07 || Fadli Diam

311 29 0
                                        

Setelah malam itu, Fadli dan Ara bersikap tidak seperti biasanya. Fadli yang diam tak menghiraukan Ara, bahkan selalu memalingkan wajahnya jika berpapasan dengan Ara. Sedangkan Ara, terlihat muring dan sedikit menjauh dari teman-temannya.

"Di, lu liat ada yang aneh ga dari Ara sama Fadli?" Ucap Sye, matanya dan mata Diana silih bergantian menatap Ara dan Fadli yang sibuk di meja nya masing-masing.

"Dli, 5 menit lagi makan siang nih. Skuy cari lunch." Teriak Diana. Fadli menaikan sebelah alisnya, kemudian mengiyakan tawaran Diana.

"Ra, makan siang bareng yuk??" Tawar Sye mendekatinya.

"Duh gimana ya Sye, Ben ngajak gue makan nih.

Hmm.. gimana kalau lu ikut aja? Gabung bareng kita?"

"Ish apaan sih lu. Masa lunch date ngajakin gue, ogah!! Gue mending susulin Diana sama Fadli, bye." Sahut Sye kemudian meninggalkan Ara di mejanya.

"FADLI!! DIANA!! GUE IKUTTTTT.." Teriak Sye menggema di ruangan dan segera memasuki lift yang di tahan oleh Fadli.

Setelah kurang lebih 10 menit menunggu Ben, akhirnya pria itu datang untuk menjemput Ara. Entah sejak kapan mereka dekat, yang jelas Ben selalu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitannya untuk mendekati Ara.

"Lama menunggu?"

"Kurang lebih 10 menit, but it's ok. Jalanan macet, apalagi tepat jam makan siang." Sahut Ara dengan senyuman manisnya.

Ben mengangguk, lalu melajukan mobilnya meninggalkan kantor tempat Ara bekerja.

Berbeda dengan Fadli dan kawan-kawan. Mereka memutuskan untuk makan di RM. Padang langganan mereka, letaknya di gang belakang kantor namun sangat terkenal dengan masakannya Padang di rumah makan mahal.

"Dli, lo kok diem-dieman sama Ara? Lagi ada masalah? Apa kalian jauh gini karena ada nya Ben di hidup Ara?" Tanya Sye tanpa basa-basi.

"Sye bego lo! Makan dulu napa." Gertak Diana. Karena makanan baru saja di hidangkan di meja mereka.

"Jadi lo sama Ara kenapa Dli?" Tanya Diana setelah makanan telah mereka habiskan.

"Gapapa."

"Kalo gapapa, kenapa lo seolah-olah ngejauh dari Ara?" Timpal Sye.

"Ara yang minta." Singkat Fadli lalu meninggalkan Sye dan Diana. Mereka saling menatap, kemudian kembali menatap kepergian Fadli lalu menyusul Fadli yang sedang membayar makanan di kasir.

Bertepatan dengan kembalinya mereka, mobil Ben memasuki kantor lalu Ara keluar dengan wajah yang sangat subringah. Fadli menyadari kedatangan Ara, namun ia segera memasuki kantor tidak seperti Diana dan Sye yang memutuskan untuk menunggu Ara.

"Hati-hati Ben!" Sahut Ara kemudian menutup pintu mobil Ben.

Ara berjalan menuju kedua temannya, matanya mencari sosok Fadli yang tadi sempat terlihat oleh matanya. "Fadli kemana?"

"Dia ke dalem duluan." Dingin Sye.

***

Ara menutuskan untuk diam sejenak setelah kerja nya selesai. Jam menunjukkan pukul 6 sore, ia melirik ke arah mushola yang masih menyala lampunya. Sudah menjadi kebiasaan Fadli pulang setelah sholat magrib. Cukup lama ia menunggu, sampai akhirnya Fadli keluar dari mushola dengan menggendong tas ransel miliknya.

"Dli?" Sapa Ara menghampiri Fadli yang sedang menggunakan sepatu sneakers nya.

"Kok kamu diem aja sih udah beberapa hari?" Sambung nya lagi.

"Dli?? Kok ga jawab sih?!!" Sahut Ara lagi dengan nada meningkat.

"Apa sih Ra?!" Gertak Fadli dengan nada sedikit terganggu.

"Kamu kok beda sih udah beberapa hari ini?"

Fadli tertawa simpul, ia bangkit dari duduk nya kemudian menghadap tegak ke arah Ara. "Kamu yang bilang kan supaya aku ga ganggu hubungan sama Ben?

Dli! Aku tau kamu sahabat aku. Tapi bisa ga untuk urusan ini kamu ga ikut andil? Itukan kata-kata kamu waktu itu?" Ucap Fadli menyepertikan nada bicara Ara pada beberapa kalimatnya.

"Ya tapikan bukan berarti kamu jauhin aku Dli. Aku cuma minta kamu ga ikut andil dalam hubungan aku." Ujar Ara.

"Terserah Ra. Aku capek!" Ucap Fadli lalu meninggalkan Ara begitu saja.

Ara terkejut dengan mada bicara Fadli. Setelah cukup jauh Fadli berjalan, Ara mengikutinya. Fadli segera memasuki mobilnya dan meninggalkan perkarangan kantor.

"Ra, lu masih di kantor, ngapain??" Tanya Diana yang menghampiri Ara di dekat pilar gedung.

"Oh, gue baru mood balik aja." Bohong Ara dengan menampaknya senyuman khasnya. "Lu sendiri belum balik Di?"

"Belum. Gue habis dari gedung agensi, ngasihin berkas buat event di Bali." Jawab Diana.

Ara memilih untuk duduk di tangga kantor, diikuti dengan Diana yang memang sedang menunggu sang calon untuk menjemputnya.

"Ra, lu gapapa kan?" Khawatir Diana yang melihat Ara kembali banyak diam.

"Di. Kalo misalnya lu punya sahabat lawan jenis, terus sahabat lu ga suka lu punya hubungan sama cowo lain. Menurut lu wajar ga sih?" Tanya Ara yang mulai terbuka. Memang benar, ia tak bisa menyembunyikan sedikitpun hal dari Diana.

"Jadi waktu itu, Fadli dateng ke rumah gue habis isya. Gue sedikit keras ngomong sama dia, intinya ga usah ikut andil dalam keputusan yang gue pilih gitu. Soalnya gue ga bisa nerima opini dia soal gue jangan deket-deket sama Ben. Gue ga mau jumping to conclusion." Jelas Ara.

"Menurut gue sih ya. Mungkin Fadli mau yang terbaik buat lo. Secara ga langsung pasti dia tau gimana Ben dari first impression, Fadli kan cowo. Biasanya sesama cowo itu bisa ngeliat sikap atau sifat dari first impression. Bahkan mungkin cewe juga, lu sering juga nilai seseorang dari first impression dan bener kenyataannya apa yang pertama kali lu omongin soal dia kan?" Jelas Diana dengan dirinya yang memposisikan sebagai penengah.

Ara mengangguk paham, kemudian menatap jalanan yang masih di padati oleh pengendara. "Bener sih. Seharusnya gue ga ngomong gitu sama Fadli."

"Ra gue duluan ya. Reza udah jemput gue, bye hati-hati lu balik!" Pamit Diana diangguki oleh Ara.

"Yang terpenting apapun yang Fadli omongin, pasti dia udah mikir mateng-mateng." Teriak Diana sebelum memasuki mobil berwarna hitam yang memiliki 2 pintu.

Ara memasuki mobilnya, kemudian menjalankan dengan kecepatam sedang. Ara merenungkan kata-kata Diana, memang benar seharusnya ia tak harus berbicara dengan nada sedikit keras pada Fadli malam itu.

Ara menghentikan mobil nya di bahu jalan, membawa ponsel dari slingbang nya. Dan mengetuk-ngetuk layar ponsel dengan sedikit kencang.

To : Fadli
Bisa ketemu sebentar??

🥀🥀🥀

Jumping to conclusion : mengambil keputusan tanpa mengetahui fakta yang lengkap

Hallo temen-temen❤
Boleh dong komen, sampe sini ceritanya gimana? Aku ngerasa masih flat sih, jujur karena mencari ide itu lumayan susah hehe. Tapi semoga kalian tetep stay sama cerita aku ya, terimakasih❤🌹

Arabelle [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang