas menuju ke lapangan.

"Elah, gue harus lari lagi?" Tanya Anggi pada dirinya sendiri.

"Ara mau kemana? Kok buru-buru banget." Tanya Rendi yang baru saja memasuki kelas, laki-laki itu baru saja berpapasan dengan Ara yang juga baru keluar kelas namun terlihat sangat panik.

"Rio berantem."

Tanpa menunggu lama Rendi segera menyusul Ara, begitu pula dengan Anggi.

Saat sampai di lapangan, lapangan Nusa Bangsa telah dipenuhi oleh penghuninya yang berkerumun menyaksikan Vino dan Rendi. Badan mungil Ara berusaha sebisa mungki  untuk sampai ke tengah kerumunan. Gadis itu menyela kerumunan agar bisa melihat sang adik. Saat Ara sampai di tengah-tengah kerumunan itu, matanya langsung membualat, dengan matanya sendiri dia menyaksikan Vino yang tangah terbaring dengan Rio berada di atasnya tengah memukuli wajah Vino. Fatha, Bagas, dan beberapa siswa lainnya tengah berusaha memisahkan, atau lebih tepatnya menyingkirkan tubuh Rio dari tubuh lemah Vini. Namun hasilnya nihil. Rio masih tetap pada posisinya.

Ara sesegara mungkin maju ke tengah perkelahian. Namun, sayang lengannya sudah dicekal lebih dulu oleh Rendi.

"Jangan ke sana! Bahaya, Ra!"

"Iya, Ra. Lo di sini aja."

"Tapi, Rio bisa bunuh Vino, Ren, Gi." Ujarnya pada Rendi dan Anggi dengan raut cemas dan nada sarat akan kekhawatiran.

Hingga guru BK datang memecah kerumunan, dan memisahkan Vino dan Rio. Lalu membawanya ke ruang Bimbingan Konseling.

Saat Rendi dan Vino digiring menuju ke ruang Bimbingan Konseling, Ara langsung melangkahkan kakinya ke sana. Menunggu Vino dan Rio  di luar ruangan. Jujur saja saat ini ara begitu khawatir dan kesal dengan dua laki-laki itu. Berualang kali Ara menoleh ke arah pintu di sampingnya, berharap Rio dan Vino segera keluar. Rendi, Anggi, Fatha, Bagas dan tiga teman Rio hanya mampu menghela nafasnya melihat tingkah Ara yang sedari tadi mondar-mandir dengat menggigit kuku jarinya dan sesekali menoleh ke arah pintu.

"Udah kak, mending lo duduk dulu. Nanti juga Rio sama Kak Vino keluar." Ucap salah satu teman Rio.

"Tapi gue nggak bisa tenang."

Usai Ara mengucapkan kalimatnya, pintu ruang BK terbuka dan menampilkan dua makhluk dengan panampilan yang mengenaskan. Namun, keadaan Vino jauh lebih parah dari pada Rio. Rio hanya mendapat memar di beberapa bagian wajahnya. Sedangkan Vino? Kondisinya sangat mprihatinkan.

Ara segera berdiri di hadapan ke dua laki-laki itu. Dan langsung membawa keduanya untuk menuju UKS. Tanpa orang-orang yang sedari tadi menunggu di luar ruang BK bersama Ara. Karena mereka berpikir bahwa Ara, Vino, dan Rio butuh privasi mentelesaikan urusannya.
.
.
.

"Aw. Shh." Ara dengan sengaja menekan luka memar di sudut bibir Rio yang tengah diobatinya. Hingga membuat adiknya meringis merasakan nyeri dan oerih sekaligus. Sungguh kejam kakaknya ini.

Penjaga UKS yang tak lain adalah kelas sepuluh hanya mampu meringis menyaksikan kekejaman Ara. Mereka hanya mampu diam menyaksikan ketiga orang yang saat ini tengah diliputi aura dingin itu. Sebelumnya mereka sudah menawarkan untuk mengobati luka Vino. Namun dengan tegasnya laki-laki itu menolak. Dia lebih memilih berbaring menunggu Ara mengobati Rio dan meminta gadis itu untuk mengobatinya. Sekaligus ingin modus agar dekat-dekat dengan Ara.

"Lo niat ngobatin gue nggak sih?!"

Ara langsung berdecak kesal mendengar syara adiknya. Sungguh saat ini dia diliputi oleh emosi yang ingin segera diluapkannya. Sudah diberi tahu bukan? Ara tidak suka melihat adiknya ini terluka.

"Ngapain pakai berantem segala?! Kaya anak kecil! Bocah tau nggak?!" Ujar Ara menggebu-gebu dengan tangan yang masih lincah mengobati luka Rio.

"Gue tuh belain elo dari cowok brengsek nggak betperasaan kaya mantan lo."

Vino yang merasa tersindir langaung menatap Rio dengan sinis. Namun, dia juga tak bisa mengelak karena apa yang dikatakan Rio memang benar.

"Bodo amat, intinya sekarang lo luka. Dan lo bikin gue repot."

"Bilang aja khawatir apa susahnya sih?"

Ara langsung saja menekan luka Rio kembali dan membuat adiknya meringis untuk kesekian kalinya. Ara memang khawatir pada Rio. Namun, Ara kan gengsi untuk menyampaikannya.

Araisy [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang