61. Private Emotion

425 77 40
                                        

Mirae sedang asyik membaca buku di sofa ketika suara pintu rumah terbuka. Cewek itu nggak menoleh, paling kalau nggak Mama ya Mas Hyunjae. Begitu pikirnya.

Dan Hyunjae yang agak berdehem saat melangkah membuat Mirae akhirnya mengetahui kalau oknum yang lagi berjalan ke arahnya ini memang Hyunjae.

Hyunjae dateng-dateng malah mengerucut manja dan menyerobot ruang kosong di sebelah Mirae. Hyunjae menyenderkan punggungnya di bahu Mirae yang lagi duduk di sofa. Cowok itu menaruh tasnya, bersedekap, dan kemudian merem dengan nyaman. Mirae yang lagi sibuk dengan bukunya cuma mempuk-puk bahu Hyunjae. Mungkin capek kerja pikirnya.

"Tangan kamu mana," ucap Hyunjae sambil masih merem. Tangannya bergerak mundur ke belakang— mencari-cari tangan Mirae di udara.

Mirae yang sebenarnya bingung cuma mesem aja dan menangkap tangan Hyunjae yang gerak nggak beraturan di udara. "Disini.."

Setelah tangannya digenggam oleh Mirae Hyunjae menarik tangan itu buat ia taruh di bahunya. "Pijitin.." 

Mirae mana tega menolak sih, Hyunjae aja nggak pernah minta pijitin selama ini.
Mirae dengan senang hati meninggalkan bukunya.


Ini udah dua bulan sejak kejadian itu, kejadian yang bisa dibilang suram, tapi bisa dibilang juga awal dari perjalanan yang baru. Tuhan memang nggak pernah sia-sia menciptakan musibah. Pasti setelahnya selalu ada berkat yang hadir.

Sejak malam itu, Mirae akhirnya menceritakan masa lalunya. Tentang ia dan Hyunjae di masa lalu. Juga setelahnya, Hyunjae merasa ia dan Mirae adalah takdir yang nggak bisa dipisahkan. Menelisik ke belakang tentang kebetulan kebetulan yang ada di antara ia dan mirae—mulai dari arti nama, perkenalan Mirae dan mama, dan lain-lainnya—Hyunjae jadi merasa dia adalah orang istimewa untuk Mirae, begitu juga sebaliknya. Cowok itu kini mulai berani menunjukkan sisi manjanya. Meski sebenarnya daripada manja, Hyunjae lebih banyak berubah jadi dewasa. Bukan disengaja, tapi alamiah. Mungkin efek mau jadi orang tua.



Memasuki bulan ke-sembilan ini Mirae dan Hyunjae merasa lebih tentram. Terakhir kali Hyunjae berurusan dengan Miyeon adalah dua bulan lalu ketika usia kandungan Mirae menginjak tujuh bulan. Miyeon mengirim pesan bahwa dia dengan bangganya bisa menyakiti Mirae malam itu.  Menurutnya, Mirae pasti kenapa-napa. Padahal tanpa Miyeon tau, atas keajaiban Tuhan, Mirae dan Mochi nggak kenapa-napa, cuma ada beberapa hal yang perlu dipatuhi aja.

Lalu keajaiban Tuhan yang lain adalah dimana perusahaan Hyunjae kembali dipindahtangankan. Kali ini kepada adik dari Pak Hongseok, namanya Pak Kino.

Sementara Pak Hongseok sendiri kini memegang perusahaan sang ayah yang berada di Hongkong. Itu artinya, Bu Miyeon juga turut serta buat pindah kesana. Hyunjae harap cewek itu nggak akan pernah kembali menampakkan diri dalam kehidupannya. Bahkan setelah Miyeon mengirim pesan bangga nya malam itu, Hyunjae mem-block nomor perempuan yang ((katanya)) anggun itu.

"Ah jangan kenceng kenceng,"

"Nggak kenceng kok.. masa kenceng..?"

"Udahan aja, aku mau mandi,"
Hyunjae menggerakkan tubuhnya yang menyender di bahu Mirae untuk berdiri.

"Kamu marah..?" tanya Mirae mengerjap saat Hyunjae berjalan melintasi dirinya untuk masuk ke dalam kamar.

"Kenapa sih selalu lucu, orang mau mandi," sahut Hyunjae dari sana yang kemudian tertawa kecil.




















"Loh belum tidur?" Hyunjae yang baru aja menyelesaikan acara bersih dirinya keluar dari kamar mandi dengan bathrobenya.

"Nungguin kamu,"

Marry Your Heart Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang