Semenjak kejadian itu, semua tak lagi benar-benar sama. Bagaimana Pandangan Aga berubah menatap seorang Indira Adriana, sosok perempuan yang keras kepala sepertinya ini justru mengerti bagaimana posisi Aga saat ini. Bukan hal yang bisa dibilang suatu kebetulan—mungkin tatapannya memang sudah tertuju pada perempuan pemberontak itu sudah lama, sejak awal pertemuan.
Hanya ada diam yang terus berucap keras setiap kali keduanya berada situasi yang sama, tak ada ucapan yang benar-benar Aga lontarkan untuk membuat Dira tau apa yang ia rasakan. Satu sisi, yang ia ketahui adalah Rama, sahabatnya yang masih menjadi lelaki di posisi terunggul untuk memenangkan hati seorang Dira. Pengecut jika bisa dibilang, bagaimana Aga hanya bisa berandai-andai bahwa segala yang terjadi pada malam itu ingin sekali ia lakukan kembali untuk kedua kalinya.
Bukan hanya tentang Aga, bahkan Jira yang dengan matang atas segala keputusannya pun dirundung kegelisahan yang semakin hari semakin menjadi. Seolah ada dosa yang mengejar dirinya setiap kali melihat waktu, ia benar-benar di ujung sebuah keputusan yang masih abu-abu.
Semua yang sudah tersusun rapih mengenai kegiatan magang pun perlahan menguakkan kebenarannya, seperti saat ini saat dimana Jira harus mengucapkan perpisahan sementara pada perempuan yang ia sayangi. Alen tengah menahan agar air matanya tidak keluar dan lolos begitu saja, walau cukup baginya menahan perih air yang sudah menumpuk di kedua pelupuk matanya.
Bukan hal mudah bagi Jira melepas semuanya dan berjuang kembali di titik nol untuk memulai masa magangnya di luar kota. Menahan diri untuk tidak mengatakan sayang pada Alen adalah hal yang ia terus ucap dalam benaknya, tidak ingin hanya sekedar mengunci hati seseorang lalu meninggalkan, sekiranya itu yang selalu Jira ucap sampai di penghujung kejujurannya ia hanya berucap agar Alen menjaga dirinya baik-baik di sini.
Tangis tak terhindarkan saat Jira memeluk Alen, semua tangisnya basah menetes di sisi pakaian Jira. Tak ada penolakan, tak ada penahanan atas dasar hati yang sedih akan sebuah kepergian yang terkesan mendadak. Bukan mendadak bagi Jira, semua sudah terencana sedemikian rupa, hanya saja hatinya selalu ingin perpisahan ini di siapkan saat tiba waktunya. Jira akan pergi malam ini, dan dengan itu semua Alen harus menguatkan dirinya.
Jira akan pergi dengan menaiki pesawat pukul delapan malam menuju Malang, dan siang ini masih tersisa empat jam sebelum jira benar-benar berangkat menuju bandara. Semua anak Kostan Squad mengetahui cerita ini dari mulut Jira dan Rama tanpa sepengetahuan Alen, Dira sendiri mengetahui ini hanya bisa menunggu sampai tiba saat Jira lah yang membuka suara dan berbicara langsung pada sahabatnya.
Bukan hal mudah, terbatas jarak dan waktu, kesibukan yang akan menanti, semua itu terasa berantakan saat Alen mencerna semuanya. Awal niat Jira yang ingin menemuinya adalah firasat buruk yang selama ini tertahan dalam mimpi buruk dan kegelisahan Alen yang akhirnya terjawab.
Damar akan mengantar kepergian Jira, jarak yang perlu ditempuh sekitar empat puluh lima menit sampai sejam jika lancar itu pun membuat Jira harus berangkat jauh sebelum jam delapan. Anak-anak Kostan memang berencana ikut untuk mengantar, dan ini juga menjadi bagian yang sangat penting bagi Alen dan Jira, entah diantara keduanya apakah ada yang akan berucap dan saling mengikat atau membiarkan semua kenangan indah ini terbawa dalam jarak dan waktu yang tidak di pastikan akan tetap sama seperti sebelumnya.
Pernyataan sedih itu, membuat Dira cukup sedih terbawa dalam emosional yang Alen rasakan. Baik dari Dira, Sena, Baim tentu terus memberikan candaan untuk menghibur Alen. Sedangkan Rama, Aga dan Villan hanya bisa diam melihat situasi yang yang tidak diinginkan ini. Jira sudah terlihat cukup pasrah dengan semua ini, ada sayatan dalam hatinya melihat bagaimana perempuannya ini terlihat murung dan bersedih bahkan harus ia saksikan sebelum turun dari mobil.
Saat memasuki bandara, semua bergantian memeluk Jira. "Kak take a care ya, jangan lupa kabarin kita di sini" ucap Sena
"Kak Jira, kita bakal kangen sama kedermawanan Kakak! I'm gonna misa you" ucap Baim
KAMU SEDANG MEMBACA
Forever Young [ON GOING]
RomanceRasanya mustahil untuk tidak jatuh cinta diantara persahabatan ini, tapi rasanya akan seperti apa jika perasaan nyaman ini bukan hanya aku dan kamu? Persahabatan ini akan terus ada walau badai terus datang menghampiri bukan? 'Biarlah waktu yang me...
![Forever Young [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/223722115-64-k598193.jpg)