5. Ospek

17 5 0
                                        

Hari ini minggu pagi yang cerah, jam sudah menujukkan pukul sembilan pagi tetapi ketujuh lelaki itu masih terlelap dalam mimpi indahnya.

"Enghhh" Rama terbangun, melihat semuanya masih tertidur pulas. Ia pun segera berdiri dan pergi menuju kamar mandi.

Biasanya yang akan bangun pagi diantara yang lainnya adalah Aga, bagaimana pun ia suka begadang tetap saja kalo soal menginap bersama ia pasti akan lebih rajin dibanding yang lainnya. Tapi saat ini, Rama lah orang pertama yang bangun.

"Duh anjir geser dong Lan, jangan peluk gue anjir homo" keluh Baim yang menyadari dirinya tengah dipeluk erat oleh Villan.

Villan masih tidur pulas saat Baim berusaha menoleh kearah orang yang memeluknya dari belakang.

"Im? Mesra banget dah lo berdua kaya pasutri" ledek Damar yang sedang meregangkan tubuh di sofa, ia baru saja bangun karena suara Baim, tetapi dengan cepat menyadari pemandangan tepat dihadapannya, para lelaki yang tidur bagai ikan membuatnya merasa kasihan. Tapi hal seperti ini juga sudah biasa menjadi pemandangan saat menginap di kontrakan.

"Sialan lo, Kak Damar! " Baim masih berusaha melepas pelukan Villan dan setelah cukup berusaha keras, akhirnya terlepas juga ia pun bangun walau ada erangan dari Villan tanpa membuka matanya.

"Bangun - bangun ayo buat sarapan" ucap Jira yang seketika membuat Aga terbangun di sampingnya, Jira memang selalu mengagetkan.

"Gue bantuin Kak, tapi gue mau ke kamar mandi dulu" Baim segera berlalu.

Tak lama Rama keluar dari kamar mandi, sudah memakai pakaian rapih dan wangi dari sabun beraroma stroberinya menyebar keluar dari kamar mandi.

"Tumben banget lo wangi stroberi" Baim berjalan melewatinya dan memasuki pintu kamar mandi dengan cepat.

"Bukan punya gue, punya Aga ini" Rama berteriak entah Baim mendengar atau tidak, ia segera berlalu.

Rama berjalan, melihat teman-temannya yang sudah bangun masih terlihat wajah bantal dan juga masih linglung.

"Eh ayo bangun, masak ini udah jam sepuluh tau!" ucap Rama bak ibu kost penagih uang bulanan.

Jira menoleh, "bentar lemes banget, gue udah lama gak tidur di karpet" ia berusaha meregangkan tangan dan kakinya walau masih berbaring.

"So kaya anjir ngomong lama gak tidur di karpet. Biasanya di kerdus yang disusun juga" ucap Aga ketus, Jira menoleh memberikan tatapan sinisnya "Sialan lo perakit kerdus"

Rama tertawa, berjalan membuka pintu yang masih terkunci dan keluar ke teras untuk menjemur handuknya. Cahaya dari luar masuk perlahan dan ruangan terasa terang saat ini, suhu ruangan pun terasa meningkat membuat Damar yang masih betah di sofa seketika bangun, ia pun menyalakan televisi untuk menghidupkan suasana yang masih hening.

"Aga, masak yuk" ucap Jira

"Ayo, tapi napa gue mulu si"

"Ajak gue dong" Rama muncul kembali memasuki rumah. Jira dan Aga lalu memandangi Rama yang sedang tersenyum, entah ia terlihat bersemangat hari ini.

"Emm.... " Aga seolah menerka

"Big No! Gue gak mau alat dapur rusak lagi sama lo Ram" ucap Jira cepat, menarik Aga untuk berdiri. Terdengar erangan dari Aga yang masih ingin merebahkan tubuhnya.

Rama terdiam dan tawa Damar membuyarkannya. Ia pun akhirnya duduk disamping Damar..

"Padahal niat gue baik, mau bantu"

"Lah Ram, lo kan perusak jadi sabarin aja tugas lo emang bukan buat hal yang baik-baik" jelas Damar menepuk pundaknya.

"Gue lelaki baik-baik tapi yaa!"

Forever Young [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang