Kota Caiyi masih ramai di siang hari. Meski angin pertanda musim semi menerpa, namun para penduduk tidak menghentikan kegiatan untuk mengurus persiapan tahun baru.
Saat sisi jalan kota sedang ramai lancar, seorang pemuda berjalan sambil bersenandung. Tangannya penuh akan beberapa tali dari guci arak yang dibelinya. Keadaan hati sedang baik dan ia ingin segera bersantai di hari dengan sebagian awan menaungi langit.
Sedari tadi ia mencari tempat dimana akan bertemu suaminya. Setelah berkeliling sebentar, di sudut mata jernihnya menemukan yang dicari dan berlari kecil menghampiri.
"Lan Zhan! Lan Zhan!"
Panggilan nama itu membuat yang bersangkutan menoleh perlahan pada si penyeru.
Wei Wuxian berlari kecil menuju seorang lelaki serba putih ala berkabung yang tengah menunggu di atas jembatan.
Lan Wangji memperhatikan dari kejauhan hingga pemuda itu sampai di hadapan.
Senyum mengembang lebar selagi memamerkan barang beliannya.
"Lihat! Aku beli banyak, mumpung diobral!"
Lan Wangji hanya mengangguk, lalu membawakan beberapa guci arak tersebut dan mulai berjalan berdampingan.
Mereka berjalan santai untuk menikmati suasana nyaman dan asri kala bunga sekitar mulai berguguran.
Selagi begitu, Wei Wuxian berucap santai, "Kota Caiyi sangat ramai, aku sampai tidak sadar kalau sudah mau musim semi. Angin musim dingin masih buatku merinding~"
"Mn. Lain kali pakai jubah tebal."
"Lupakan soal itu, aku tinggal memeluk Lan Zhan saja sudah hangat!"
Sinar manis dari senyuman sang lelaki hanya membuat merah telinga tapi juga debar senang. Lan Wangji hanya berjalan tanpa menjawab, disusul oleh Wei Wuxian yang juga diam sejenak karena tahu apa jawabannya.
"Omong-omong, bagaimana keadaan Paman Qiren dan istrinya? Mereka baik-baik saja?"
Anggukan pertama.
"Paman Qiren masih sering datang ke pertemuan?"
Anggukan kedua.
"Benarkah demikian?"
Lan Wangji menoleh padanya, seperti mempertanyakan mengapa sang suami tak biasanya bertanya soal paman Duo Giok tersebut.
"Wei Ying."
Pemuda itu mengangkat kedua tangannya santai, "Baik, baik. Aku hanya penasaran saja. Tapi aku memang ingin bertanya soal mereka."
Mereka berjalan ke suatu tempat berteduh di bawah paviliun kota berpagar dekat sebuah pohon rindang. Wei Wuxian mendudukkan dirinya setelah membersihkan debu selagi Lan Wangji juga duduk di sampingnya.
Wei Wuxian mendesah singkat, menatap langit cerah yang agak terik mmebuat suasana jadi lembab tapi menyejukkan.
"Aku dengar kalian dari luar ruangan waktu itu. Soal bibi Lan Ruhi,"
Mendengar nama itu terucapkan, Lan Wangji perlahan melirik padanya, sebelum Wei Wuxian melanjutkan, "Aku penasaran soal latar belakang yang sesungguhnya."
Pemuda itu menyedekapkan tangan di dada, berpikir sejenak. "Dari yang kudengar, dia sudah yatim piatu sejak kecil, masuk lewat jalur bakat dan jadi guru wanita yang berprestasi dalam mengajar, lalu jatuh sakit selama tiga tahun karena penyakit pernafasan. Tapi, ada yang bilang kalau dia sempat ditemukan koma karena berhenti bernafas."
"Siapa dan darimana?" tanya Lan Wangji singkat.
"Rumor. Dari para murid wanita yang kuajak bicara saat bertemu di taman kelinci dekat pagar sekolah. Biasalah, kau tahu kalau orang-orang suka bicara, apalagi wanita. Mereka suka bergosip." Wei Wuxian mengibaskan udara dengan tangan dan melanjutkan bicaranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Purple Lotus Diary
Fiksi PenggemarCanva Cover Fanarts included in the books goes back to its respective creators! [Keseharian Jiang Cheng sebagai Pemimpin Sekte Jiang di Yunmeng berjalan seperti biasa dan normal. Sudah semestinya begitu, dan hanya itulah yang ia inginkan selain meng...
