48.5 - Ghostly Quiet Thoughts

225 28 0
                                        

Setelah pemimpin sekte Jiang Yunmeng telah berlalu, perlahan seseorang keluar dari tempat persembunyiannya.

Liu Mingyan memperhatikan lelaki itu hingga tidak terlihat lagi saat belok ke arah lain.

Pikirannya terbesit pada pembicaraannya dengan sang kakak sebelum pergi ke Yunmeng.

“Ternyata benar.” Ada motif lain dari aliansi dan pernikahan mendadak ini.

Ia berpikir sejenak, menaruh jari tangan di bawah bibir yang dilapisi tudung mukanya, melirik ke arah lain, dan tangan lain menopang sikutnya.

“Kalau aliansi dan pernikahan dipakai olehnya… lalu tamu kultivator itu mengatakan nama orang lain yang tersakiti…”

Berarti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Jiang Cheng.

Dan begitu jelas ia mendengar perkataan mereka walau hanya dari balik pintu.

Liu Mingyan menyimpulkan sendiri di kepalanya; bahwa Jiang Cheng menyakiti hati seseorang bergelar Zewu-jun itu, tapi dia malah bilang kalau mereka bukan apa-apa selain sesama rekan sekte.

Dan gelar itu biasanya ditujukan untuk laki-laki.

Kalau begitu, berarti orang itu dan kenalannya ini adalah…

Ia terhenyak pelan dan sedikit membelalak, pikirannya berkecambuk liar. “Oh, astaga…”

Liu Mingyan telah mendengar apa yang seharusnya tidak ia dengar atau pikirkan.

“Pantas saja…” Walau memang mak comblang dari keluarga besarnya mengirimkan biodata, tapi tentu aneh saat Jiang Cheng tiba-tiba memintanya untuk menjadi calon pengantin dengan perjanjian aliansi meski wilayah mereka berjauhan. Sudah pasti ada hubungannya dengan perjodohan ini.

Ini sudah tidak benar.

“Aku harus mengirim surat pada Gege.. Eh, tunggu dulu.” Liu Mingyan yang hendak berbalik arah pun ingat akan satu hal penting dan berhenti, tetap di sana bergumam pelan.

“Kalau mereka berdua adalah laki-laki, apakah mungkin…”

Liu Mingyan sudah membuat cerita novel Resentment of Chunsan bersama para shijie dan shimeinya dalam menerbitkan buku tersebut, dan itu berasal dari cerita shidinya bersama sang guru yang terkenal.

Dan ia pernah mendengar rumor tentang pasangan kultivator yang bagaikan Ying dan Yang, begitu seimbang walau berbeda ilmu dan kabarnya ada lagu yang menggambarkan kisah cinta mereka walau tak kentara karena dibuat dengan suara tradisional.

Dirinya curiga jika kedua orang tadi itu memang yang diceritakan karena terlihat jelas warna pakaian hitam putih dari aura keduanya.

Bahkan terlihat yang berpakaian hitam terdengar akrab dengan Jiang Cheng, makanya mereka bisa merespon dan berdebat seperti tadi.

Berarti Jiang Cheng menyukai orang bergelar Zewu-jun tapi sakit hati akan sesuatu yang diperbuat olehnya, makanya mereka yang jadi pengalihannya dalam mengurus masalah hati.

Liu Mingyan merasakan adrenalin dan dopamin menjalar perlahan, di balik tudungnya ada senyum tipis. “Aku tidak menyangka kalau ide ceritanya ada di sini.”

Tapi ia khawatir kalau Jiang Cheng mengetahuinya dan ini buat dirinya dalam masalah.

“Baiklah, aku akan menulis diam-diam. Ide ini harus kubuat lebih dari ini.” Walau tidak jadi pun, mungkin bisa jadi konsep saja.

Liu Mingyan pergi menuju kamarnya dan berkutat dengan tulisan dan surat untuk kakaknya, sebelum dipanggil oleh Yang Yixuan untuk ke ruang makan.

Tapi mereka tidak menemukan Jiang Cheng sama sekali.

Wakil ketua maju dan menunduk hormat. “Maaf, Nona Muda Liu. Ketua Jiang sedang tidak enak badan jadi saya akan memimpin makan malam ini.”

Liu Mingyan tahu bahwa kunjungan tadi buat Jiang Cheng tertekan dan hanya mengangguk paham padanya sebelum mereka makan bersama para murid dari kedua sekte.

Sementara itu, yang bersangkutan berada di ruang pribadinya. Botol arak berserakan dan kamar tidur terlihat berantakan. Banyak barang yang pecah dibanting, kain terobek kasar, bahkan beberapa sisi di lantai kayu dekat tempat tidur, meja duduk, mengarah ke pintu kayu telah tergeser. Angin terbawa masuk sepoi penuh dingin sejuk malam tersebut diiringi dupa incense burner menguar pelan.

Dengan hanfu tipis berwarna gelap, dirinya duduk dengan kaki satu ditekuk dan satunya menjulur di lantai. Rambut terurai berantakan bagaikan hantu dan wajahnya terlihat kacau dengan merah akibat minum terlalu banyak arak.

Tangan memegang kendi minuman tersebut dan ia meneguk beberapa mili sebelu mendesah begitu lelahnya.

“Sialan semuanya…! persetan… masa bodoh…! Keparat.. bajingan…Ugh..”

Hanya dengan gumaman kasar tapi tidak jelas, ia mengumpat dan hanya itu yang bisa dilakukannya untuk menghilangkan pikiran kalut dan menyebalkan di masa-masa lalu.

Karena Jiang Cheng berpikir sudah melakukan hal yang benar.

Tak lama kemudian, suara kendi berguling ke sisi dan berhenti di kakinya.

Pintu geser terbuka yang menampakkan pemandangan taman air teratai. Dan perlahan, pria itu hanya bisa terbuai akan kantuk berat dan tertidur dengan posisi demikian pada malam yang mulai mendingin.

Membiarkan dirinya untuk tidak mengingat apa pun hari ini—

Tapi itu semua hanyalah angan-angan semata.

.
.
.

====================

I'm back, sori lama karena burnout dan kerjaan. First of all, selamat lebaran qurban, moga dapat banyak daging, gaes. Mohon maaf lahir dan batin, tunggu dengan sabar!

Nantikan kegalauan Lan Xichen dan kejutan seseorang untuk membuat provokasi, so stay tune!

As usual, thank you so much for the views, votes, and leave the comments so I can know what's on your thoughts about my fanfiction and I can improve to be a better writer.

See you guys other next time!~ Adios~
Regards,

Author

Purple Lotus DiaryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang