"Aaaaaaaaaa....." teriak Chika lantang di puncak bukit. Kemudian dia tersenyum lega, jujur tempat ini indah sekali. Rerumputan hijau menyelimuti bukit tersebut. Banyak pohon rindang yang berdiri kokoh hingga membuat udara menjadi sangat segar. Dari ujung bukit itu mereka dapat melihat kota yang begitu padat dan juga jalan yang mereka lewati ketika menuju ke sini.
"Bagus kan tempatnya?" Tanya Al yang masih duduk di atas motor.
Chika mengangguk antusias "kok lo bisa tau tempat-tempat bagus sih?"
Al turun dari motonya, ia berdiri di samping Chika dengan menaruh tangan di saku celananya "Gue itu tipikal orang yang suka menyendiri kalo lagi ada masalah. Jadi gue suka ngejelajahi tempat terus banyak deh ketemu tempat bagus yang belum banyak di ketahui orang" jelas Al panjang lebar dengan pandangan lurus ke depan.
Chika mengangguk mengerti "berati masih banyak tempat bagus lagi yang lo tau?"
"Banyak, lo mau gue tunjukin lagi?"
Sekali lagi Al mengangguk antusias "Mau dong, sumpah disini tempatnya indah-indah banget. Di kota gue dulu gak banyak tau tempat sekeren ini"
Al tersenyum simpul, ia memutuskan untuk tidur terlentang di rerumputan hijau yang ada disana. Ada satu pohon yang begitu rindang di samping mereka hingga tidak membuat mereka terkena cahaya matahari secara langsung. Karena meresa lelah Chika pun mengikuti Al yang berbaring sempurna sembari menatap langit biru yang sedikit mendung.
Diam-diam Chika memperhatikan wajah Al yang tenang. Sedikit demi sedikit mengenal Al ternyata dia tidak semenyeramkan yang dia pikirkan. Bahkan wajahnya tampak begitu tenang ketika sedang tidur.
"Gitu banget ngeliatinnya" ujar Al dengan mata terpejam.
Chika yang tertangkap basah, segera memalingkan pandangannya "apaansih enggak" ujar Chika mengelak. Ia menatap kosong langit biru dengan pikiran yang entah kemana. Al yang tadinya tersenyum simpul kini menoleh ke arah Chika. Ia memperhatikan raut wajah gadis itu yang berubah menjadi murung.
"Lo kenapa ada masalah?" Tanya Al lalu mengubah posisinya menjadi duduk.
Chika yang dari tadi melamun, kini tersadar Saat mendengar Suara Al. Lalu ikut duduk di hadapan Al dengan raut wajah yang masih sama seperti tadi. Ia menghembuskan napas panjang "Gue cuma sedih aja. Temen-temen yang gue pikir akrab banget dulu, sekarang malah dengan mudah ngelupain gue"
"Kenapa sedih?" Tanya Al.
"Yah gak pernah kepikiran aja gitu. Gue aja yang udah sejauh ini masih tetep mikirin mereka, tapi dengan mudah mereka ngelupain gue" ujar Chika dengan suara parau dan mata yang sudah berlinang seakan hendak menangis.
"Hem mungkin aja nih yah, Tuhan ngejauhin lo sama orang yang udah lo anggap bagian hidup lo karena mungkin Tuhan denger apa yang enggak lo denger"
Chika menaikan sebelah alisnya bingung "maksudnya?"
"Gini deh, sekarang buat apa mikirin orang yang enggak mikirin elo? Gak ada gunanya"
"Iya. Tapi yaaa. Lo banyangin gue udah bareng sama mereka tuh lama banget" sanggah Chika lesu.
"Tapi lo masih punya orang tua yang perhatian banget kan sama lo" ujar Al.
Chika menatap mata Al, dapat ia lihat ada rasa kesepian yang begitu besar disana. Sedikit-sedikit Chika tau bahwa Al adalah sosok anak yang kekurangan kasih sayang.
"Al, lo enggak usah ngerasa kesepian deh. Kan masih ada Fadil, Azam dan gu..e mungkin. Kalo boleh sih gue mau jadi temen lo" ujar Chika ragu.
Hening. Chika menduga bahwa Al keberatan dengan ucapannya tadi. Lagian kenapa juga Chika berpikir bisa berteman dengan seorang Aldebara. Berdiri disamping nya saja tidak cocok apalagi berteman.

KAMU SEDANG MEMBACA
CHIKAL [COMPLETED]
Novela Juvenil[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA!!] [PLAGIAT DILARANG MENDEKAT] Mengapa saat dewasa kita menggunakan pulpen sebagai pengganti pensil? Karena agar kita mengerti, betapa sulitnya menghapus sebuah kesalahan. Walau telah berhasil di hapus, tetap saja akan m...