"Apa? Kau bertengkar dengan Tuan Shen?"
Sebuah fakta yang mencengangkan bagi Jiang Cheng ketika mendengar alasan mengapa Liu Qingge nekat menempuh perjalanan hanya untuk melarikan diri dari Gunung Cang Qiong.
Dan alasannya disebabkan oleh dirinya yang bertengkar hebat dengan Shen Qingqiu, Tuan Puncak Qing Jing yang merupakan teman dekat.
Alasannya juga cukup sepele; yakni karena suatu benda yang ia berikan sebagai hadiah untuk Shen Qingqiu malah diberikan kepada Luo Binghe.
Sebenarnya adalah, Liu Qingge ingin memberikannya secara rahasia bagaikan pengagum rahasia. Ia mendengar kalau cara itu cukup bagus dan 'rekan'nya itu mungkin akan berterima kasih kepadanya.
Sialnya, Shen Qingqiu tak mengetahui kalau itu dari rekan juniornya karena tak ada tanda atau tulisan berarti di hadiah tersebut—apalagi barang yang diberikan ternyata hanya cukup berguna untuk Luo Binghe, jadi ia memberikannya pada sang suami. Naas, sang pemberi melihat dengan kepala matanya sendiri kalau hadiahnya dengan enteng diberikan pada orang lain.
Tak terima, Liu Qingge merasa tersinggung dan langsung menyerangnya dengan kata-kata yang termasuk menyakiti hati. Bahkan di depan para rekan kultivator pemegang jabatan Tuan Puncak juga sama sepertinya. Karena tak tahu, Shen Qingqiu mencoba menenangkannya untuk bicara dengan kepala dingin—bahkan Luo Binghe hendak membela sang guru. Namun karena sudah muak dan lelah berargumen, Liu Qingge pergi dari sana menaikki Chengluan lalu kabur dengan raut wajah yang tampak rumit. Rasa marah, kecewa, sesal, tersakiti—semuanya tercampur di dalam dada di saat pedangnya melaju menjauhi para kultivator yang hendak ingin mengejarnya karena kalah cepat.
Akhirnya, Liu Qingge terpikir ingin kabur kemana—karena tak mungkin kembali ke puncaknya, jadi dia nekat menuju Yunmeng Jiang untuk mencoba menenangkan diri dengan tak mengingat perkara tadi.
Jadi begitulah bagaimana ceritanya seorang Liu Qingge sampai di Lotus Pier.
Jiang Cheng menatapnya dengan heran sambil memperhatikannya yang telah usai bercerita panjang lebar—coretcurhatcoret—padanya.
Liu Qingge menghela nafas kesal. "Sudah kubilang jangan berkomentar apa pun."
"Ah—maaf, maaf. Tapi… Bagaimana bisa? Bukankah kalian berdua itu akrab?"
Ia mendengus dan meminta diisi lagi secangkir penuh, disambut oleh Jiang Cheng yang menuangkan pada tamunya.
"Sebenarnya kami tak dekat. Intinya kami bertengkar. Itu saja."
Jiang Cheng memandangnya heran karena mendengar jawaban yang pasif. Ini sudah tak benar. "Hanya karena itu saja? Bukankah lebih baik kalau anda berdua membicarakannya dengan kepala dingin? Mungkin dia memang tak tahu kalau itu dari anda."
Seperti Jiang Cheng tak pernah mengamuk pada orang saja. Dasar Wanyin.
Tangan kasar tersebut meletakkan cangkir teh yang telah habis diteguk dengan agak kasar. Dengusan arogan keluar dari hidung sang empunya.
"Percuma saja. Itu artinya sama dengan anggapan kalau aku yang salah, padahal dia harusnya yang salah. Jadi orang itulah yang harus minta maaf!"
Uwah, menggebu-gebu sekali Dewa Perang ini. Harga dirinya sungguhlah di puncak.
Memang salahnya kalau tak membuat catatan kecil kalau itu darinya, tapi ‘kan Liu Qingge memberikan hadiahnya dengan rahasia. Mana bisa mencatutkan nama di hadiahnya! Kalau tidak begitu, bukan rahasia namanya.
Intinya harga dirinya terlalu tinggi untuk hal seperti ini.
"Aku tak mau melihat mukanya lagi jadi aku pergi saja dari sana. Lalu aku teringat padamu, makanya aku kabur kemari."
KAMU SEDANG MEMBACA
Purple Lotus Diary
FanficCanva Cover Fanarts included in the books goes back to its respective creators! [Keseharian Jiang Cheng sebagai Pemimpin Sekte Jiang di Yunmeng berjalan seperti biasa dan normal. Sudah semestinya begitu, dan hanya itulah yang ia inginkan selain meng...
