Hari sudah menjelang siang, namun tak membuat mereka berempat untuk tidak terlambat pergi ke pasar tradisional Yunmeng. Banyak sekali penjual berjualan, dan anak kecil yang bermain. Seperti yang dilihat saat kemarin, suasana meriah dan penuh semarak menghiasi wilayah tersebut.
Lan Wangji melangkah dengan santai di jalan pasar. Sambil melirik sesaat pada Wei Wuxian di sampingnya, mata tajam sang pria menyusuri lokasi yang dilewati.
Sementara Lan Xichen juga melihat-lihat penjual bersama Jiang Cheng, yang sudah berpakaian lagi dan lehernya tertutupi. Membuat tanda sakti yang diributkan dalam sanubari ketiga orang tadi juga jadi tak terlihat karena sudah ditutupi kerah.
Mereka berempat menyusuri jalan yang cukup ramai, diiringi banyak bendera sekte Yunmeng Jiang berjejeran telah dikibarkan.
Melambatkan langkah bersama, Wei Wuxian langsung menarik Lan Wangji untuk menjauh dari duet saudara angkat dan kakak iparnya. Ia berbisik-bisik pada sang suami.
"Lan Zhan, Lan Zhan! Kau lihat yang tadi pagi itu, bukan? Yang di leher Jiang Cheng?" tanyanya sambil menoleh ke arah 'shimei' yang tengah melihat-lihat para penjual dengan Lan Xichen.
Lan Wangji yang diseret oleh sang suami pun ikut berbisik ria padanya. Kepalanya mengangguk. "Mn."
Tapi sebenarnya, ia ingin mencoba mencegah Wei Wuxian. Agar kalau bisa, jangan menggoda saudara ipar angkatnya. Daripada nanti bertengkar di depan umum. Setidaknya masih ada urat malu di tempat besarnya sang suami manis.
"Dan sepertinya mereka normal-normal saja. Aku tidak menyangka kakak ipar dan Jiang Cheng ternyata adalah lengan potong." sahut Wei Wuxian lagi.
Lan Wangji hanya bisa diam melihat mereka dari kejauhan bersama sang suami. Ia juga ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi antara kakaknya dan pemimpin sekte Jiang tersebut, sampai ada tanda sakti semacam begitu. Kalau nanti mereka pulang ke Gusu, bisa-bisa kakaknya harus dihukum.
Selagi berumpi ria, mereka menyaksikan keduanya mendatangi seorang penjual di seberang jalan sana.
Mata almond Jiang Cheng mengambil sebuah manik gantung untuk pinggang baju. Terlihat dari bahannya cukup bagus. Dengan warnanya biru dan putih yang lembut, sehingga cocok untuk dipakai oleh pria mau pun wanita. "...Cukup bagus."
Lan Xichen yang sedari tadi memperhatikan juga ikut melihat manik gantung tersebut. "Desainnya sederhana namun elegan. Jiang-Zhongzhu memiliki selera yang bagus." pujinya dibarengi senyum simpul.
Jiang Cheng menatap terus manik gantungnya yang dipuji selama beberapa detik. Akhirnya, dia membayar lalu memberikannya pada Lan Xichen.
"Hadiah jepit kemarin. Biar kita impas."
Lan Xichen mengerjapkan matanya. Balasan, katanya?
Seketika otak cerdasnya terbesit akal.
"Terima kasih, Jiang-Zhongzhu. Namun, kalau ingin sama-sama impas, Jiang-Zhongzhu harus memakai jepit pemberian saya kemarin." ucapnya bersyarat.
Mendengar itu, Jiang Cheng sedikit memerah kaget.
Bagaimana bisa ia harus pakai jepit kemarin? Di depan umum pula! Ada saudara mereka juga yang tengah seperti menatap aneh pada mereka berdua. Bisa salah paham nanti!
"A-Akan kupakai jika teaternya dimulai saja..." cicitnya sambil palingkan muka, mencari alasan logis.
Tapi saat melirik kembali, tetiba kaca-kaca imajiner tampak di kedua manik Lan Xichen.
Wajah memelasnya yang terlalu sulit ditentang oleh siapa pun sudah diluncurkan begitu gampangnya!
"Tidak bisa...?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Purple Lotus Diary
Fiksi PenggemarCanva Cover Fanarts included in the books goes back to its respective creators! [Keseharian Jiang Cheng sebagai Pemimpin Sekte Jiang di Yunmeng berjalan seperti biasa dan normal. Sudah semestinya begitu, dan hanya itulah yang ia inginkan selain meng...
