Suasana pasar yang begitu ramai berbanding terbalik dengan suasana Lotus Pier yang terkesan sangat sunyi.
Atau memang sudah begitu sedari dulu, tanpa adanya Yu Ziyuan, Jiang Fengmian, dan Jiang Yanli.
Jiang Cheng merasakan rumahnya yang lenggang dan sepi. Tanpa adanya suara dan gelak tawa pada malam hari seperti dahulu, bersamaan dengan naiknya ke tahta untuk memimpin Yunmeng. Bahkan, hanya para pelayan, dirinya, dan Jin Ling yang tersisa untuk tetap bertahan di sana.
Ia menoleh pada mereka bertiga sambil berjalan. Saudaranya berbicara dengan ceria sembari diikuti kedua Lan.
Setelah sampai di area depan, lelaki bermarga Wei berhenti untuk membagi alkohol.
“Ini untuk kita,” Wei Xuxian menyerahkan tiga botol pada Lan Wangji, lalu satu botol lagi kepada Jiang Cheng, “dan ini untuk shimei~” Matanya berkedip genit, membuat yang ditatap mendelik tajam.
“Tuan Muda Wei, tolong jangan buat Wangji terlalu mabuk. Nanti dia bisa mengamuk.” nasehat sang kakak ipar.
“Tidak apa, tidak apa! Aku sudah ahli dalam ‘menangani’nya! Kalau Zewu-jun mau ikut juga boleh. Kita minum sama-sama!”
Jiang Cheng makin mendelik saat kedip yang berarti dari sang saudara angkat mengudara.
Astaga, jangan lagi.
“Hei, kau tak berpikir kalau kami akan—Argh... Lupakan. Jangan minum terlalu banyak. Langsung pindah ke kamar kalau berat kepalamu bertambah.” Ia juga tak mau melihat mereka semua mabuk, tentu saja.
Kalau nanti terulang lagi, bagaimana?!
Mau ditaruh dimana mukanya nanti? Dewa memang ingin membuat ujian baginya.
“Hohoho~ Shimei, kau meragukan kekuatan minumku? Ayo berlomba!”
Jiang Cheng hampir terpancing untuk menerima tapi untung Lan Xichen menengahi mereka dengan halus.
“Saya pikir besok-besok saja, Tuan Muda Wei. Akan lebih baik jika malam ini minum teh atau yang ringan-ringan saja.”
Fiuh, untung saja. Kalau tidak, jadi kapal pecah.
Lan Wangji hanya bisa menghela napas singkat dengan maklum. Dirinya jadi ingin mengikat mulut Wei Wuxian agar tidak terus menerus menggoda saudara dan iparnya.
Si kultivator hitam akhirnya mengalah walau kembali berceletuk. “Kalau begitu aku dan Lan Zhan ke kamar terlebih dahulu! Kami akan menyusul untuk makan malam.”
Dengan dua kalimat itu, Wei Wuxian menarik suaminya ke kamar tamu, meninggalkan Lan Xichen dan Jiang Cheng di area tengah Lotus Pier berdua.
Hening melanda.
Sang pemuda Yunmeng melirik ke arah lain, meragu. “Uhm... Mari kita minum teh saja?”
Tanpa banyak kata, mereka berdua langsung berjalan menuju ruang makan utama. Suasana mereka tak lagi canggung tanpa alasan, karena sekarang sudah ada sebabnya. Bahkan keduanya tak tahu harus bicara apa untuk membuka topik.
Duduk bersama, Jiang Cheng sebagai tuan rumah melayani dan menuangkan teh dalam diam. Saat ini pikirannya mencoba untuk menenangkan diri karena bingung akan semua kejadian tadi di festival.
Banyak yang tidak dimengerti dan terlalu rumit untuk otaknya.
Sementara itu karena pada dasarnya memang Lan Xichen yang lebih berisik, ia pun mulai membuka percakapan.
“Hǎoyùn jiùshì dàngjī yù qiāomén shí, nǐ qù kāi le mén.*”
Saat tengah menuangkan teh, Jiang Cheng mendengar kata mutiara yang penuh makna meluncur keluar dari bibir sang pemuda Gusu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Purple Lotus Diary
Fiksi PenggemarCanva Cover Fanarts included in the books goes back to its respective creators! [Keseharian Jiang Cheng sebagai Pemimpin Sekte Jiang di Yunmeng berjalan seperti biasa dan normal. Sudah semestinya begitu, dan hanya itulah yang ia inginkan selain meng...
