Setelah kelas kedua selesai, Sena datang untuk membawakan makanan karena Dira tidak masuk seharian ini. Ditambah pesan terakhir yang ia dapatkan bahwa perempuan itu sedang tidak enak badan.
Dengan cepat ia mengetuk pintu dan menunggu Dira keluar. Untung saja perempuan satu ini bisa bangun lebih gampang dari biasanya, Dira yang baru bangun harus melihat matahari sore yang menyapanya saat membuka pintu kost. Sena dengan bawaannya masuk bersamaan dengan raut khawatirnya benar-benar tidak bisa lagi disembunyikan lagi.
"Lo pulang siang?" Dira hanya mengangguk, memandangi Sena yang masih sibuk membuka bungkusan nasi rames yang sudah ia bawa. Tak lupa menyiapkan sup ayam, karena Sena tau semalam Dira pasti mabuk dan membutuhkan sup untuk meredakan kondisi perutnya.
Sena mendekatkan dirinya, berusaha mendiagnosa keadaan perempuan yang terlihat lelah dan juga tidak dalam keadaan baik. Ia mengukur suhu Dira dengan menempelkan punggung tangannya di kening. Tatapan serius Sena membuat Dira hanya bisa memandangi karpet, tidak berani memandangi mata lelaki yang sedang serius ini.
"Lo rada anget, mau gue beliin tempra?" Dira menggeleng, "masih ada" Sena mengangguk, tetapi tatapan kesalnya juga masih terlihat jelas. Jangan tanya mengapa Dira masih meminum tempra di umur segini. Sudah jadi kebiasaannya meminum obat tempra saat demam datang menghampirinya, selain karena kebiasaan yang sudah dibawa sejak kecil, Dira juga selalu suka rasa obat yang satu itu.
Sena sudah mengenal Dira lebih baik dari siapa pun, selain Rama tentunya. Jadi ketika ada sesuatu yang Dira butuhkan, Sena sudah cukup hafal apa yang harus ia berikan pada perempuan satu ini, termasuk saat demam.
"Makan, gue gak mau sakit lo makin parah" suara Sena masih terdengar berat, Dira tau nada ini adalah nada kesal yang Sena berikan. Dira tidak berbicara apa pun dan menurut untuk menyuap makanannya.
Sena sendiri tau, pakaian yang Dira kenakan bukanlah pakaiannya. Pakaian yang terlihat asing, kaos oversize yang pastinya adalah kaos lelaki. Apalagi aroma dari kaos yang Dira pakai saat ini bukanlah aroma miliknya. Perasaan Sena sebenarnya sudah tidak tenang, pikirannya kalang kabut sejak semalam ia tidak pulang bersama Dira.
Bahkan tidur Sena tidak bisa pulas, memikirkan banyak hal termasuk apa yang terjadi antara Dira dan Aga semalam. Sena memang tidak mengucap bahwa dirinya kesal, tidak juga bertanya bagaimana Dira pulang karena sudah pasti Aga akan mengantarnya. Hanya saja hawa yang Sena berikan membuat Dira tau bahwa dirinya kesal, dirinya khawatir dan yang lebih parah lagi Sena hanya diam enggan membahasnya.
"Gimana tadi kelasnya?" Dira berusaha memecah hening, tatapan Sena membuatnya bingung harus memulai dari mana. "Biasa aja, gak ada tugas" balasan Sena sekenanya, membuat Dira hanya mengangguk. Sena sendiri sibuk mengambil tempra di kotak obat, menyiapkan minum setelah melihat Dira hampir menyelesaikan makannya.
"Maaf" ucapan itu membuat Sena memandangi Dira yang memperlihatkan wajah bersalah. "Maaf udah buat lo khawatir, gue tau pasti tidur lo ga tenang kan semalem?" tidak ada jawaban, Sena hanya bisa menelan salivanya membuat mata Dira terfokus pada jakun lelaki di depannya.
"Gue... Udah ngerasa lebih baik bisa meluk Oma di hari ulang tahun gue kemarin"
"Walau bukan Oma gue" tambahnya, Sena mengangguk berusaha memberikan senyumannya untuk memberi tanda bahwa dirinya tidak marah."Minum dulu tempranya" Dira mengangguk, sebenarnya ada rasa bersalah yang entah mengapa muncul menggerogoti perasaan dan pikirannya.
Melihat Sena tetap berusaha ada di sampingnya, menemaninya, bahkan tidak memberikan banyak pertanyaan cukup membuat Dira banyak merenung. Bahkan sampai lelaki itu pulang dan dirinya sudah di kasur, memandangi langit-langit di kamar. Pandangan Dira tertuju pada kedua lelaki yang sempat berada di situasi tegang kemarin malam. Dira juga memikirkan semua yang ia katakan pada malam itu pada Aga, sebuah keputusan yang sebenarnya ia ucapkan bukan karena kesadarannya yang menipis tetapi karena hanya saat itulah dirinya bisa merasa 'memiliki' Aga dan mengucap semua isi hati dan pikirannya yang selama ini selalu ia pertimbangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forever Young [ON GOING]
RomantikRasanya mustahil untuk tidak jatuh cinta diantara persahabatan ini, tapi rasanya akan seperti apa jika perasaan nyaman ini bukan hanya aku dan kamu? Persahabatan ini akan terus ada walau badai terus datang menghampiri bukan? 'Biarlah waktu yang me...
![Forever Young [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/223722115-64-k598193.jpg)