Part 38

5.2K 751 21
                                        

Tiga puluh delapan :

—Ruang utama mansion Duke, terlihatlah dua lelaki dewasa yang kini tengah berbincang serius. Disana tidak ada satu pelayan pun karena memang kedua lelaki itu sedang membicarakan hal yang selama ini mereka cari. Dari obrolan mereka itu terukirlah di wajah mereka yang tampak sangat serius, sudah hal biasa melihat kening mereka berkerut saking memikirkan hal yang rumit ini.

"Seharusnya wanita itu sudah sampai ketahap semi sempurna bukan? Tapi kenapa tidak ada hal-hal yang mencurigakan sampai sekarang?" buka Kenneth, jangankan Kenneth, Lucas saja bingung tujuh keliling. Setelah Dasha hamil pertama kalinya, ia memutuskan pergi sampai beberapa tahun demi mencari tempat persembunyian Effie. Tapi nihil. Ia tidak bisa merasakan apa-apa, memang pada intinya hanya Dasha yang bisa merasakannya.

"Bukankah ini terlihat aneh? Apa ada sesuatu yang terjadi pada wanita itu?" Lucas berpikir, mungkinkah ini ulah Leon? Ya, apa seharusnya ia tanya pada kaisar itu? Tapi bagaimana tanggapan Kenneth, selama ini Lucas diam-diam ke istana untuk memberitahukan keadaan Dasha tapi tidak untuk tempat dimana Dasha berada.

Leon, lelaki itu sangat sulit ditebak. Tapi Lucas yakin Leon memiliki rencana yang sengaja ia lakukan sendiri tanpa memberitahukan pada mereka, ya, ini sifat Leon.

"Aku akan pergi." putus Lucas tapi langsung dicegah dengan perkataan Kenneth, "Mau kemana kau?"

Sialan, Lucas tidak mungkin memberitahu Kenneth. Jika lelaki berambut perak itu tau ia akan ke tempat Leon, ah entahlah bagaimana tanggapannya itu. "Mencari lagi." bohongnya.

Lucas tidak tau jika bohongnya itu malah membuat Dasha yang tidak sengaja datang ke ruang utama itu mendengar dan menawarkan diri, "Aku bisa membantumu."

Arah pandangan kedua lelaki itu kini mengarah pada sosok pemilik suara tadi, "Mari Lucas, aku sekarang benar-benar merasa sangat sehat dan aku tentunya bisa dengan cepat mendeteksi dimana tempat persembunyian Effie." ucapnya semangat.

Ya, mau bagaimana lagi. Melihat semangat Dasha yang berkobar seperti itu mau tak mau Lucas harus benar mulai mencari lagi tidak ke rencana awalnya yaitu pergi ke istana.

---

Sedangkan di istana tempat Leon Istvan berada, tampak seperti biasanya. Tidak ada yang spesial ataupun hal yang buruk disana. Malah sekarang suasana hati Leon tampak bahagia, lelaki itu untuk pertama kalinya bersantai di taman istana dengan secangkir minuman dan juga beberapa kue kering. Sesekali setelah ia menyeruput minumannya itu, senyuman kepuasaan terukir dibibirnya.

"Ramon, apa seharusnya aku menjemput Ratu dan pangeran sekarang?" tanyanya pada Ramon yang berdiri disampingnya.

Lelaki kesatria itu agak bingung, jujur saja sudah lama ia bekerja untuk Leon tapi tetap saja ia belum paham jalan pikiran Tuannya itu. Apa sebenarnya yang Leon rencanakan? Oh astaga, sungguh ini membuat Ramon pusing sampai ia tidak bisa tidur untuk memikirkan pertanyaan yang menghantuinya selama tujuh tahun ini.

"Ya... Ee.. Yang Mulia seharusnya berpikir seperti itu tujuh tahun yang lalu." jawab Ramon, mencoba beranikan diri.

Leon terkekeh, tapi mendengar kekehan Leon itu membuat Ramon menjadi merinding.

"Kau ini masih belum paham juga, Hhhh sudahlah itu akan terjadi nanti, bukankah seharusnya kita menyiapkan sesuatu yang jelas akan datang sebentar lagi." Ramon terdiam, bekerja dengan Leon memang sangat membuat otak berpikir terus menerus dan hanya Ramon yang kuat akan hal itu.

Seperti seorang peramal, perkataan Leon menjadi nyata. Belum kering bibirnya berucap tadi, salah satu pelayan datang memberitahukan jika Effie Collin datang ke istana.

"Salam Yang Mulia." sapa wanita itu, lemas.

"Kau terlihat buruk Nona Collin. Sepertinya kau sudah bekerja sangat keras namun hasilnya sia-sia." sindirnya dengan tatapan merendahkan.

Effie tampak terkejut, bagaimana Leon tau. Apa Leon yang melakukan semua ini? Bukankah ia masih berada dalam pengaruh sihirnya?

"Kau, kenapa?" lagi-lagi Leon terkekeh melihat betapa bodohnya Effie sekarang ini. Penampilannya yang sekarang persis seperti nenek sihir itu benar-benar cocok dengannya.

"Kenapa apa? Jangan bilang kau percaya jika aku selama ini terpengaruh sihir murahanmu? Apa kau menyepelekan keturunan Dewa dan juga nama keluarga Istvan? Hei wanita gila, jika aku terkena sihirmu dengan mudah. Nama belakangku bukanlah Istvan, kau tau kan bagaimana sifatku Effie Collin?" ujar Leon, tegas.

Effie yang sangat lemas, kini menjadi tambah lemas. Saking terkejutnya ia sampai terduduk dibawah, bagaimana bisa ia begitu percaya jika Leon terkena sihirnya dengan mudah? Astaga sangat bodoh! Ia baru menyadari Leon saja meminum seteguk ramuan itu, itupun tidak tau apakah Leon menelannya atau tidak. Sial, sial, sungguh sial.

"Ah, sebelum kau pergi dari kekaisaran ini sepenuhnya. Aku akan mengatakan hal yang sesungguhnya agar kau tidak kepikiran sampai mati. Sebenarnya, alasan kenapa kau tidak bisa menyatukan sihir itu adalah karena aku,"

jderrr

Jadi benar, ini karena Leon? Lelaki yang ia cintai.

"..., kau memang tidak tau atau aku yang sangat cerdas ya? Hahahah, tanpa kau sadari aku memberikan sihirku untuk menyegel inti sihir keturunan Iblis yang ada didalam jantungmu. Ya memang tidak bisa dilakukan sekali saja, jadi aku harus berkorban juga. Tak masalah bagiku apalagi saat melihatmu sekarang yang menandakan sihirku sudah menyegel sepenuhnya didalam jantungmu." sambung Leon dengan amat jelas.

"Bagaimana kau melakukannya Leon?! Bagaiamana sialan!" pekiknya sekuat tenaga.

"Ciuman."

Mata Effie membulat sempurna mendengar itu. Benar, ciuman, astaga pantas ia tidak merasakan apa-apa. Disela bibir mereka berpautan itu Leon mengalirkan sihirnya kedalam. Aaakhh, sungguh sial. Hancur semua rencana yang sudah disusun rapi olehnya, pantas saja ia gagal menyatukan sihir.

"Effie Collin melakukan pelanggaran yang sangat besar, ia mencoba membunuh ratu, menggunakan kekuatan sihir hitamnya untuk mempengaruhi oranglain. Dengan ini kaisar dari Kekaisaran Niels menyatakan, keluarga Collin dihapuskan dari negeri ini. Semua harta benda milik keluarga Collin akan disita dan satu-satunya keturunan keluarga Collin akan diusir dari sini." kata Leon diakhiri senyum kemenangan. Tanpa lama lagi, para pengawal datang dan menyeret Effie Collin yang tak bertenaga itu keluar dari istana.

Melihat semua yang terjadi didepan matanya, kini Ramon tau apa rencana Leon. Memang rencananya ini sangat bagus, walau sukses menyakiti hati wanita yang sangat ia cintai.

"Jadi itu alasanmu mengusir Dasha, agar ia tidak tersentuh oleh Effie Collin." masuk Kenneth dari balik tiang yang tak jauh dari tempat Leon singgah sekarang.

"Ternyata kau, kupikir tikus." balas Leon menyeruput minumannya santai.

"Maafkan aku, tapi apapun rencanamu itu tetap saja salah. Kau rela melakukan semua itu pada Dasha yang tengah hamil anakmu."

Semuanya terdiam, sebenarnya juga Leon tidak mau melakukan ini tapi demi kelancaran rencana dan juga keselamatan Dasha apa boleh buat? Karena saat itu menurut Effie hanya Dasha seorang yang tau siapa Effie sebenarnya. "Kau tidak akan tau, karena kau bukan aku. Percuma juga jika dijelaskan, karena dimata semua orang yang tau kejadian tujuh tahun lalu itu aku adalah penjahatnya." jelas Leon.

"Minta maaflah pada Dasha, mungkin ia akan mau kembali ke istana." usul Kenneth diangguki Leon.

Mengusir Effie dari kekaisaran juga bukanlah akhir dari semuanya. Jika bukan memandang keluarga Collin dulu juga berkontribusi dalam membangun kekaisaran ini, Leon pasti sudah memberikan hukuman penggal untuknya.

Ah, sudahlah untuk saat ini ia harus memikirkan cara untuk membawa Dasha kembali ke istana.

---

the last descendants

The Last Descendants Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang