"Ikut duduk Man" ujar Al yang tiba-tiba datang dengan wajah datar dan tangan di saku celananya."Disini?" Tanya Manda.
"Hm"
"Okey" ujar Manda lalu bangkit dari tempat duduknya. Setelah Manda pergi Al duduk di tempatnya di sebelah Chika.
"Pagi tadi kemana?"
"Ya sekolah lah"
"Kok perginya cepet banget. Padahal aku ke rumah kamu jam enam pagi. Emang kamu pergi jam berapa?"
"Jam setengah enam" jawab Chika cuek tanpa menoleh ke arah Aldebara. Ia sibuk mengemasi buku-buku dan alat tulisnya untuk di masukan ke dalam tas.
Al menghembuskan napasnya kasar "Kenapa? Aku ada salah?"
"Gak ada"
"Terus?"
"Terus apa?" Tanya Chika balik.
"Kamu kenapa ngehindar dari aku?"
"Gapapa Al, lagi pengen sendiri aja. Mending kamu balik ke kelas deh. Nanti ada guru" titah Chika dengan nada mengusir.
"Aku minta maaf"
"Buat?"
"Buat apapun yang bikin kamu jauhin aku"
"Gak perlu, kamu gak salah. Aku emang lagi pengen sendiri aja"
"Tapi aku gak bisa jauh-jauh dari kamu" ujar Aldebara menatap dalam ke arah Chika.
Chik mengusap wajahnya kasar hingga naik ke atas kepala membuat rambunya berantakan "Ngerti gak sih, aku lagi pengen sendiri! Jangan ganggu aku dulu bisa?" Tanya Chika.
Aldebara diam tak menjawab, ia bungkam dengan beribu pertanyaan di kepalanya lalu ia mengangguk "Oke" jawabnya singkat lalu bangkit dan pergi dari kelas Chika.
*****
"Dari mana kamu Aldebara?" Tanya Gergio.
"Sekolah"
"Wajar sekolah pulang jam segini? Ngerasa keren kamu?" Tanya Gergio lagi menggema di ruang tamu.
"Al capek" sahut Aldebara malas untuk bertengkar dengan Gergio. Ia berjalan santai melewati Gergio yang berdiri di hadapannya.
"Udah kaya berandalan kamu, harusnya kamu sekarang mikir mau gimana ke depannya buat kuliah dimana. Atau kamu mau jadi berandalan sampai tua?"
"Jangan lupa, orang yang anda bilang berandalan ini anak anda, itu pun kalo masih ingat" jawab Aldebara menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap tak suka ke arah Gergio.
"Kalau memang kamu ngerasa anak saya, harusnya kamu nurut apa kata saya. Tinggalin dunia balapan kamu itu, fokus belajar, masuk perguruan tinggi di luar negeri, terus gantiin posisi saya"
"Ini hidup saya, tidak seharusnya anda mengaturnya"
"Aldebara!!! Papa berhak nentuin masa depan kamu. Papa cuma pengen yang terbaik buat kamu!!" Ujar Gergio dengan nada yang keras.
Aldebara tersenyum sinis "Gak semua yang terbaik menurut orang tua itu di sukai oleh anaknya. Gimana kalo anaknya punya cita-cita dan keinginan sendiri? Jangan mentang-mentang orang tua lahir lebih dulu dari anaknya terus dia seolah lebih banyak tau mana yang terbaik buat anaknya. Kita sebagai anak juga mikir, pasti kita juga pengen yang terbaik buat hidup kita ke depannya" ujar Aldebara panjang lebar kemudian ia membuang mukanya lalu pergi naik ke tangga meninggalkan Gergio.
Gergio hanya mampu mengepalkan tangannya. Kenapa sedari dulu Aldebara tak pernah mau mendengarkannya. Padahal ia hanya mau yang terbaik buat putra semata wayangnya itu. Gergio berbalik melihat foto ibu Aldebara dengan senyum miris.

KAMU SEDANG MEMBACA
CHIKAL [COMPLETED]
Teen Fiction[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA!!] [PLAGIAT DILARANG MENDEKAT] Mengapa saat dewasa kita menggunakan pulpen sebagai pengganti pensil? Karena agar kita mengerti, betapa sulitnya menghapus sebuah kesalahan. Walau telah berhasil di hapus, tetap saja akan m...