28 || Penyesalan Berujung Menyulitkan

453 22 4
                                        

AYO JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN NYA GUYS

✨HAPPY READING✨

Ares membantu Ara untuk duduk di kursi rodanya, hari ini Ares membawa Ara untuk konsul mengenai fisioterapi yang akan dijalani nya. Setelah check up minggu lalu, dokter memberitahu bahwa Ara memiliki kemungkinan untuk bisa sembuh kembali. Tentu hal itu membuat Ara bersyukur, doanya pada Tuhan tidak sia-sia.

"Setiap pagi, badan mu harus kena sinar matahari ya. Panas matahari pagi itu sehat untuk tubuh, tak usah lama cukup 30 menit saja." Sahut dokter menjelaskan sembari mengecek hasil rontgen kaki Ara.

"Bagus kok, retaknya sudah terbantu oleh gips." Sambung sang dokter.

"Jadi kapan saya bisa ikut fisioterapi dok?" Antusias Ara.

"Secepatnya, jika retak kaki mu sudah membaik."

Setelah kurang lebih 1 jam konsultasi, Ara dan Ares kembali pulang ke kediaman Ara. Keadaan rumah tampak rusuh, Ara mendengar teriakan-teriakan dari luar.

"Res buruan deh!" Kesal Ara karena Ares masih dengan hati-hati memangku Ara.

Tangisan Gwen terdengar sangat keras bertepatan dengan terdengarnya pecahan kaca dari dalam.

"Putri, cukup jangan mempermalukan dirimu di depan Armeira!!" Sentak Jovan.

Ara melihat dengan jelas pecahan kaca berserakan dimana-dimana. Gwen mengekor di belakang Armeira sedangkan Wenda di samping Armeira sembari merangkulnya.

"Ada apa ini?" Tanya Ara, Ares terus mendorong kursi rodanya mendekati Armeira.

"Oh ini anak kamu yang lumpuh mas?" Ujar Putri pada Jovan dengan nada merendahkan.

"Mas bilang cukup Putri!" Gertak Jova sembari mencengkram lengan Putri kuat.

"Apa sih kamu? Lepas dong mas." Gerutu Putri dengan wajah menahan sakit.

"Hallo anak lumpuh, gimana kabarnya?" Sahut Putri lengannya mengelus lembut rambut Ara namun tak lama, lengannya di tepis oleh Ares.

"Ga sopan ya sama orang tua." Ucap Putri pada Ares.

"Saya dateng ke sini, bukan untuk nengok kamu. Saya ke sini untuk menagih semua biaya rumah sakit dan pengobatan kamu." Beo Putri, semua yang mendengar heran.

Ares tersenyum dengan ujung bibirnya. Wanita gila, pikirnya dalam hati.

"Ada hak apa atas uang yang saya keluarkan untuk biaya Arabelle?!" Sinis Ares. Ia merasa tak terima jika wanita di hadapannya meminta hak atas semua uang yang ia keluarkan.

"Mas sudah bilang, mas tidak memberikan sepeserpun untuk biaya pengobatan Vanka." Sahut Jovan, kini wajahnya terlihat menahan malu.

Putri diam, namun otaknya tak diam. Ia terus memikirkan cara agar ia pulang tidak dengan tangan kosong.

"Saya tidak peduli, kalo gitu serahkan semua harta pemberian mas Jovan." Ujarnya kini menatap Armeira.

Satu tamparan mendarat di pipi Putri. Armeira menamparnya dengan penuh sesal, kali ini Putri memainkan emosinya.

"Kamu perempuan tidak tau diuntung! Mas Jovan tidak pernah memberikan apapun pada kami, dari kecil biaya pendidikan Ara pun saya yang tanggung sendiri!" Sentak Armeira.

Ares menyuruh Wenda untuk membawa Gwen pergi dari sana.

"Sertifikat tanah yang di serahkan itupun 100% adalah uang saya!" Sambung Armeira.

"Silahkan kalian berdua pergi dari kediaman kami. Selesaikan urusan kalian di tempat kalian, saya butuh istirahat." Simpul Ara.

"Sombong sekali kamu ini! Anak cacat seperti kamu bisa apa hah?!" Sentak Putri.

Arabelle [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang