Ada beberapa murid yang sedang berlatih pedang atau panah. Dan bersenang-senang sambil berlari. Suasana di Paviliun Mingyue terlihat hangat dan menyenangkan sejak pagi hari. Pada malam hari, Xiao Xingchen sedang menatap langit yang ditaburi bulan dan bintang di balkon. Dunia ini terlihat begitu kejam namun indah secara bersamaan. Tapi apakah itu benar? Dia sudah lama mati dan sekarang dia terlahir lagi.
Jika dia ingin pergi untuk melihat dunia, lalu bagaimana anak-anaknya? Dia bisa saja membawa mereka. Tapi siapa yang akan menjaga sekte mereka? Pikirannya terasa rumit. Sejujurnya, dia tidak tega untuk meninggalkan mereka. Tapi kedua anak kembarnya masih memiliki banyak jadwal kelas.
Dia merasakan sepasang lengan memeluk pinggangnya dari belakang. Dia sudah bisa menebak siapa pihak yang memeluknya.
“Apa ada yang mengganggu pikiranmu Xingchen?”
“A-Lan. Aku.. Aku ingin melihat dunia.”
“Maksudmu.. Kau ingin mengembara lagi?”
Xiao Xingchen mengangguk pelan sebagai responnya untuk semuanya. Tubuhnya dibalikan oleh suaminya agar dia bisa menatapnya. Tatapan Daozhang berjubah hitam begitu lembut dan hangat. Dia bisa merasakan kehangatannya. Dia dibawa ke dalam dekapannya olehnya.
“Baiklah. Jika kau ingin melihat dunia, aku akan menemanimu untuk melihatnya.”
Daozhang berjubah putih itu terkesiap lirih lalu mengangkat kepalanya untuk menatap suaminya. “Tapi.. Bagaimana dengan anak-anak kita?”
“A-Zhen kita sudah dewasa bukan? Aku yakin dia bisa merawat dan menjaga mereka. Dia sudah cukup matang untuk memimpin sekte kita.”
“A-Lan.. A-Zhen masih sangat muda. Jika dia diberi tanggung jawab seberat itu, dia akan frustasi. Itu masih terlalu dini untuknya!”
“Percayalah pada putri kita Xingchen. Dia bisa memimpin sekte kita. Yang perlu kita lakukan adalah melatihnya.” Song Lan menyentuh kedua pipi Xiao Xingchen sambil tersenyum tipis padanya.
“Tapi aku khawatir dia akan frustasi dengan posisinya. Dia masih sangat muda.” Kata Xiao Xingchen dengan suara yang lirih sambil menundukan kepalanya.
“Xingchen. Jiang Zongzhu memimpin sektenya di usia 17 tahun. Jika dia bisa, A-Zhen juga pasti bisa.”
“Tapi Jiang Zongzhu kehilangan Ayahandanya. Mendiang kakaknya bukan seorang kultivator. Mau tidak mau dia harus memimpin sektenya.”
“Bukankah kau ingin melihat dunia? Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian lagi. Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri. Aku yakin A-Zhen bisa memimpin sekte kita. Dia sudah terbiasa memimpin generasinya. Tidak mungkin dia tidak bisa memimpin rumah kita. Dia adalah pemimpin yang luar biasa, bahkan lebih hebat dariku. Percayalah pada putri kita Xingchen.”
Xiao Xingchen teringat dengan suatu ramalan yang ia dengar seorang peramal yang mengatakan bahwa putrinya terlahir dengan jiwa yang seperti seorang pemimpin. Jika dia amati bagaimana dia mengayomi teman-teman seangkatannya, dia bisa melihat seorang pemimpin yang berwibawa di dalam dirinya.
Ramalan itu ternyata benar. Itulah kenapa suaminya benar-benar mempercayai putrinya. Selama ini dia merasa dia merasa sudah menjadi Ibu yang bodoh.
“Xingchen..” Song Lan memanggil suaminya sambil menepuk kedua pundak mungilnya.
“A-Lan..”
“A-Zhen adalah anak yang hebat. Dia sudah terlatih secara spiritual, fisik dan mental. Kau tahu? Dia dijuluki sebagai Daoshi wanita terlangka yang pernah ada dimuka bumi ini karena kehebatannya dan kecantikannya yang langka. Semua teman-temannya selalu mengikuti setiap contoh yang ia lakukan. Apa kau masih meragukan putri kita?”
Daozhang berjubah putih itu terdiam sambil menundukan kepalanya. Rasanya dia ingin menampar dirinya sendiri karena sempat meragukan putri tercintanya. Usianya sudah matang dan bisa mengayomi teman-temannya.
“Bodohnya aku sudah meragukan A-Zhen kita.” Kata Xiao Xingchen disela-sela senyuman mirisnya.
Song Lan tersenyum tipis dan membawa suaminya ke dalam pelukannya. “Kau harus percaya pada A-Zhen, Istri.”
“Aku percaya pada A-Zhen kita, A-Lan.” Kata Xiao Xingchen sambil membalas pelukan suaminya.
“Besok persiapkan dirimu. Kita akan berangkat.”
.
.
.
Pada keesokan harinya, Xiao Xingchen mengangkat tas kain yang isinya adalah pakaiannya dan suaminya. Kali ini dia tidak akan membawa Shuanghua bersamanya tidak hanya karena energi spiritualnya yang lemah pasca melahirkan Song Yongjiu dan Song Huqian hingga dia tidak bisa berkultivasi lagi sebagai resikonya, melainkan dia akan memberikan pedangnya pada putranya.
Dia melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya menuju halaman luar aula utama. Sesampainya di aula utama, dia menatap suaminya yang sudah menunggunya.
“Ayah, Ibu.”
Mereka menoleh pada sosok yang menyapa mereka. Dia memakai jubah biru dengan overgarmen tanpa lengan abu-abu. Rambutnya begitu panjang sampai bokongnya seperti Ibunya dan mengenakan jepit ornament bunga dan bulan purnama. Wajahnya juga sangat cantik bagaikan bulan purnama dan mutiara namun dingin dan gelap bagaikan malam yang terang.
“A-Zhen.” Xiao Xingchen berjalan mendekati putrinya dan memeluknya dengan hangat. “Kau benar-benar anak yang hebat sayang.” Dia mencium keningnya.
“Nn?” Song Yueliang bingung mengapa Ibunya tiba-tiba mengatakan seperti itu. Tapi setidaknya dia berada dipelukan Ibunya. Itu sudah cukup.
Xiao Xingchen melepaskan mahkota khas pemimpin sekte yang memiliki lambang Dao dari rambutnya. “Mulai sekarang, A-Zhen akan memimpin sekte kita.”
“Apa? A-Zhen? Tapi A-Zhen?” Song Yueliang terkejut dengan perkataan Ibunya. Dia menatap mahkota khas pemimpin sekte di rambutnya.
“Kau masih muda, putri kami. Kau akan mengalami sesuatu yang baru. Ada tantangan baru yang akan menunggumu. Tapi kau sudah memiliki pengalaman sebagai pemimpin, kami yakin kau bisa menghadapi semuanya tanpa khawatir.” Kata Song Lan sambil menepuk pundak putri mereka.
Daogu muda itu terkesiap kaget mendengarnya. Sejak kapan dia memiliki jiwa kepimpinan? Dia sama sekali belum ada pengalaman memimpin.
“T-Tapi.. Tapi..”
Xiao Xingchen tersenyum lembut dan menyentuh pipi putrinya. “Kau bisa melakukannya sayang. Kami percaya padamu. Kau tegas, bajik dan penuh dengan kebijaksanaan. Kami yakin A-Zhen bisa memimpin Paviliun kita dengan keanggunanmu.” Dia mengeluarkan jaket luaran tanpa lengan dari jubah putihnya dan memakaikannya padanya.
“Ayah, Ibu. Kalian mau kemana? Tapi A-Zhen masih..”
“Ibu terkasihmu ingin melihat dunia untuk kedua kalinya. Ketika kami tidak ada disamping kalian, kami yakin kau bisa menjaga satu sama lain, mengayomi dan melindungi adik-adikmu. Kau bukan lagi anak-anak. Kau sudah terlatih secara spiritual, fisik dan mental.” Kata Song Lan sambil menepuk pundaknya.
“Kapan Ayah dan Ibu akan pulang ke Rumah?” Song Yueliang bertanya sambil menundukan kepalanya. Raut wajahnya pun terlihat sedih.
“Kami tidak yakin kapan kamu akan kembali ke rumah. Tapi kami pastikan kami akan pulang.” Kata Xiao Xingchen sambil menyentuh pipi Song Yueliang dan tersenyum lembut padanya.
Melihat ekspresi sedih putrinya, dia memeluknya sambil mengelus rambutnya. “Oh cintaku. Kenapa A-Zhen sedih hm? Kami akan pulang, kami janji.”
“Kami.. Kami akan merindukan Ibu dan Ayah..” Kata Song Yueliang sambil membalas pelukan Ibunya.
“Kau harus tabah dan kuat A-Zhen. Demi adik-adikmu, teman-temanmu dan para juniormu.” Kata Song Lan sambil mengelus punggung.
“Mm.” Song Yueliang mengangguk pada kedua orangtuanya. “A-Zhen pasti akan tabah dan kuat.”
“Anak pintar.” Xiao Xingchen mencium kening putrinya dengan penuh kasih.
“A-Jie adalah pemimpin sekte kita?”
Mereka bertiga menoleh pada dua anak kembar non identik. Mereka mengenakan jubah putih hitam. Mereka memiliki wajah yang rupawan namun aura mereka berbeda.
“Iya Shi-er sayang.” Kata Xiao Xingchen setelah dia melepaskan pelukannya dari putri sulungnya.
“Tapi kenapa Ayah? Ibu?”
“Han-er. Ibu kalian ingin melihat dunia. Kami akan mengembara bersama.” Kata Song Lan.
“Apa kami boleh ikut?” Song Huqian bertanya pada kedua orangtuanya.
“Kalau kalian ikut bagaimana dengan kakak kalian? Ada banyak teman-teman kalian yang membutuhkan kalian sayang. Ibu.. Ibu tidak bisa berkultivasi lagi..”
“Apa?!”
“Ibu kalian berjuang melahirkan kalian dan kakak kalian. Setelah kelahiran kalian, Ibu kalian tidak bisa memulihkan energi spiritual dan meridiannya. Terutama tubuh barunya sangat lemah.” Kata Song Lan.
Itu lah kenapa mereka sudah memiliki energi spiritual dari sejak mereka masih bayi. Ibu mereka mengorbankannya demi perkembangan mereka. Perasaan mereka menjadi tidak nyaman.
Xiao Xingchen tersenyum hangat pada ketiga anak-anaknya dan memeluk mereka. “Tidak apa-apa sayangku. Hari kelahiran kalian adalah berkah terindah untuk kami.” Kemudian dia mengalihkan pandangannya pada suaminya. “Iya kan A-Lan?”
“Benar Xingchen.” Song Lan berjalan mendekati suami dan anak-anaknya lalu ikut memeluk mereka.
“Ka-Kapan Ibu dan Ayah akan pulang?”
“Kami tidak tahu kapan kami akan pulang, Shi-er. Tapi kami pastikan kami akan pulang ke Rumah.” Kata Song Lan sambil mengelus rambutnya.
“Ibu.. Ayah.. Shi-er, A-Jie dan Xiongzhang akan sangat merindukan Ayah dan Ibu..” Song Huqian mengeratkan pelukannya pada kedua orangtua mereka.
Daozhang berjubah putih itu tertawa lembut dan mengelus rambut putri bungsunya. “Sudah sudah sayang.”
“Jadilah putri yang mandiri Shi-er. Kau memiliki jiwa yang tenang dan murni. Jika kedua kakakmu dalam suasana hati yang buruk, kau mampu menjaga mereka dan menenangkan mereka.” Song Lan berujar sambil mengelus punggungnya.
“Iya Ayah. Iya..”
“Nak..”
“Iya Ibu?”
“Ibu mempercayakan Shuanghua padamu mulai sekarang hingga selamanya.” Kata Xiao Xingchen sambil menyerahkan Shuanghua pada putranya.
Song Yongjiu terkesiap kaget mendengar Ibunya akan menyerahkan Shuanghua padanya. “Tapi.. Ini adalah pedang Ibu yang sangat berharga. Apa.. Apa Song Yongjiu ini pantas menerimanya?”
“Tentu saja kau pantas menerimanya nak. Lagipula, kau adalah putra kami Han-er.” Song Lan tersenyum kecil dan mengelus rambutnya.
“Adik dan kakakmu sudah punya pedang sendiri sayang. Ibu ingin Han-er membawa Shuanghua. Shuanghua juga sudah menganggapmu sebagai masternya.” Kata Xiao Xingchen sambil tersenyum lembut.
“…..”
“Ada apa nak? Apa kau ragu?” Song Lan bertanya pada putra mereka.
Song Yongjiu menggeleng kepalanya untuk menghilangkan keraguannya. “Baiklah.” Dia pun menerima Shuanghua dari tangan Ibunya. Dia membungkuk hormat pada mereka. “Song Yongjiu ini tidak akan mengecewakan Ayah dan Ibu.”
Xiao Xingchen tersenyum penuh kasih pada putranya. “Kau benar-benar anak yang baik. Han-er kami.” Dia mencium keningnya.
“Ayah..” Song Huqian memanggil Ayahnya dengan suara yang terdengar seperti orang yang ingin menangis.
“Ada apa Shi-er?” Song Lan merespon putranya sambil tersenyum tipis.
“L…Li.. Lindungi Ibu..” Kata Song Huqian sambil menahan tangisnya.
“Ayah akan melindungi Ibu kalian, Shi-er. Yakinlah.” Kata Song Lan sambil menepuk kepala putrinya dan mencium keningnya.
“Mm.” Song Huqian mengangguk pada Ayahnya.
“Xingchen. Mari kita berangkat.”
Melihat kesedihan dari ekspresi suaminya, Song Lan menepuk kedua pundak mungilnya. “Ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”
“A-Lan.. Aku..”
“Beritahu aku Xingchen.” Kali ini kedua tangannya menyentuh kedua pipinya.
“Aku ingin memeluk anak-anak kita yang sangat berharga A-Lan. Izinkan aku memeluk mereka sebelum kita pergi. Ini akan menjadi pelukan selamat tinggalku untuk mereka.”
Hati mereka terjatuh sampai kebagian terbawah. Sejujurnya, mereka tidak rela Ibu dan Ayah mereka pergi. Mereka masih membutuhkan mereka disamping mereka. Air mata mereka mengalir dari kedua mata mereka.
“Peluk mereka Xingchen.”
“Mamaa.. Ayaah..”
“Ibu, Ayah..”
“Anak-anak kami.” Xiao Xingchen merentangkan kedua tangannya dan menyambut mereka bertiga ke dalam pelukannya. Dia tersenyum penuh kasih pada mereka dan mencoba untuk menahan tangis. “Anak-anak kami yang paling berharga. Anak-anak yang baik.” Dia mencium kening mereka secara bergantian.
“Mamaa.. Mamaa..” Song Huqian terisak dipelukan Ibunya. Kedua kakaknya juga terisak tersedu-sedu.
