40 - Hypocrite

399 58 10
                                        

Lan Jingyi berjalan dalam diam sejenak bersama sang ketua sekte di koridor.

Jiang Cheng berjalan diantar oleh si murid. Dia juga berpikir bagaimana reaksinya kalau Jiang Cheng datang tiba-tiba. Dia melirik ke bekal sup yang ia persiapkan. Senyum tipis sepersekian detik menghiasi wajahnya.

Lan Jingyi memiringkan sedikit kepalanya, heran karena sepertinya aura Jiang Cheng membaik.

Apa ini? Kenapa bisa begini? Apa yang salah hari ini?

Ia melirik sekilas ke arah Jiang Cheng. Kalau dilihat, parasnya memang bisa mendekati sempurna. Wajah putih halus dengan rahang yang tegas, mata yang berani tanpa takut, dan masuk di kategori pria tertampan seantero dunia kultivasi.

Dalam hati, dirinya terbenak kalau mempunyai jodoh yang cantik. Ia tidak sabar untuk melihat pengantinnya nanti jika menikah. Mungkin wanita yang sama tegasnya seperti dia? Atau yang lembut dan santai?

Atau yang seperti Wei Wuxian? Lan Jingyi pikir akan cocok.

Ya ampun, harusnya ia tak berpikir seperti itu. Lagipula itu hanya khayalan semata. Masih puber, wajar. Dalam hati semoga saja nanti dapat jodoh yang baik dan bisa masak. Itu mungkin cukup untuknya hidup panjang.

Sementara itu, ketiga orang tadi masih ada di lokasi yang sama. Mereka mengobrol panjang di mana percakapan didominasi oleh Wei Wuxian, barulah Lan Xichen. Dan Lan Wangji hanya diam saja sambil mendengarkan percakapan keduanya. Dia kadang ditempeli dan dicium pipinya. Masih pamer mesra, mau bagaimana lagi. Masih bucin seperti biasa.

Wei Wuxian, masih menempel pada Lan Wangji pun bertanya, “Zewu-jun, kudengar akhir-akhir ini sering bertukar surat dengan Jiang Cheng? Ada urusan apa, kalau boleh tahu?” tentu saja ingin menggodai kakak iparnya.

Senyuman hangat merekah di wajah Lan Xichen.

Lan Wangji juga mencoba mengetahui apa maksud dari pertanyaan sang istri. Pasti ada maksud di baliknya. Dia melirik diam pada Lan Xichen.

Sepertinya memang terjadi sesuatu diantara mereka.

Di sisi lainnya, Jiang Cheng sudah dekat saat melihat tak jauh dari sana sudah ada koridor yang menunjukkan kalau sudah dekat dan melihat bayangan tiga orang duduk.

Lan Wangji tahu kalau kakaknya ini akan membuatnya semua menjadi saling menebak dan ambigu.

“Apa artinya?”

Maksudnya adalah; Apa arti Jiang Cheng bagi Lan Xichen. Sedikit kepo juga, karena kalau tidak dari mulut kakaknya, maka dia tak bisa percaya akan perkataan orang.

Lan Xichen yang membelakangi mereka pun menjawab pertanyaan adik dan iparnya yang mendadak penasaran tersebut. “Kalian ini,”

Lan Jingyi dan Jiang Cheng sudah sampai di lapangan. Mereka dapat melihat tiga orang sedang duduk dari kejauhan. Suaranya pun terdengar jelas.

“Jiang-Zhongzhu hanyalah teman. Tidak lebih. Mohon jangan berpikir lebih jauh.”

Langkahnya terhenti seketika itu juga. Perkataan itu terdengar jelas sekali di telinganya meski agak jauh.

Apa katanya tadi? Teman?

Mukanya hanya bisa beralih dengan khas tak percayanya sendiri. Ekspresinya terlihat jelas kalau dirinya kaget setengah mati. Entah mengapa tapi saat mendengar kata itu, jantungnya dan hatinya serasa jatuh dari dada ke perut dan meledak dalam rasa sakit. Kakinya terasa direkatkan di lantai kayu dan terpaku seketika.

Seketika teringat jelas memori saat mereka berdua di Yunmeng. Semua sudah disaksikan olehnya.

Senyumnya, perhatiannya, tawanya, dan ucapannya yang lembut menenangkan, namun maskulin dalam meyeimbanginya.

Purple Lotus DiaryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang