20. Arti

17 3 0
                                        

"Ram, udah siapin semuanya?" pertanyaan itu terdengar lebih santai, ia melihat manik mata perempuan yang kini menggerakkan kedua kakinya yang terambang di pinggir gazebo. Angin yang berhembus membuat sisi rambut Dira sesekali menyapu wajahnya.

"Udah kok" balasnya, berusaha untuk menjawab seadanya. Dira mengangguk, "Cek lagi ya, lo kan kadang teledor kalo naro barang dan packingnya hati-hati" Dira tersenyum.

Ada perasaan teduh dalam diri, mendengar ucapan lembut dari perempuan yang suah mengombang-ambingkan perasaannya ini. Rama hanya mengangguk, hanya itu yang bisa ia keluarkan.

"Oh iya, lo ngajak keluar gini tumben. Ada apa?"

Keduanya kini duduk dengan jarak yang tidak jauh, tidak saling berhadapan karena mereka lebih memilih memandang ke arah taman yang masih sepi.

"Gue mau ngabisin waktu sama lo, sebelum lo pergi" ucap Dira

"Gue tau ini semua pasti udah lo siapin sejauh itu, dan gue ngerasa bersalah kalo gue harus marah. Harusnya gue dukung lo yakan? maaf ya, gue udah egois dan nyakitin lo" tambahnya

Rama masih mendengar dengan seksama, ia tau perempuan disampingnya masih akan mengeluarkan kalimat lainnya dan kini biarkan telinganya bekerja dan otaknya meresapi setiap perkataan Dira.

"Ini salah satu impian lo, kejar dan jalanin ya Ram. Gue bakal seneng kalo apa yang lo kejar itu tercapai, peluang lo buat masuk label musik ternama juga bakal kebuka lebar kalo lo punya pengalaman bagus di sana" terdengar helaan napas dan juga terpaan angin yang lagi-lagi menerpa wajah manis Dira.

"Kemarin gue marah, marah banget sama diri sendiri dan ngerasa gue bodoh banget. Respon gue terkesan gak semestinya, dan semuanya udah gue pikirin, Ram" Dira menoleh, memberanikan dirinya menghadap lelaki yang sedari tadi diam mendengarkannya.

Rama membalikkan tubuhnya, kini keduanya dudu sila dan saling berhadapan.

"Ram, entah apa yang terjadi sama gue. Selama gue deket sama lo, gak pernah ada rasa ragu dan juga gue selalu ngerasa aman. Banyak hal yang selalu kita lakuin bareng dan banyak hal juga yang terlewati selama kita deket, itu jadi cerita yang warnain hidup gue di perkuliahan"

Rama mengangguk pelan, ia dapat melihat bahwa mata bulat perempuan itu hampir berkaca-kaca.

"Fuh...." Dira berusaha dengan mengatur napasnya, menatap Rama seintens ini dan membahas perasaannya langsung ternyata tidak semudah bayangannya. Pikirannya buyar, bahkan semua kalimat yang sudah ia pikirkan matang-matang seolah berantakan tersapu angin.

"Hei, santai aja oke?" suara berat Rama kini terdengar seolah menepuk dirinya yang gelisah akan semua pikirannya.

"Gue udah pikirin semuanya, harusnya gampang keluarin semua ini" keluh Dira

Rama terdiam, ia dapat merasakan bahwa suasananya tak lagi seperti harapnya. Kembali pada ingatannya beberapa hari terakhir, ia pun berusaha mengeluakan pikirannya kali ini.

"Boleh gue potong?" ucapnya, Dira terdiam.

"Gue tau, bakal kemana pembahasan lo. Kalo memang lo pikir gue gak tau, gue tau kok Dir" ucapan itu membuat Dira terdiam, walau sempat dirinya memberikan tatapan terkejut dalam diam.

"Gue juga ngerasa bodoh, harusnya gue sadar kalo pdkt terlalu lama bisa buat gue keduluan orang lain" Rama tertawa canggung, menggaruk tengkuknya yang pasti tidak gatal.

Dira memutar pandangannya, ada apa dengan ucapan Rama?

"Selamat ya" ucap Rama tersenyum dengan raut yang sangat jelas menyembunyikan luka.

Forever Young [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang