Sesosok laki-laki kini tengah melangkah menyusuri koridor sekolahnya. Senyumannya terus mengembang, membuatnya semakin tampan. Jangan lupakan sebuah kotak bekal dan susu kotak rasa cokelat yang berada di tangannya. Ia sengaja membawa makanan kesukaan mantannya, yaitu nasi goreng seafood. Ara, suka nasi goreng seafood selain spageti carbonara dan chesse cake. Vino sudah membuat ini tadi pagi dengan bantuan melihat di youtube.
Vino sengaja melakukan ini agar Ara bisa luluh lagi padanya. Vino membuatnya sendiri dengan penuh perjuangan. Bagaimana tidak? Vino yang biasanya bangung siang, tadi harus bangun sangat pagi untuk membuat nasi goreng kesukaan Ara. Vino yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan soal masak memasak harus merasakan kerepotan dalam membuat makanan ini. Bahkan tadi jarinya sempat terfores pisau saat memotong bawang, dan sempat teekena wajan yang panas mengakibatkan jarinya sedikit melepuh. Tapi, tidak apa-apa. Yang penting saat ini adalah mendapatkan Ara kembali.
Vino telah sampai di depan kelas sang mantan. Senyum tak pernah luntur dari bibirnya, membayangkan raut wajah Ara memakan masakannya. Semoga Ara suka dengan nasi goreng buatannya.
Laki-laki itu segera masuk ke dalam kelas yang lumayan sepi karena waktunya istirahat. Hanya ada beberapa orang yang tinggal di dalam kelas. Obsidiannya mengintai penjuru kelas, setiap sudut tak lupit dari perhatiannya, dan.... gotcha! Itu dia gadis yang dia cari. Namun, naas. Si mantan terindahnya sedang tertawa sangat bahagia bersama laki-laki lain. Jangan lupakan adegan menyuapi sebungkus roti.
Rendi tengah menyuapi Ara, dengan sesekali melontarkan lelucon hingga membuat Ara tertawa. Jangan salah paham! Ara sedang menyelesaikan catatannya, membuatnya tak sempat ke kantin. Lalu Rendi yang memang menaruh perasaan pada gadis itu kembali ke kelasnya sehabis dari kantin untuk memberi gadis pujaannya makanan. Rendi tak akan membiarkan Ara kelaparan. Namun, memang dasarnya gadis itu keras kepala. Disuruh untuk makan namun, malah selalu berkata 'nanti'. Membuat Rendi kesal hingga akhirnya memaksa gadis itu untuk mekan dengan menyuapinya.
Vino segera melangkah mendekati dua orang yang tengah asik dengan dunianya.
"Ara." Panggilnya pada gadis yang sibuk mencatat.
Panggilan itu membuat atensi Ara dan Rendi beralih kepada Vino.
Ara hanya menatap datar. Sedangkan Rendi sudah menatap tajam. Namun, Vino tidak peduli. Fokusnya hanya untuk Ara sorang.
"Ini." Ujarnya sambil menyerahkan kotak bekal dan susu kotak yang ada di tangannya kepada Ara.
"Apa?" Ara hanya sebatas bertanya tanpa berminat mengambilnya.
"Nasi goreng seafood, sama susu kotak. Kesukaan kamu." Jawab Vino dengan senyum yang mengembang, berharap Ara segera menerima.
"Gue lagi makan. Jadi lo nggak perlu repot-repot ngasih nasi goreng itu buat gue. Kenapa nggak lo kasih aja ke pacar lo yang lain?!"
"Aku mau kasihnya ke kamu. Lagian aku udah nggak punya pacar. Sekarang lagi fokus ke mantan, pingin balikan soalnya." Ujar Vino dengan nada menggoda keoada Ara.
Ara hanya diam tak menanggapi. Merasa jengah dengan Vino. Walaupun jujur Ara sesikit terkejut dengan fakta Vino sudah putus dengan para pacarnya.
"Ara lagi makan makanan yang gue kasih. Percuma lo ngasih dia makan kalau dia udah kenyang! Dan siapa yang mau lo ajak balikan? Araisy? Atau mantan yang lain? Mantan lo kan BANYAK." Ucap Rendi dengan sinisnya.
Hal itu membuat emosi Vino memuncak. Namun, tidak mungkin Vino menghajar Rendi di sini. Terlebih ada Ara, yang ada nanti Ara bukannya mau belikan dengannya, malah semakin benci dengan Vino.
Akhirnya Vino memilih tak menanggapi. Lebih baik dia membujuk Ara untuk mau memakan nasi goreng buatannya. Itu lebih berfaedah.
"Ra, terima ya."
"Lo liat nggak sih gue udah makan?!"
"Ra, please terima. Aku mau kamu coba, dikiiit aja."
"Nggak mau, Vin!"
"Please, terima. Aku mohon Ara." Ujar Vino tetap berusaha agar Ara mau menerima makannnya. Tangnnya kini sudah menggenggam tangan Ara untuk menerima kotak bekal itu.
"Apa sih, Vin?! Gue nggak mau!"
"Ra, terima please. Aku udah buatin buat kamu susah payah."
Jujur Ara sangat risih dengan Vino. Bahkan seluruh murid yang masih ada di kelas sampai menyaksikan dirinya dan Vino. Laki-laki di depannya benar-benar membuatnya emosi.
"Gue bilang nggak! Ya enggak!" Ujar Ara dengan keras. Berusaha mendorong kotak bekal itu.
Namun, sangat jauh dari prediksi Ara. Ara ingin kotak itu tetap berada di tangan Vino.
Suasana mendadak hening, kotak bekal itu terjatuh di lantai kelasnya. Membuat nasi goreng itu berceceran di sana. Sungguh, Ara bukan bermaksud mau membuanya. Ara hanya tidak mau menerimanya.
Vino hanya diam menatap nasi goreng yang dia buat dengan susah payah itu kini sudah tak berbentuk lagi. Vino kecewa, usahanya tak dihargai.
Vino menatap Ara dengan senyum mengembang. Namun, mata itu memancarkam sakit di saat bersamaan.
"Yah jatuh. Maaf yah, Ra. Aku maksa kamu. Harusnya aku ngerti kalau kamu nggak mau." Ujarnya lirih.
Namun, bisikan dalam jiwanya justru tak sinkron dengan kekecewaannya. Bisikan itu berkata bahwa itu salahnya yang sudah memaksa Ara. Membuatnya bukannya marah, namun justru meminta maaf.
Sedangkan Ara diam, merasa bersalah. Ara merasa dirinya keterlaluan. Iya, dia tidak sengaja. Namun, jiwanya menyorakinya bahwa dia bersalah.
"Sorry." Ujar Ara dengan nada penuh penyesalan.
Tangannya berusaha menggapai Vino. Namun, laki-laki itu menjauh beberapa langkah.
"Bukan salah kamu. Aku yang maksa. Kalau gitu aku pergi dulu. Kamu lanjutin makan roti yang Rendi beli. Aku pergi dulu."
Lalu laki-laki itu segera pergi meninggalak kelas Ara. Membawa rasa kecewa yang besar baginya. Namun, Vino tak mau menyerah. Dia ingin Ara kembali.
Di sisi lain, Ara hanya menatap nanar nasi goreng dan susu kotak yang tercecer di lantai. Ara tahu Vino membuatnya susah payah. Ara melihat luka di jari pemuda itu. Sangat jahat bukan dirinya?
"Gue jahat banget yah, Ren?"
"Nggak, Ra. Lo nggak sengaja kok. Lagian ini belum seberapa dari rasa sakit lo akibat perbuatan Vino."
Perkataan Rendi seolah mengingatkannya kembali akan luka hatinya. Vino sudah melukainya sedemikian rupa. Luka yang tadi sempat tertutupi rasa bersalah kini kembali terbuka. Luka itu kembali menjelma memjadi rasa benci yang semakin lama semakin mengakar di hatinya. Benar! Tadi belum seberapa dari luka yang dia terima.
KAMU SEDANG MEMBACA
Araisy [END]
Teen FictionLo terlalu baik sih, sampai hati aja rela lo bagiin sampai habis. Sampai lo nggak punya hati lagi! -Araisy . . . Bercerita tentang Araisy yang ceria, cerewet, dan penyabar. Juga tentang Vino yang egois dan playboy. Kuatkah Araisy menjalani hubungan...
![Araisy [END]](https://img.wattpad.com/cover/224385934-64-k792152.jpg)