36. Arah

8 3 0
                                        

Alih-alih mengetuk pintu kamar, Dira justru kaget melihat pintu kamar Alen terbuka, menampakkan Alen yang masih menangis. Wajahnya kacau, rambutnya berantakan dan juga pakaiannya masih sama seperti awal ia berangkat ke kampus hari ini.

"Len, maafin gue" Dira memeluk Alen dengan kencang, membuat Alen hampir batuk karenanya.

"Lo kenapa?" suara serak Alen tidak dihiraukan, Dira memeluk sahabatnya seolah diringa tidak akan berjumpa lagi.

"Gue sahabat yang buruk, harusnya gue ada buat di samping lo. Lo lagi terpuruk" ucapan itu menggema, Alen membalas pelukan sahabatnya. "Dir" suara sendu itu terdengar menyedihkan.

Keduanya benar-benar menghabiskan semua cerita, membahas bagian apa saja yang belum terbahas selama ini. Alen dan Dira sama-sama menangis, menceritakan kisah sedih yang pada akhirnya harus memberikan sebuah pilihan sulit.

"Jadi lo mergokin Villan ngobrol sama perempuan itu lagi?" Alen mengangguk, matanya masih bengkak dan sesekali menghapus air mata yang turun di pipinya.

Alen menceritakan semua secara runtut dari pandangannya, Dira senantiasa menemani dan mendengarnya. Semuanya terasa jelas bahwa Alen dan Villan memang sudah menyimpan masalah ini cukup lama, hanya saja puncak masalah ini keluar saat Alen ketahuan jalan dengan Jira. Villan marah tentunya, tapi nyatanya Alen juga menyimpan amarah yang sama. Benar-benar keadaan hubungan ini tidak sedang harmonis.

Di sisi lain, Baim sebagai sahabat yang baik senantiasa menemani Villan bergalau ria. Villan bahkan mengajak Baim untuk mabuk malam ini, tidak peduli dengan kelas pagi esok hari.

"Peduli setan, gue patah hati" keluh Villan, Baim mengusap dadanya melihat kelakuan Villan saat ini. Villan terlihat tidak bisa mengatur dirinya sendiri, bahkan dirinya tidak peduli bahwa semua ucapan kasarnya sudah keluar dengan ringan dari bibirnya lebih dari biasanya.

"Gue join" Sena keluar dari kamar, melempar uang dua ratus ribu di karpet.

Villan dan Baim menoleh padanya, tampilan Sena terlihat kacau tidak jauh berbeda dengan Villan.

"Sobi gue banget, sini duduk" Villan menyambutnya. Sena duduk masih dengan wajah murungnya.

"Shit, lo berdua kenapa sih?"

"Ini pancingan gue" Villan mengeluarkan dua ratus ribunya sama seperti jumlah yang Sena keluarkan diawal, Baim menggeleng tidak percaya.

"Gausah ditambah lagi Kak, dari kita aja"celetuk Sena

"Gue gak mau minum, ayolah kalian mending nangis dari pada minum malem ini" keluh Baim

"Nangis tanpa minum kaya sayur tanpa garem" celetuk Villan

"Galau tanpa mukul orang gak enak, jadi gue mending mabok" tambah Sena

Baim mengehela napas kasar, "Bangsat ya lo berdua, awas aja kalo mabok lo rusuh gue usir" Baim menarik uang itu dan berlalu untuk membeli minuman.

📽📽📽

Rama baru saja sampai kontrakan, dirinya baru saja selesai dengan urusan rekaman musik di kampus. Kebetulan ada tugas rekaman musik, ia membantu beberapa juniornya dan itu cukup memakan waktu.

Wajah lelahnya itu disambut oleh Aga yang sedang menonton film, Jira sedang masak di dapur. Hari ini tidak ada Damar, ia harus pulang ke apartemennya setelah berhari-hari tinggal di kontrakan.

"Tadi gue dapet telpon dari Baim, nyariin Dira" sebuah pembukaan yang tidak mendapat balasan dari Aga. Aga hanya melirik, enggan bertanya.

"Lah? Emang dia kemana?" Jira datang dengan mengenakan celemek berwarna abu muda yang menutupi kaos putihnya, membawa sepiring besar nasi goreng untuk makan malam bersama.

Forever Young [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang