Aldebara duduk termenung di atas tempat tidurnya. Ia seolah tak mempunyai harapan lagi kepada semesta. Al berpikir, hidup sangat tidak adil kepadanya. Satu persatu yang ia punya di ambil oleh yang kuasa. Bahkan mata yang dulu ia gunakan untuk melihat betapa kerasnya hidup kini juga di renggut. Entah kesalah apa yang ia perbuat hingga ia mengalami semua ini. Pintu rumah kamar Aldebara sedikit berdecit menandakan ada seseorang yang datang.
"Siapa?"
"Aku, Sasa"
"Ngapain lo kesini, kita udah gak ada apa-apa" ujar Aldebara dingin.
Sasa tersenyum simpul, ia menarik kursi di sebelah Aldebara kemudian duduk di sana "Aku datang kesini sebagai teman kamu. Bukan sebagai mantan kamu. Lupain semua perasaan yang pernah aku paksain untuk kamu. Bersikaplah seolah gak ada benci dan cinta di antara kita" ujar Sasa lalu menaruh tangannya di atas tangan Aldebara.
Aldebara diam memandang lurus kedepan. Entah dia yang jahat atau Sasa yang berubah. Jujur Al tersentuh mendengarnya seolah ia yang jahat telah menjadikan Sasa sebuah pelarian dari Chika.
"Maafin gue sa" ujar Aldebara memelankan suaranya.
Sasa terkekeh "Buat apa? Kamu gak salah kok. Dari awal emang aku yang salah udah pernah maksain perasaan ke kamu. Aku ngerti Al, cinta gak bisa di paksain"
"Makasih udah ngerti"
"Aku yang makasih. Karena walau cuma sebentar, makasih udah ngasih aku kesempatan buat ngerasain gimana jadi pacar seorang Aldebara Lavinio Abraham. Itu bakal jadi kenangan yang terindah dalam hidup aku" ujar Sasa dengan senyum miris. Namun ia segera menggelengkan kepalanya, ia sudah ikhlas dengan semua ini.
"Eh iya, ini aku bawain bubur ayam buat kamu. Makan yah"
"Gue gak laper"
Sasa menghembuskan napasnya "itu mulut kamu yang gak laper. Tapi perut kamu udah laper banget tuh. Ayo cepet, aku bantu suapin"
"Gue masih bisa. Sini" ujar Aldebara. Sasa mengangguk dan memberikan mangkok yang ia pegang. Dengan pelan Al menyuap bubur itu ke dalam mulutnya, ia masih sangat kesusahan sekarang.
Saat menyelesaikan suapan pertama, Al tak sengaja mendengar kembali decitan dari arah pintu. Ia menaruh sendoknya ke dalam mangkuk dengan pelan.
"Al ada yang mau ketemu elo" ujar Azam. sekarang ia dapat mengetahui orang-orang hanya dengan suaranya saja.
"Siapa?"
"Polisi"
Kedua alis Aldebara menyatu, mengapa polisi mencarinya? "Selamat pagi saudara Aldebara" sapa polisi itu ramah namun tetap beribawa.
"Pagi"
"Kami dari pihak kepolisian yang bertugas menyelidiki kasus pembunuhan bapak Gergio ingin menyampaikan informasi terbaru..."
"Apa pak?" Tanya Aldebara tak sabar.
"Kami telah menangkap orang yang telah melakukan pembunuhan berencana terhadap anda. Dia adalah Johan. Malam itu, dia berhasil kabur dari penjara dan berniat ingin melakukan pembunuhan terhadap anda. Namun sepertinya ia salah sasaran dan malah mengenai tuan Gergio" jelas polisi itu panjang lebar.
Baik Azam, Fadil dan Sasa terkejut mendengarnya. Apalagi Aldebara, ia mengepalkan tangannya hingga membuat urat-uratnya terlihat "Bangsat!!" Desis Al tajam. Sasa berusaha menenangkan Aldebara dengan mengusap bahunya.
"Tapi anda tenang saja, kami sudah mengamankan Johan dan akan mengawasinya dengan lebih ketat lagi"
Aldebara tak menjawab, ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Benar apa yang ia pikirkan, harusnya ia saja yang meninggal bukan Gergio. Tapi kenapa ayahnya mau mengorbankan nyawanya hanya untuk dirinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
CHIKAL [COMPLETED]
Teen Fiction[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA!!] [PLAGIAT DILARANG MENDEKAT] Mengapa saat dewasa kita menggunakan pulpen sebagai pengganti pensil? Karena agar kita mengerti, betapa sulitnya menghapus sebuah kesalahan. Walau telah berhasil di hapus, tetap saja akan m...