"Jiang-Zhongzhu!"
Derap kedua kaki seakan terdengar begitu berat namun terpaksa berlari dengan menulikan telinga.
"Jiang-Zhongzhu, tunggu sebentar!"
Setelah meninggalkan adik dan iparnya, Lan Xichen berlari mengejar Jiang Cheng di dalam kerumunan. Karena ramainya masyarakat yang tengah merayakan festival, dia jadi sedikit sulit untuk meraihnya.
Di sisi lain, yang dikejar mencoba berlari sekuat tenaga. Ia merasa sedikit lemas, mengetahui fakta kalau Lan Xichen memberikan tanda sakti pada lehernya.
Pantas Wei Wuxian terus menggodaku. Jadi ini alasannya, pikir Jiang Cheng setelah mengingat kejadian tadi pagi.
Mengapa Lan Xichen lebih banyak diam, dan mengapa Wei Wuxian mulai membuat spekulasi dadakan untuk jalan bersama.
Sial, ia sangat ingin menjauhkan diri darinya dulu. Lelaki itu tak bisa menahan diri untuk tidak buka mulut kalau nanti berhadapan dengannya.
Memasukki gang yang sepi, Jiang Cheng perlahan berhenti dan terengah-engah. Kakinya perlahan melemas dan badannya merosot perlahan ke bawah sambil bersandar di dinding. Kepalanya menelangkup tertunduk, kedua tangannya memeluk kedua lutut, tak mau terlihat ekspresinya oleh apa pun dan siapa pun.
Kenapa? Kenapa harus terjadi begini?
Padahal ia kira ini bisa jadi memori bagus untuk hubungan pertemanan Gusu dan Yunmeng, namun kenyataannya mereka berdua membuat kesalahan fatal.
Jiang Cheng tak tahu harus berkata apa lagi akan fakta yang terungkap di hari yang seharusnya menggembirakan baginya dan rakyat Yunmeng.
Betapa bodoh dirinya melarikan diri begini. Tapi kalau ia tak lari, Jiang Cheng sendiri tak tahu harus berkata apa padanya kalau membicarakan tanda sakti di leher.
Jujur saja, ia tak menyalahkan Lan Xichen. Bahkan Jiang Cheng beranggapan kalau dirinya sendirilah yang bersalah atas semua hal yang terjadi.
Kalau saja aku tak mabuk, takkan terjadi begini...
Tidak ingin mengingat yang dibilang tadi, ia menghela nafas lelah dan tak mengetahui, kalau yang mengejar sudah di dekat lokasi.
Setelah mencapai sebuah jalanan yang cukup sepi, Lan sulung menarik oksigen untuk isi ulang. Jalanan sudah tidak ramai daripada pasar festival yang dilewatinya tadi.
Lelaki itu tidak memedulikan nafasnya yang mulai tidak teratur. Biasanya dia selalu berlari dengan stabil dan terkendali, tidak acak-acakan seperti ini. Dorongan alamiah untuk menjelaskan semuanya membuat dirinya melakukan hal yang tidak biasa.
Kenapa setiap kali hal yang menyangkut Jiang Cheng, dirinya selalu melakukan hal-hal baru?
Matanya menatap sekitar, berharap menemukan sosok pemuda bernuansa ungu yang dikejarnya saat ini.
Kalau tidak dijelaskan hari ini, bisa-bisa hubungan mereka jadi rusak lagi, seperti sebulan lalu.
Dan Lan Xichen tidak mau hal itu terjadi.
Meski terlambat, ia sendiri baru menyadari bahwa dirinya sangat tertarik dengan Jiang Cheng. Ia merasa dirinyalah yang harus ada di samping pemimpin sekte tersebut. Lan Xichen tidak akan puas jika Jiang terakhir itu tidak bersamanya, memperlihatkan sikap salah tingkahnya yang lucu. Bahkan marah pun tak apa. Karena itulah yang membuatnya merasakan desiran hangat dalam relung.
Yang jelas, Lan Xichen tidak ingin Jiang Cheng jauh darinya.
Lan Xichen ingin menjaganya.
Lan Xichen ingin melindunginya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Purple Lotus Diary
FanfictionCanva Cover Fanarts included in the books goes back to its respective creators! [Keseharian Jiang Cheng sebagai Pemimpin Sekte Jiang di Yunmeng berjalan seperti biasa dan normal. Sudah semestinya begitu, dan hanya itulah yang ia inginkan selain meng...
