Setelah kejadian itu, Aga benar-benar memegang omongannya tidak memunculkan lagi dirinya di hadapan Dira. Ia membiarkan Sena berpuas hati merawat Dira, selama Dira berada di lingkungan yang aman dari bepergian seorang diri, Aga akan membiarkannya.
Begitu pun Sena, yang seolah menahan Dira untuk tidak datang ke kontrakan. Ia merasa Dira sudah aman jika hanya bersamanya, alasan mengerjakan tugas bersama menjadi salah satu upaya Sena setiap kali Dira mengajaknya untuk berkunjung ke kontrakan, semua ini untuk menggagalkannya.
Keadaan ini sebenarnya membuat suasana tidak enak, seperti ada dua kubu yang tidak bisa dijadikan sandaran yang pas bagi siapa pun yang melihatnya. Satu sisi Aga masih merasakan rasa bersalah, setiap kali berurusan dengan Dira buntutnya akan berurusan dengan Sena. Runtutan yang selalu membuat Aga berulang kali berpikir. Aga tau posisinya bisa unggul jika dirinya melawan, tetapi melawan Sena hanya membuat perdebatan keduanya semakin tajam.
Sena keras kepala, seolah ingin melindungi Dira justru dirinya terkesan mengekang. Villan dan Baim sudah sampai di titik lelah memberitahukan bahwa Sena harus mengalah, Aga adalah alasan kuat dari Dira untuk semangat. Semenjak Dira merasa dirinya kehilangan sosok lelaki dingin nan cuek di hidupnya, perlahan itu juga Dira hanya bisa melemparkan tanya pada orang sekeliling.
Aga memaksa, membiarkan anak-anak berkumpul tanpanya jika ada Dira di situ. Selama ia menghindar, Aga juga selalu berusaha untuk memperbaiki dirinya. Dirinya yang selalu merasa bersalah, dan dirinya yang selalu kalah walau perasaan yang ia miliki sudah sebesar itu pada Dira. Tapi tetap saja, Aga selalu merasa kecil dan tidak berarti.
Tak jarang Aga melihat dari kejauhan Dira yang tertawa lepas dengan Sena di sampingnya. Pemandangan yang bisa ia curi setiap dirinya sedang ke perpustakaan atau bimbingan, setelah kejadian bertengkar dengan Sena itu, Rama mengajak Aga untuk mengalihkan pikiran pada kewajibannya menyelesaikan skripsi.
Rama sendiri menjadi utusan Aga, seseorang yang bisa ia percaya setiap kali Aga butuh mendapatkan kabar terkini mengenai Dira. Rama masih sering datang ke Kost Hutama, menjenguk Dira dan banyak bercerita. Semua bagian itu tampak lancar, sampai Dira menanyakan keberadaan Aga dan keadaannya Rama merasakan lidahnya kelu, ia bingung harus bagaimana.
Aga selalu ingin Rama berbohong, mengatakan Aga pulang ke rumah orang tuanya untuk fokus skripsi. Tapi Dira bukanlah anak kecil yang gampang dibodohi, Dira selalu menekan Rama.
"Kenapa dia jahat banget? Gue emang salah apa Ram?"
"Gue ngerepotin ya? Pasti gara-gara gue kena serangan panik dia jadi males sama gue"
"Masalahnya gue coba kontak dia pun dianya gak bales, di grup dia bisa muncul!"
"Mana muncul ngirim video kucing lucu, gue kan jadi inget dia"
Keluhan-keluhan itu Rama dengan lapang dada. Rama memang menjadi penyalur akan keluhan Dira mau pun Aga. Yang tidak ia habis pikir apa hubungannya kucing dengan Aga?
"Kenapa lo samain sama kucing?" Dira terkekeh pelan, "Dia itu kaya kucing liar, dulu gue awal liat dia kaya sensian banget terus cuek dan gak mau di deketin"
"Tapi sebenernya dia itu bisa jinak" percayalah Rama tertawa keras mendengarnya, Dira memang hanya mengutarakan pikirannya. Tapi bagi Rama ini adalah lelucon baru, ia jadi ingat beberapa kebiasaan Aga yang memang seperti kucing.
Aga benci mandi terlalu sering, kalau libur bahkan mandinya pun ikutan libur, senang tidur dan bisa lupa akan waktu walau sekalinya ia sibuk membuat lagu bisa membuatnya tidak tidur seharian. Aga juga suka memperlihatkan sisi angkuhnya, tapi ia juga bisa terlihat manis jika sedang dalam keadaan perasaan yang bagus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forever Young [ON GOING]
RomanceRasanya mustahil untuk tidak jatuh cinta diantara persahabatan ini, tapi rasanya akan seperti apa jika perasaan nyaman ini bukan hanya aku dan kamu? Persahabatan ini akan terus ada walau badai terus datang menghampiri bukan? 'Biarlah waktu yang me...
![Forever Young [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/223722115-64-k598193.jpg)