“Jadilah anak-anak yang hebat dan baik A-Zhen, Han-er dan Shi-er. Latih diri kalian sampai kalian menjadi kuat. Namun jangan paksakan diri kalian karena setiap manusia punya batasnya. Jangan lupa untuk makan dengan teratur. Tidurlah tepat pada waktunya. Jangan begadang. Pastikan kalian bertiga tetap hangat, sehat dan terjaga ya. Pastikan..” Seketika air mata Xiao Xingchen mengalir dari kedua matanya. Dia terisak pilu sampai dia tidak melanjutkan kata-katanya. Sejujurnya dia juga tidak rela harus berpisah dengan mereka. Dia merasa sudah egois. “Pastikan impian kalian menjadi kenyataan. Belajarlah dengan baik. Dan satu lagi.. Ibu mohon.. Jangan lupakan kami.. Kami.. Kami sangat mencintai kalian.. sangat.. sangat..”
“Mamaa…”
“Ibu terkasih. Jaga diri Ibu dan Ayah juga. Kami.. Kami akan lakukan semua pesan dari Ibu..” Kata Song Yueliang disela-sela tangisannya.
“Dan kami akan merindukan Ayah dan Ibu..” Kata Song Yongjiu disela-sela tangisannya.
Daozhang berjubah putih itu semakin mengeratkan pelukannya pada anak-anak mereka. Seolah dia tidak ingin melepaskan mereka. Dia juga ingin memasukan mereka kembali ke dalam rahimnya dan membawa mereka mengembara bersamanya dan suaminya.
“Terima kasih banyak.. Terima kasih, terima kasih. Terima kasih sudah lahir ke dunia ini dan menjadikan kami orangtua kalian.. Anak-anak kami yang hebat.. anak-anak kami tercinta.. Ibu.. Ibu sangat.. sangat.. mencintai kalian.. Kalian adalah harta terindah yang terlahir untuk kami..”
Bahkan anak-anak mereka tidak bisa menahan emosi mereka hingga tangisan mereka semakin menjadi-jadi. Antara Ibu dan anak-anak, mereka saling melampiaskan air mata mereka pada satu sama lain.
Song Lan yang melihat adegan penuh haru dengan tatapan yang mengharu biru. Tanpa ia sadari, dia pun ikut meneteskan air mata. Sejujurnya, dia juga tidak rela harus berpisan dengan anak-anak mereka.
“A-Lan.. Jika kau ingin memeluk mereka, kemarilah..” Kata Xiao Xingchen disela-sela tangisannya.
Daozhang berjubah hitam itu berjalan mendekati mereka lalu memeluk mereka dengan hangat dan erat. Dia juga tidak ingin melepaskan mereka.
“Ayaah..” Song Huqian menangis sambil membalas pelukannya.
“Dengarkan Ibu kalian, putri kami.”
“Ibu, Ayah.. Terima kasih sudah menjadi orangtua kami, guru kami dan pemadu kami. Kami sangat senang Ayah dan Ibu adalah orangtua kami.. kami sangat menyayangi kalian.. sangat..” Kata Song Yueliang disela-sela tangisannya.
Song Lan terkekeh dengan lirih. Tangannya mengusap rambutnya dengan lembut. “Ini pertama kalinya kau berbicara banyak kata dan kalimat, A-Zhen.”
Tangisan Song Yueliang semakin menjadi-jadi.
“Kalian benar-benar anak-anak yang luar biasa. Dan itu benar. Kami sangat senang dan bersyukur bisa menjadi orangtua kalian. A-Zhen. Cinta kami.. Putri pertama kami. Masa depan Paviliun ada ditanganmu sayang.” Xiao Xingchen mencium kening putri sulungnya dengan lembut.
“Benar. Kau adalah pemimpin sekte sekarang. Kami percayakan Paviliun Mingyue padamu.”
“A-Zhen.. A-Zhen akan melakukan yang terbaik, Ayah.. Ibu..” Kata A-Zhen disela-sela tangisannya.
“Sebagai kakak untuk adik-adikmu, jadilah guru untuk mereka. Ajari mereka tentang hal yang benar oke?” Kata Xiao Xingchen disela-sela tangisannya.
“A-Zhen akan melakukannya Ibu..”
Xiao Xingchen mencium kening anak-anak mereka secara bergiliran. Song Lan pun juga melakukan hal serupa. Ini adalah kekuatan cinta dan kasih sayang orangtua pada anak mereka.
“Papaa!”
Song Lan tertegun ketika putri bungsunya memanggilnya dengan begitu manis. Hatinya bergetar hangat. Dia tersenyum tipis dan menyentuh pipinya. Kening mereka saling bersentuhan.
“Ada apa putriku?”
“Berjanjilah pada Shi-er.. Shi-er mohon.. Shi-er mohon lindungi Mama.. pulang lah untuk kami..” Kata Song Huqian disela-sela tangisnya.
Song Lan mencium kening putrinya dengan lembut. “Ayah akan melindungi Ibu kalian, Shi-er. Ayah tidak akan membiarkan Ibu kalian terluka sedikitpun. Dan.. untuk harapanmu yang lain, maafkan kami nak. Kami tidak tahu apa kami bisa memenuhinya.” Dia pun mendekapnya.
Gadis kecil itu menggeleng kepalanya dan menatap Ayahnya. “Papa harus janji!! Papa dan Mama harus pulang ke rumah untuk kami! Jamgan mati..”
Daozhang berjubah hitam itu menghela napasnya lalu menatap gadis berusia 12 tahun itu dengan penuh kasih sayang. “Baiklah nak. Kami akan pulang untuk kalian bertiga setelah petualangan kami selesai.”
Isak tangis Song Huqian semakin menjadi-jadi sambil membenamkan wajahnya dipelukan Ayahnya.
“A-Zhen, Han-er, Shi-er. Ayah tidak memiliki apapun yang ingin Ayah katakan karena perkataan Ayah sudah diwakilkan oleh Ibu kalian. Pesan Ayah tidak jauh beda dengan Ibu kalian. Jadi.. dengarkan apa kata Ibu terkasih kalian.” Kata Song Lan.
“Papaa..”
“Kami akan mendengarkan apa yang Ibu katakan pada kami, Ayah.” Kata Song Yongjiu disela-sela tangisannya.
Song Lan mengangguk pada ketiga buah hati mereka. Dia mengalihkan pandangannya pada suaminya yang masih terisak pilu. Dia mengelus rambutnya dengan lembut.
“Mari kita berangkat Xingchen.”
Daozhang berjubah putih itu menghapus air matanya. Dia menatap ketiga buah hati mereka dengan penuh kasih sayang. Kedua matanya masih berlinang air mata.
“Anak-anak kami yang berharga. Cinta kami. Sampai jumpa lagi. Jaga diri kalian. Isi kekosongan hati kalian dengan saling menyayangi dan menguatkan satu sama lain. Lindungi satu sama lain. Ibu dan Ayah.. sangat.. sangat.. sangat.. mencinta kalian.. selalu..”
Ketiga anak-anak mereka menangkup kedua tangan mereka ke depan dan membungkuk hormat pada kedua orangtua mereka. Mereka menatap punggung mereka yang akan menjauh dari mereka.
“Papaa~ Mamaaa~” Kedua kakaknya memeluknya dengan hangat ketika kakinya terjatuh ke jalanan. Isak tangisnya semakin menjadi-jadi.
Sambil memeluk adiknya, Song Yongjiu menatap Shuanghua ditangannya. Dia menggenggamnya dengan erat.
Ibu, Ayah. Saya janji.. Saya akan gunakan harta karun ini dengan baik dan layak. Song Yongjiu ini tidak akan mengecewakan Ibu dan Ayah.
Selama dalam perjalanan, Xiao Xingchen menahan isak tangisnya dengan telapak tangannya. Dia ingin segera kembali ke Paviliun dan memeluk ketiga buah hatinya dan tidak ingin melepaskan mereka.
Menyadari ekspresi suaminya, Song Lan menghentikan langkahnya dan mendekapnya dengan hangat sambil mencium pucuk kepalanya untuk menenangkannya.
“A-Lan.. Aku sudah sangat egois sekali.. Aku meninggalkan buah hati kita hanya untuk kepentinganku sendiri..” Kata Xiao Xingchen disela-sela tangisnya.
“Xingchen. Semua manusia tidak bisa lepas dari keegoisan. Itu wajar. Anak-anak kita juga paham akan ini. Mereka tidak akan pernah membencimu. Sudah kukatakan padamu, aku akan selalu memegang teguh sumpahku untuk tidak membiarkanmu sendirian dan melindungimu.”
Isak tangis Xiao Xingchen semakin terjadi-jadi. Dia mengeratkan pelukannya pada suaminya. Dia takut ketiga buah hati mereka akan membencinya untuk ini. Itu adalah ketakutan terbesar di hidupnya. Bayangan dimana dia menyapa mereka bertiga namun mereka tidak mendengarnya dan terus berjalan tanpa menghiraukannya. Dia tidak mau itu terjadi.
“A-Lan.. Aku takut.. Aku sangat takut..”
“Apa yang kau takutkan istri?”
“Aku takut.. Aku takut anak-anak kita membenciku.. Aku.. Aku sangat sangat mencintai mereka lebih dari apapun dia dunia ini.. Jika aku disuruh untuk menukarkan nyawaku untuk mereka, aku rela melakukannya. Jika kita hidup miskin, aku tidak peduli. Aku tidak ingin anak-anak kita membenciku..”
“Sst.. Jangan berpikir begitu Xingchen. Tidak mungkin mereka akan membencimu. Dilubuk hati mereka yang terdalam, mereka sangat mencintaimu lebih dari apapun. Shifu bilang padaku, Ibu terlebih dahulu kemudian Ayah. Mereka tahu pengorbananmu sangat menyentuh dan menggerakan hati mereka. Xingchen tidak boleh berpikiran seperti itu.” Kata Song Lan sambil menghapus air mata suaminya.
“A-Lan..”
“Percaya lah pada mereka, Xingchen. Mereka sangat mencintaimu lebih dari apapun.”
Benar. Tidak seharusnya dia berpikiran seperti itu pada mereka. Setiap kali dia sedang melakukan sesuatu, mereka selalu mendekatinya dan bermanja-manja padanya. Ketika mereka mendengar namanya disebut, hati mereka selali bergetar hangat. Itu sudah membuktikan betapa mencintainya mereka padanya.
“Walaupun jarak diantara kita dan anak-anak kita sudah jauh, tapi hati kita selalu tersambung pada satu sama lain.” Kata Song Lan sambil tersenyum tipis padanya.
Hati Xiao Xingchen berdesir hangat mendengar. Dia menempatkan tangannya pada hatinya. Merasakan getaran hangat dari ketiga buah hati mereka. Dan benar saja, dia bisa merasakannya.
“A-Zhen, Han-er, Shi-er. Ibu sangat mencintai kalian..”
“Mari kita lanjutkan perjalanan kita Xingchen.”
Dia menoleh pada suaminya dan mengangguk padanya. Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka bersama. Kekuatan cinta dan kasih sayang orangtua pada anak-anak mereka memang tidak ada habisnya. Hati dan jiwa mereka akan selalu tersambung pada satu sama lain.
Itu karena mereka sangat mencintai mereka.
The End
KAMU SEDANG MEMBACA
New Life
FanficKedua Daozhang legendaris telah kembali ke dunia ini. Akankah mereka bisa kembali bersama lagi seperti dahulu kala? Apakah mimpi mereka akan menjadi kenyataan?
