19. Abu

15 3 0
                                        

Sejak kejadian hari itu Dira atau pun Rama masih sering menyendiri di kamar dan juga enggan bersosialisasi dengan banyak orang. Aga mau pun Alen cukup sabar menunggu sahabatnya itu membuka pembicaraan, sejak hari dimana Rama mengungkapkan perasaan pada Dira semua terasa berubah perlahan. Hawa ceria yang biasa Dira berikan kini hilang seketika, hawa semangat dari Rama pun perlahan luntur bahkan sampai ia harus absen beberapa hari dari kampus untuk mengulur waktu keberangkatannya ke Bali.

Aga cukup sering menunggu Rama di ruang tengah atau pun mengajak Rama makan bersamanya, namun sampai hari ketiga seperti sekarang Rama masih enggan keluar dari zona sedihnya. Alen yang biasanya mendengar celotehan sahabatnya itu pun merasa hampa karena sepi, Dira lebih memilih diam dan termenung seolah memikirkan banyak hal, Sena yang sering menyemangatinya pun jadi semakin sering datang ke kostan.

Sesekali Baim dan Villan berusaha untuk menghibur di kost Dira dan Alen atau pun di kontrakan untuk membuat Rama kembali semangat, namun terlihat jelas keduanya bahkan berada di fase sedih yang melebihi sedihnya orang putus cinta. Ya, Rama patah hati dan Dira masih mati-matian mencari rasa yang harusnya hadir di saat ucapan tulus Rama keluar dari bibirnya.

Mungkin orang-orang akan beranggapan bahwa Dira memberikan harapan kosong pada Rama, setelah melambungkan harapan tinggi pada akhirnya Rama ditolak mentah-mentah. Semua itu terlihat jahat memang, tapi nyatanya semuanya mengerti bahwa Dira pasti memiliki alasan yang kuat dan mungkin keduanya harus melewati fase menyedihkan ini.

"Secinta itu ya pasti Bang Rama" ucap Baim saat dirinya sedang bersantai di markas kurcaci.

"Ya lo tau sendiri lah, Bang Rama tuh gak bisa deketin perempuan yang gak duluan dia suka. Sebelum ada Dira juga dia mana pernah sih sebegininya sama perempuan" jelas Villan

"Emang sama sekali ya Bang Rama gak pernah deketin perempuan lain sebelum Dira?" tanya Sena

"Pernah, dan gak dia lanjutin juga karena dia makin gak ngefeel sama perempuan itu. Beda sama Dira" ucap Baim

"Bentar, jangan-jangan Dira udah ada seseorang ya?!" ucap Villan penuh rasa menuduh, Baim membenarkan duduknya dan ikut terbawa suasana.

"Hah?" tanya Sena

"Ngaku lo bocil, Dira udah ada orang lain ya?" pertanyaan itu kini tertuju jelas pada Sena, Baim dengan serius menantikan jawaban atas pertanyaannya itu.

"Jawab" tambah Villan

"Emm, sejauh ini emang banyak yang deketin dia. Tapi gak ada yang dia respon kok" ucap Sena

"Apa dia jangan-jangan baper sama lo?" tanya Villan

Sena membulatkan matanya, "Mana ada! jangan nuduh Bang!!" protes Sena

"Tapi kan yang paling deket banget sama dia selain Bang Rama, ya sama lo" lirikan Baim terlihat menuduh

"Eh jangan rusak persahabatan gue dong, gue gak pernah ada niat rebut Dira dan lagian Dira aja nganggep gue sodaranya kok"

"Ya terus siapa dong lelaki yang jadi penghalang diantara mereka?" Villan kembali menyandarkan tubuhnya

"Gue juga bingung, kenapa ya. Apa Dira mati rasa kali ya? kelamaan diajak pdkt jadinya begitu"

"Kok lo mikir gitu Im?" tanya Villan

"Ya perempuan gak bisa diajak pdkt lama-lama juga gak sih, apalagi dia di pdkt-in sama bang Rama setahun cuy!" Sena mengangguk atas pemikiran Baim, sedangkan Villan hanya terdiam mendengar ucapan sahabatnya itu.

Malam ini banyak hal yang ketiga lelaki itu bahas, mulai dari percintaan ini dan juga percintaan masing-masing. Seperti Baim yang sedang bingung karena teman kerjanya ada yang mulai mendekati, ada juga Sena yang sedang tidak tertarik membahas percintaan dan juga Villan yang masih sulit membuka hatinya.

Forever Young [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang