40. Jira's Wish list

10 3 0
                                        

Pagi ini Jira bangun dari tidurnya yang nyenyak, memandangi selembar kertas yang berada di meja belajarnya semalam. Senyumannya ini tergambar jelas memandangi hal gila apa yang ingin ia lakukan. Dengan langkah semangat Jira pergi menuju dapur, mengambil dua tutup panci dan berdiri di tengah kamar Rama dan Aga.

Ia menarik napas sebelum memulai, dengan wajah bantal khas bangun tidur Jira pun memukul kedua tutup panci bersamaan membuat suara besar di ruangan.

Jira tertawa dan terus melakukannya, tidak memanggil Rama atau Aga tapi cukup membuat Aga terduduk di kasurnya dengan wajah kesal. Rama mengerang karena mimpi indahnya terganggu begitu saja.

Aga keluar lebih dulu, melihat Jira masih melakukan hal itu "Berisik anjir" umpatan di pagi hari itu membuat Jira justru semakin semangat dan akhirnya pintu lainnya terbuka, menampakkan Rama yang keluar dengan wajah kesal "Jir, gue getok ye lo! beneran gak adabnya jadi anak manusia" celetukan marah itu tidak Jira balas, justru ia menarik Aga dan Rama keluar dari kontrakan tanpa memikirkan ketiga yang yang sama sekali membasuh wajahnya.

"Ayo kita lari pagi, sehat lho"

"Lo sakit ya?" pertanyaan itu dari Aga, ia kesal karena dirinya saja bangun dengan keadaan terpaksa.

"Ayo kita lari pagi, kita gak pernah lho lari bertiga bareng"

"Pernah" Aga mengusak rambutnya, cahaya matahari di jam enam pagi sudah membuatnya tidak nyaman dan ingin kembali ke kamar.

"Oh pas masa jadi maba, pas telat" ingat Rama, "Gue mau lari beneran yang kaya orang-orang" Jira masih berpegang pada keinginannya itu.

"Ya lo lari sendiri, gue lemah jantung" ucap Aga kembali ke dalam. Jira membulatkan mata dan melihat Rama yang justru hanya bisa mengangkat kedua bahunya bingung.

"Gak, gue mau lari sama kalian. Ayo ambil sepatu kalian" Jira kembali menarik Aga dan ada erangan dari yang ditarik.

Alhasil Jira, Rama dan Aga sudah memakai sepatu olahraga, ketiga bujang itu siap untuk lari pagi dengan wajah yang sudah lebih baik karena sudah membasuh wajah dan sikat gigi. Jira dengan senang membuka pagar, Rama yang pasrah hanya bisa mengikuti dan Aga yang masih selalu protes dengan tatapan tak suka dengan hal ini. Aga biasanya masih tidur begitu pun Rama, kalo pun keduanya bangun, itu biasanya karena keduanya sibuk begadang membuat lagu. Sebenarnya Rama tidak masalah jika harus lari pagi bersama seperti ini, toh kapan lagi? pikirnya. Berbeda dengan Aga, ia harus pasrah karena Jira akan selalu menariknya untuk benar-benar masuk dalam kegiatan pagi ini.

Jira yang tipikal lelaki bangun pagi. justru senang melakukan ini, salah satu wish listnya 'Lari bersama sahabat'. Langkah pertama ketiga lelaki itu akan menyusuri area kostan dan juga masuk ke komplek yang tidak jauh dari sini untuk lari pagi, baru lari selama lima belas menit rasanya Aga ingin menyerah, napasnya sesak memburu tidak beraturan.

"Gue lemah jantung, sialan" protesnya hanya dilihat Jira, Rama tertawa melihat Aga duduk di trotoar dengan kedua pipi memerah dan deru napas yang tidak beraturan.

"Mana ada, jangan bohong! Itu karena lo males" bantah Jira, justru ia menarik Aga untuk berdiri kembali, dengusan Aga terdengar sedangkan Rama tertawa puas, "Gue males jadi jantung gue juga males diajak lari" balasnya.

"Ayo dikit lagi, tiga puluh menit deh larinya" Jira kembali berlari

"Ayo semangat biar lo bisa lawan lelaki GYM!" ledekan Rama terdengar sarkas, Aga tau yang dimaksudnya adalah Sena, Sena terlampau atletis dibandingkan dengan Aga yang lari pagi saja jarang, mana mungkin bisa mengejarnya jika diajak adu kekuatan fisik. Sekarang saja Aga ingin merebahkan tubuhnya di depan rumah warga.

Forever Young [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang