Part 15

7.7K 1K 7
                                        

Kelimabelas :

Keesokan paginya Dasha terbangun dan baru menyadari ternyata ia tidur cukup lama, apa mungkin ini efek sihir itu? Ah sudahlah, ia sudah tidak mau memperdulikan terlalu dalam masalah sihir. Kini Dasha mencoba bangun dari ranjangnya dan tanpa sengaja pandangan matanya melihat banyaknya gaun yang sudah dirapihkan dan siap dimasukan ke-tas besar. Apa ia diusir? Dasha berpikiran seperti itu, tapi tak mungkin. Untuk menjawab pertanyaannya itu,  Dasha langsung mencari Abigail dengan memanggil nama pelayannya itu. Beberapa panggilan, akhirnya Abigail datang dengan pakaian tidak seperti biasanya sehingga pikiran Dasha mengenai ia diusir itu menjadi semakin kuat.

"Abi, apa kita benar diusir?" tanya Dasha. Abigail terkekeh mendengar pertanyaan Nonanya, "Tidak Nona, pendeta tua mengutus Nona untuk kembali ke mansion Marquis karena kuil sudah tidak aman lagi setelah kejadian Nona kemarin." jawab Abigail, Dasha pun mengangguk paham.

Setelah mendengar jawaban Abigail dan memastikan bahwa ia benar tidak diusir akhirnya Dasha membersihkan badannya dan segera bersiap kembali ke mansion. Berbicara mengenai mansion Marquis, Dasha menjadi penasaran dengan kedua orangtua Dasha Odelia seperti apa mereka, sungguh Dasha sangat penasaran.

Tak butuh waktu lama gadis itu akhirnya siap dan tidak menyangka saja jika ia dijemput oleh kereta kuda yang dikirimkan Marquis Bryony. Ternyata pasangan Marquis masih mengingat putri mereka, karena Dasha pikir pasangan bangsawan itu tidak memperdulikan lagi putrinya. Ya, lihat saja selama Dasha sudah masuk kedalam dunia asing ini pasangan suami-istri itu tidak pernah menengok putrinya. Baiklah, mungkin kita akan tau seperti apa mereka nantinya, batin Dasha lalu menaiki kereta kuda itu.

Perjalanan yang ditempuh cukup lama tapi tidak sampai seharian dan kali ini Dasha cukup curiga dengan kereta yang ia tunggangi ini. Ya, walau gadis itu belum sepenuhnya bisa menguasai sihir sucinya tapi ia tau betul jika kereta ini diberi pelindung. Mungkinkah mereka takut jika Dasha terkena sihir hitam lagi? pikir Dasha kala itu.

Asik memikirkan hal itu, tanpa disadari mansion Marquis sudah terlihat.

Besar ya, batin Dasha saat mulai masuk kepekarangan mansion

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Besar ya, batin Dasha saat mulai masuk kepekarangan mansion.

Para pelayan dan seorang lelaki tua yang sudah Dasha pastikan adalah kepala pelayan datang menyambut. Mereka langsung memberi hormat kepada Nona muda mereka yang sudah lama sekali tidak menginjakkan kaki ke mansion ini.

"Selamat datang Nona." sambut kepala pelayan, Dasha tersenyum.

Ditengah sambutan itu Dasha mendengar suara seseorang wanita yang berteriak dari dalam memanggil namanya, lalu semakin lama semakin besar dan muncullah sosok wanita paruh baya yang sukses membuat mata Dasha membulat sempurna, "Ibu." gumamnya pelan memperhatikan wanita itu menuju dirinya dan langsung memberikan pelukan.

"Akhirnya kau bisa kembali sayang, kau tau betapa gilanya Ibu membiarkan kau pergi kekuil suci disaat umurmu 10 tahun itu hanya karena kau memiliki sihir suci hiks hiks.." ucap wanita itu sambil terisak.

Dasha dengan canggungnya membalas pelukan dari wanita itu. Ia masih memproses kejadian ini didalam otaknya, kenapa wajah Ibu Dasha Odelia sama persis dengan wajah Ibunya? Jangan bilang Ibunya juga masuk kedunia asing? Astaga itu tidak mungkin, tunggu, jika Ibunya mirip apakah Ayahnya...

"Kau kembali juga putriku."

Deg

Dengan cepat Dasha menoleh kesumber suara. Astaga tidak mungkin! Bagaimana bisa kedua orangtua mereka sama!

"A.. ayah?" panggil Dasha, lelaki berkumis itu tersenyum hangat pada putrinya dan sedikit terharu mendengar panggilan Dasha. Ya, bagaimana lagi ia sudah lama tidak dipanggil seperti itu sama gadis kecilnya. Dahulu, ingin sekali pasangan Marquis mengunjungi Dasha kekuil tapi tidak diperbolehkan oleh pendeta tua sialan itu dengan alasan Dasha harus fokus dan tidak memikirkan rumahnya, alhasil mereka tidak bisa bertemu dengan putrinya hampir 10 tahun.

---

Drama saat Dasha tiba itu sudah berakhir. Kini keluarga kecil itu tengah berbincang ringan sambil menikmati pemandangan taman yang ada di mansion itu. Sejujurnya Dasha masih agak bingung dengan wajah orangtua Dasha Odelia dan dirinya itu sama, tapi itu malah bagus, ya, setidaknya Dasha akan lebih kerasan tinggal didunia asing ini sambil menyelesaikan tugasnya. Dilain itu, Dasha juga agak aneh memikirkan apakah memang bangsawan disini menyediakan kursi kosong yang tak ditempati dan menyediakan sebuah cangkir teh didepan bangku kosong itu.

Karena merasa ini begitu janggal, Dasha pun memberanikan diri bertanya, "Ibu, apakah akan ada yang bergabung dengan kita?" Marcioness tersenyum mendengar pertanyaan putrinya, ia pun menjawab, "Benar sayang, ia akan bergabung dengan kita. Ia juga tadi yang memeriksa kereta kudamu dan memberikan pelindung sihir."

Hah? Siapa dia?

Oke, sekarang pikiran Dasha tidak jauh dari tiga keturunan Dewa. Jadi siapa diantara mereka bertiga?

"Salam Marquis Bryony, maaf jika saya datang terlambat."

Suara itu membuat Dasha berhenti dari termenungnya, ia melihat sosok sang empunya suara tadi, mungkin orang itu yang dimaksud Ibunya.

"Tidak masalah Tuan Duke, kami juga baru mulai berbincang." sahut Tuan Marquis sembari menggiring Kenneth duduk ditempatnya, didepan Dasha.

Ya, lelaki yang dimaksud Marcioness adalah Kenneth Bartlett. Lelaki yang mendapat julukan gunung es itu tampak berbeda sekarang, entahlah saat bersama Dasha ia sedikit berbeda walau aura dinginnya masih terasa.
Kenneth datang ke mansion Marquis dengan pakaian yang sangat rapih, tapi tunggu, bukankah setiap hari lelaki itu berpakaian rapih?

"Terima kasih sudah memeriksa dan memberikan sihir pelindung untuk keselamatan Dasha hari ini Duke." kata Marquis Bryony. Kenneth nampak tersenyum walau ia sedang menyeruput teh hangat itu, senyumnya terlihat jika kita memperhatikannya. "Tidak masalah Tuan Marquis, ini sudah menjadi tugasku untuk memastikan keselamatan calon Duchess di mansion Duke Bartlett." ungkap Kenneth dengan santainya.

uhukk.. uhukkk

Jika kalian bertanya siapa yang terbatuk-batuk itu, jawabannya adalah pasangan Marquis. Suami-istri itu tersedak air teh disaat mendengar ungkapan dari Kenneth. Ya, wajar karena yang tau isi pesan hanya pendeta tua, dan orang yang bersangkutan, ya memang ada beberapa yang bocor tapi untuk kalangan bangsawan lain atau para rakyat, mereka belum tau isi pesan itu.

"Ma... maksud Tuan Duke? Apa Tuan Duke ingin bertunangan dengan putri kami?" tanya Marcioness memastikan.

Lagi-lagi lelaki berambut perak itu tersenyum membuat Dasha tak tahan untuk ikut tersenyum saking tampannya. "Bukan tunangan saja Marcioness, tapi—" Kenneth menggantung jawabannya, lalu ia menoleh kearah Dasha, tersenyum, "Menikah." sambungnya yang masih terus menatap Dasha dengan tatapan yang hangat serta tulus.

Pasangan Marquis itu terlonjak kegirangan. Hadeh, ini baru satu. Bagaimana jika duanya lagi datang melamar juga? Apakah pasangan Marquis akan langsung pingsan jika mengetahui itu?
Bukan pasangan Marquis saja yang menunjukkan ekspresinya saat mendengar perkataan Kenneth. Ya, Dasha pun sama, walau ia tau yang sebenarnya tapi entahlah ia setiap hari seakan tersihir oleh ketiga lelaki ini. Astaga Tuhan kuatkan Dasha!

Sehabis obrolan yang penuh kejutan tadi, kini mereka berempat tengah mengobrol masalah pesta harvest yang diselenggarakan istana besok. Awalnya Kenneth meminta izin untuk membawa Dasha bersamanya sebelum kedua rivalnya itu bertindak, namun sayang, pasangan Marquis menolak karena mereka ingin membawa Dasha pergi bersama mereka. Ya, mau tak mau Kenneth harus mengerti.

Pesta harvest yang didatangi semua para bangsawan akan segera tiba. Apakah Dasha siap untuk bertemu secara resmi dihadapan para bangsawan? Mengingat pesta ini adalah pesata pertama Dasha Abella sekaligus Dasha Odelia.

---

the last descendants

jaga kesehatan kalian para readers novel ini yang baiq hati dan tidak sombonkk ❤❤

The Last Descendants Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang