39 - Exchanging Letters

357 50 0
                                        

Waktu telah dilewati terlalu cepat rasanya bagi Jiang Cheng.

Kegiatan setiap hari di Lotus Pier masih berjalan sama baginya.

Laporan serta evaluasi rapat juga dia dapatkan. Dokumen penting diperiksa dan diperbaiki seperti biasa. Tapi ada satu tambahan rutinitas yang ia hadapi.

Menulis surat.

Seperti yang digagaskan, kedua rekan tersebut mulai surat menyurat setelah festival musim gugur kala itu. Masalahnya, Lan Xichen yang mengirimkan terlebih dahulu surat untuk dibalas. Bahkan sampai dituliskan bahwa kalau Jiang Cheng tidak membalas, maka dia akan merasa sangat sedih.

Bagaimana bisa Jiang Cheng tidak memutarkan mata dengan malas, sampai diminta begitu.

Diancam seperti itu bukanlah ketakutannya. Namun dengan apa yang dituliskan, ada kemungkinan pria Lan itu akan benar-benar merepotkannya.

Yah, sebenarnya tulisan Jiang Cheng tidak terlalu kaku dan tidak terlalu tipis juga. Hanya saja, ia bukanlah seorang romantika. Bagaimana mungkin bertukar surat dengan frasa sulit dan puisi halus?

Sudah beberapa kali dia menggulung kasar kertas yang dicoret karena tak menemukan kata yang pas. Setelah percobaan kelima, baru dirinya mampu mengirimkan surat yang telah ia tulis dengan benar untuk membalas surat pertama dari Lan Xichen.

Pada akhirnya, ia membalas surat sampai hal tersebut menjadi rutinitas dalam kegiatan di hari-harinya.

Kadang yang mereka diskusikan adalah soal pekerjaan, informasi terbaru, hingga tukar kabar mengenai keadaan atau sekedar bertanya hal tak penting.

Di seberang wilayah lain yakni Gusu, Lan Xichen sedang menulis surat yang akan ia kirimkan sebelum meditasi harian. Dengan disingsingkannya lengan jubah, ia menulis dengan senyuman tipis.

Tertulis dengan rapi di kertas gulungan alias surat terakhirnya:

[ Bangun di pagi hari ditemani kicauan burung yang entah darimana. Saya terbangun mengingat kenangan nuansa ungu bercampur aroma laut yang menyenangkan. Disini baik-baik saja. Tetap tenang dan sejahtera. Saya harap Yunmeng juga sama. ]

Tak lupa Lan Xichen membubuhkan garis hitam yang membentuk sebuah lukisan kecil. Lukisan tentang Cloud Recesses bernuansa hijau biru dan putih.

Dirinya membuka jendela dan memanggil sesuatu dengan sebuah mantera. Seekor merpati terbang mendarat di pinggir kayu jendela.

Merpati tersebut bukanlah merpati biasa. Itu adalah hasil budidaya klan Lan dalam membuat hewan pendamping serta pembantu kegiatan di Cloud Recesses. Dengan kegesitan seperti elang, besar tubuh sedikit lebih besar, berwarna putih polos dan mata kuning cerah, para merpati bisa menempuh jarak jauh. Kebanyakan dipakai sebagai pengantar pesan seperti sekarang ini.

Lan Xichen mengikatkannya di punggung merpati yang memakai pembawa surat gulungan di tubuhnya.

"Tolong kirim hingga sampai seperti biasa."

Purple Lotus DiaryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang