15) Undangan dari Agasa

458 31 8
                                        

“Ternyata hal sederhana akan menjadi istimewa jika dilalui bersamanya, sungguh aku menyesal telah menyia-nyiakannya dan saat ini aku berjanji akan menjaga apa yang sepantasnya aku jaga, salah satunya dia.”

🍁🍁🍁

"Lho, kenapa helmnya ganti?"

Adia menunduk melihat helm putih pemberian mamanya kemudian kembali menatap Langit yang kini duduk di atas Vespa di depan rumahnya. "Aku diledek bang Kenan, katanya helm aku jelek," adu Adia seraya memanyunkan bibirnya, dia kesal dengan abangnya itu.

Langit menarik tangan Adia agar kekasihnya itu berdiri lebih dekat darinya. "Maaf gue salah beliin, jadinya gitu."

Adia menggeleng tak setuju. "Itu mah bang Kenannya aja yang rese!"

"Yaudah helm itu juga bagus kok," ucap Langit jujur. Helm putih yang Adia bawa saat ini cukup bagus, terlebih corak abstrak berwarna pink menambah kesan feminim yang sangat cocok untuk Adia.

"Iya bagus, tapi aku pengen helm dari kamu. Warnanya cerah, terus di belakangnya ada gambar Spongebob lagi senyum. Itu bagus tahu, bisa jadi yang asalnya badmood terus lihat helm aku, dia jadi ikutan senyum. Kan ibadah ke akunya, belum lagi ibadah buat yang senyum. Makanya kamu juga harus senyum jangan datar mulu."

Langit terkekeh kemudian mengacak rambut kekasihnya gemas. "Iya gue yang salah, ayo naik nanti kesiangan."

Adia terpaksa mengulas senyumnya kemudian memakai helmnya kemudian naik ke Vespa kesayangan Langit.

"Lo enggak malu naik Vespa tua?" Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari mulut Langit. Vespa Langit sudah melaju dan baru saja keluar dari komplek perumahan mewah dimana Adia tinggal.

Adia sontak menggeleng membuat helm yang sedikit kebesaran itu menutupi setengah matanya. "Enggak, Lang. Kenapa jadi tiba-tiba nanya itu sih?"

"Nanya aja dan satu hal yang harus lo ingat, gue janji kalau kita sampai bisa nikah, gue enggak akan ajak lo susah kayak gini. Gue bakalan beli mobil ternyaman buat kita nanti."

Pipi Adia bersemu merah bahkan dia tak kuasa menahan senyumnya, sangking gemasnya dia lantas mempererat pelukannya pada Langit membuat Langit tersenyum tipis. Langit tahu pasti Adia salting, Adia sangat menggemaskan saat salting, tetapi sayang Langit tidak bisa melihatnya saat ini.

"Enggak usah salting gitu, cantiknya nambah."

Sontak ucapan itu membuat Adia semakin bersemu membuat Langit tertawa dibuatnya.

Sederhana memang, tetapi dia merasa bahagia. Andaikan dulu dia tidak menyia-nyiakan waktunya bersama Adia. Namun, tidak masalah, yang terpenting saat ini dia sedang berusaha memperbaikinya.

***

"Kapan kita bisa kayak gitu, Sweety?"

Jessica menoleh ke arah Darel yang menunjuk kedatangan Adia bersama Langit. "Kamu mau jemput aku? Sedangkan kamu tahu arah rumah kita beda. Sayang lho BBM nya."

"Demi kamu, aku bisa kok," jawab Darel yakin, "lagian kamu malu ya punya cowok kayak aku?"

Jessica sontak menggeleng. "Enggak, Rel. Apa sih jadi kayak gini bahasannya?"

"Aku kan suka sastra, suka nulis, suka baca, novel romansa lagi. Aku enggak kayak cowok biasanya. Kamu enggak malu, kan?"

Jessica mencubit gemas pipi kekasihnya. "Udah ah jangan kayak gitu, enggak enak. Masih pagi. Tuh, Adia sama Langit."

"Abang lagi ngapel, ya?" goda Adia tepat setelah dirinya dan Langit berdiri depan Darel dan Jessica.

Tentang Adia [ Complete ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang