Guys warning sedikit dari aku, ada sedikit kejadian yang berbau kekerasan dan dewasa di part ini. Untuk kalian yang mau skip part ini boleh, tapi yang tetep mau baca gapapa. Cuma nanti tanggung sendiri akhirnya.
HAPPY READING❤
🥀🥀🥀
Sesuai dengan apa yang Bela katakan, ia mengirimkan undangan acara ulangtahun ayahnya pada Ara. Undangan yang bertema semi formal itu tidak menerakan siapa yang memiliki acara. Ara terus mengingat-ngingat apa yang seharusnya ia ingat sekarang. Ara meremas rambutnya, berharap bahwa memori itu muncul saat ini.
Ara bergegas meninggalkan kantornya. Ia memutuskan untuk menemui Armeira di butik, Ara berniat menanyakan apa yang ia pikirkan saat ini.
"Ara kemana?" Tanya Fadli setelah mengetahui wanita itu pergi begitu saja. Sye dan Diana menaikan kedua bahunya.
"Dia banyak misteri sekarang." Ujar Sye acuh lalu mengerjakan kembali pekerjaannya.
"Dihh Fadli juga." Gerutu Sye saat melihat Fadli berjalan tergesa-gesa meninggalkan kantor.
Ara memarkirkan mobil miliknya di butik Armeira. Pegawai memberitahu bahwa Armeira sedang berbelanja kain bersama Melan. Cukup lama Ara menunggu, sampai ia merasa kantuk dan memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di sofa ruangan Armeira.
Sedangkan Fadli, ia menghampiri seorang pria yang baru saja mengirimkan pesan padanya. Pria itu tersenyum sinis saat kehadiran Fadli. Ia memutar kursi kebangsaannya, berjalan menuju Fadli sembari memasukkan kedua tangan ke saku celananya.
"Jauhin Ara!" Ketus Fadli, pria di hadapan Fadli hanya tersenyum. Kemudian merubah posisinya menjadi duduk di meja dengan tangan kanan disimpan dekat telinga.
"GUE BILANG JAUHIN ARA!!" Sentak Fadli, kedua tangannya mengepal kuat.
"Gue ga akan jauhin Ara."
"Cukup lu bawa Sinta dari gue Ben!"
Ben tersenyum, ingatan Fadli ternyata masih menyimpan kejadian yang melibatkannya dengan Ben dan wanita bersama Sinta.
"Sin?" Sapa Fadli pada wanita yang sudah menunggu nya di balik pintu.
Sinta memeluk erat Fadli, tangisnya mulai terdengar di telinga Fadli. Fadli membalas pelukan Sinta. Bagi Fadli, tangis Sinta sangat menyayat hatinya. Mereka sudah berteman sejak SD, walaupun akhirnya Fadli yang harus mengubur dalam-dalam perasaan lebihnya pada Sinta.
"Dli, gue gagal jaga diri." Ucap Sinta terisak. Dibalik pelukan Fadli, ia mengepalkan kedua tangannya.
"Gue korban dari Ben hiks.."
Fadli menatap mata Sinta lirih, ia membawa Sinta untuk masuk ke apartemennya. Fadli memberikan secangkir air dan tisue untuk Sinta.
"Gue di paksa layanin Ben. Gue ga tau harus gimana, mencoba kabur gue jadi bahan siksaan dia Dli." Jelas Sinta sembari terisak kembali. Fadli mengerang frustasi mendengar penjelasan Sinta.
"Dli gue ga tau harus gimana ke depannya. Gue udah jadi perempuan gagal buat siapapun, gue ga tau harus gimana." Sahut Sinta dengan nada frustasinya.
"Masih ada gue. Gue yang bakalan tanggung jawab semuanya."
"Engga Dli. Gue banyak banget ngerepotin lo. Lo sahabat gue dan ga bakalan bisa lebih buat gue Dli."
"Sin?"
"Gue tau lu punya perasaan lebih ke gue. Tapi gue udah ga pantes buat lu Dli. Gue udah jadi perempuan kotor yang ga pantes buat dapet cinta kasih lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
Arabelle [COMPLETED]
Aktuelle LiteraturBagi Ara, Jovan adalah pemberi luka hati pertama untuk anak perempuannya. Ia meninggalkan keluarga nya demi seorang wanita yang menjadikan kekurangan Sarah Armeira menjadi kelebihannya. Jovan hanya melekat pada nama Ara, tetapi tidak di hatinya. Set...
![Arabelle [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/247911017-64-k416759.jpg)