37) Lo Siento

362 31 16
                                        

“Kamu memang kejutan, terkadang datang, lalu pergi tanpa alasan dan sialnya kamu adalah orang yang aku sayang.”

🍁🍁🍁

Adia tertidur selama tiga puluh menit lamanya, dia terbangun saat Agasa, papanya menepuk pipinya pelan. Agasa bukan ingin menganggu waktu tidur sang anak, tetapi dia tidak tega membiarkan putrinya tidur dengan posisi yang akan membuat tubuh putrinya sakit.

"Udah setengah sembilan, mau pindah?"

"Adia sama Mama, boleh?" tanya Adia sembari menatap Agasa.

"Mama lagi demam nanti kamu ketularan," jawab Agasa. Agasa bukan tidak mau membiarkan Adia tidur bersama Diana, tetapi Adia itu terbiasa akan tertular demam jika tidur bersama orang yang sedang demam.

Adia pasrah, dia turun dari kasur. Agasa menghampiri putrinya. Ada yang ingin dia bicarakan pada putrinya.

"Papa minta maaf," ucap Agasa membuat Adia kontan menoleh ke arah papanya, "Papa udah bentak kamu," tambah Agasa.

"Aku terima maaf Papa kalau Papa setuju sama apa mau aku," ujar Adia. Dengan cara ini Adia yakin tidak ada penghalang atas pertunangannya dengan Justin nanti.

Agasa menghela napasnya. "Kamu tahu alasan Papa menolak itu, Adia. Papa sayang sama kamu. Kamu paham, kan?"

"Tapi Justin udah baik sama aku, Pa," jawab Adia meyakinkan sang papa.

"Dan apa kamu cinta sama dia?"

Adia tak langsung menjawabnya membuat Agasa tersenyum lalu tangannya terulur untuk mengacak pelan surai milik putrinya. "Tidur sana, udah malam dan Papa minta pikirkan lagi keputusan kamu apapun itu alasannya."

Adia hanya mengulas senyum tipisnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Setelahnya, Adia langsung bergegas menuju kamarnya yang kebetulan di samping kamar kedua orang tuanya.

Adia menghela napasnya lega setelah dia bisa masuk ke kamarnya dan berdiri di depan lemari pakaiannya.

Adia sadar saat dirinya tidak menjawab pertanyaan papanya tentang perasaannya, saat itu perasaan Adia masih untuk pria lain.

"Melupakan enggak semudah yang aku kira, tapi aku akan usaha karena aku enggak mau jadi penghalang mimpi kamu," gumam Adia yakin sebelum akhirnya gadis itu membuka lemarinya membawa piyama berwarna beige buatan sang mama.

Pakaian Adia sebagian besar dijahit oleh mamanya karena terkadang susah mencari ukuran Adia, hal ini pula yang membuat Evano iri begitupun Kenan, tetapi Kenan tidak membencinya, tidak menjauhinya, meskipun Kenan tidak bisa sedekat saat mereka masih sekolah dasar, tetapi Kenan selalu ada untuknya.

Selepas berganti pakaian, Adia langsung merebahkan diri di kasur dan tak lupa dengan handphone di genggamannya.

Banyak pesan dan panggilan masuk ke handphonenya, namun tidak ada satupun itu dari Langit.

Masih saja pria itu, ah rasanya Adia tidak sanggup untuk melupakan pria baik itu.

Drttttttt....

Langit is calling...

Adia menepuk pipinya, memastikan jika semua ini bukan hanya mimpi. Adia bisa merasakan tepukan di pipinya dan itu artinya nyata.

Angkat. Tidak. Angkat. Tidak. Ang—

Sial, tanpa kompromi tangannya menggeser ikon hijau dan itu artinya dia menerima panggilan dari Langit.

"Lo siento."

Tut.

Mulut Adia terbuka sembari menatap ponselnya, dia tak percaya dengan pria itu. Sebenarnya ada apa dengan Langit?

Tentang Adia [ Complete ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang