31. Bulir Kesenduan

12 3 0
                                        

Sekitar setengah jam kemudian, Villan datang dengan kepanikannya karena anak-anak sudah berkumpul di balkon kamar kekasihnya itu. Villan berjalan masuk melihat keadaan dan tidak mendapati Dira mau pun Alen. Tingkah yang terlihat kebingungan itu cukup menarik perhatian Baim yang masih terdiam diantara ketiga lelaki lainnya.

"Dia di kamarnya, sama Alen" jawaban Baim menjadi balasan dari semua pertanyaan Villan. Tak lama Alen keluar dan melihat para lelaki sedang berbicara dengan nada pelan, memang hari semakin larut.

"Ini Dira beneran?" pertanyaan Villan terbalas dengan anggukan Alen, "Dia gimana sekarang?" suara penuh kecemasan tergambar dari Rama dan Sena, "Udah tidur, gue udah bantuin dia ganti baju dan bebersih. Tapi dia masih gak mau ngomong"

Helaan napas terasa, semua seolah merasa putus asa. Sampai terdengar suara khas motor milik Aga. Jangan tanya seperti apa Aga saat ini. Dirinya bahkan memaki diri sendiri setelah di perjalanan dirinya sempat mengecek handphone di pinggir jalan, karena ramainya notifikasi dari grup. Aga marah, marah dengan kebodohannya sendiri.

Aga berlari, tidak peduli dengan penampilannya dan helm yang masih berada di kepalanya. Wajahnya terlihat merah padam karena lari yang dilakukan tanpa pemanasan, melihat semuanya yang sedang berkumpul di balkon benar-benar mengeluarkan suasana yang menyedihkan.

"Gue boleh ketemu Dira?" pertanyaan itu membuat Alen menoleh, "Gak, dia baru aja tidur" Aga terdiam. "Jelasin ke gue Im, cerita yang lo tau" Baim menatap serius, akhirnya kembali menceritakan awal kejadian dari versinya. Malam itu menjadi malam yang panjang buat semuanya.

"Lo basah banget Ga?" celetukan Jira membuat semua mata melihat bahwa Aga memang baru saja terkena hujan. "Gue keujanan" ada anggukan dari Jira, "Balik deh lo, ganti baju istirahat. Semuanya juga istirahat" Jira seolah memberikan komando, karena selama dua jam menunggu di sini hanya ada emosi yang bisa ia rasakan dari aura Rama dan Sena yang masih terdiam membisu kembali ke mode tidak bisa diganggu.

"Gue di sini aja" Aga, lelaki yang selalu keras kepala itu kini berusaha untuk tetap tinggal. "Gak, semua harus istirahat, jangan sampe kita sakit" Jira masih kuat dengan argumennya.

"Terus kalo Dira nanti kenapa-napa gimana? Lo mau tanggung jawab ? Gue mau di sini jagain dia Kak. Lo aja sana balik" ucapan telak terdengar dari bibir Sena, Baim dan Villan melirik. Iya, Sena sejauh ini tidak pernah berbicara seserius itu dan juga seberani itu tapi malam ini semua berbeda.

"Gue juga di sini Jir, lo balik sama Aga ya" Rama memilih menetap.

"Gue gak mau balik Ram" Aga enggan, justru memilih duduk di samping Rama. Jira yang melihat itu kini berdiri, tidak yakin dengan ucapannya selanjutnya tapi ia juga khawatir dengan keadaan cuaca akhir-akhir ini yang tidak menentu. Kalau semua sakit bagaimana?

"Kalau lo semua begadang gini, nanti pada sakit yang jaga Dira siapa? Mending gini deh kita bagi tugas" ucapan Jira seolah menjadi arahan yang jelas bagi semuanya termasuk Alen.

"Kalian mending nginep di gue aja, Lo bisa pinjem baju gue atau Villan, Bang Aga" Baim memberikan sebuah usulan cemerlang, semua menyetujuinya.

Akhirnya Aga pulang ke kontrakan untuk mengganti baju karena terlampau basah sampai keseluruhan yang ia kenakan. Ia kembali ke Markas Rimba dan melihat Baim, Villan sudah menyusun Markas Kurcaci untuk dijadikan lahan tidur tambahan.

Alen masih di teras, menemani Rama dan Sena yang masih enggan pergi. Terasa berat, Alen juga merasa kedua lelaki itu sangat ingin menjaga sahabatnya. "Kalian balik ya, Dira bakal tidur sama gue" ucapan pelan Alen tidak membuat Sena dan Rama pergi.

Sampai akhirnya Aga dan Villan kembali ke atas, wajah Aga terlihat masih cemas tapi tidak bisa banyak bicara.

"Al, aku mau ngomong" Villan memisahkan diri dengan Alen yang mengikutinya meninggalkan ketiga bujang itu terdiam di ambang pintu.

Forever Young [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang