47) Jadilah Teman yang Sesungguhnya

384 31 0
                                        

“Berteman dengan mantan memang tak salah, namun jika terus-terusan bersama dengan perasaan yang masih sama, hal itu akan menggoreskan sebuah luka karena perasaan kita masih sama, namun kesempatan untuk bersamanya sudah tak ada.”

🍁🍁🍁



Waktu cepat berlalu, hari ini adalah akhir dari perjuangan para pejuang ujian praktek SMA Nusa Bangsa.

Di aula yang cukup jauh dari ruang kelas sudah didirikan sebuah panggung megah dengan berbagai hiasan.

Sebenarnya, ujian praktek seni budaya itu ada empat pilihan; menggambar atau melukis, menari, menyanyi, dan bermain alat musik. Terkhusus menggambar atau melukis tempatnya tidak di atas panggung, melainkan di sebuah kelas dan diberi waktu selama tiga jam, sebelum nantinya mereka bisa bergabung untuk menonton teman-temannya yang memilih opsi menari, menyayangi atau bermain alat musik.

Dara, Jessica, dan Nabila, mereka bertiga kompak memilih opsi menari. Ketiganya sudah siap dengan balutan busana yang disewa, tak lupa wajah ketiganya pun sudah dipoles make up. Sedangkan Adia, dia lebih memilih untuk bermain piano saja. Piano adalah sebagian hidup Adia, meskipun akhir-akhir ini Adia sudah lama tak memainkan piano.

"Adia, kayaknya lo juga harus pakai make up biar enggak pucet," celetuk Jessica sontak membuat Adia mengerjapkan matanya dua kali.

"Iya bener, mau, ya?" bujuk Nabila, sedangkan Dara dia hanya diam saja. Dara lebih memilih opsi terserah Adia saja, mau make up boleh, enggak juga enggak papa.

Adia menggeleng kuat. "Enggak usah, ngapain juga make up kan biasanya cuman yang tari yang pakai make up."

"Ih, Adia. Enggak tahu. Banyak kok yang mau ngeband ceweknya pakai make up. Mau, ya? Setidaknya pakai lip tint." Jessica berujar dengan tangan yang sudah memegang lip tint miliknya.

"Dara," rengek Adia, "bantuin aku, aku enggak mau pakai make up."

Dara yang tadinya diam, kini terkekeh geli sebelum akhirnya buka suara untuk membela. "Udah jangan dipaksa ah, kasihan tahu."

"Tuh, jangan dipaksa," ucap Adia ke arah Nabila dan Dara.

"Enggak asik ah, padahal kalau pakai make up tipis aja, pasti nambah cantik. Udah pakai dress, rambut diurai, ah Adia gue jamin banyak yang nyantol. Mumpung jomblo."

"Harus move on dari Langit, Ad. Biar nanti pas kuliah ada yang antar jemput."

Adia terdiam mendengar ucapan Nabila dan Jessica. Adia merasa tak rela jika dirinya harus dipaksa melupakan mantannya itu.

Adia menghela nafasnya sebelum akhirnya bergegas keluar kelas. "Aku keluar bentar, ya," pamitnya.

Adia berjalan tak tentu arah, sampai akhirnya langkahnya terhenti tatkala menemukan sosok yang kini menatapnya, sosok yang hampir seminggu tak dia temui, dan sosok itu ... Justin.

"Bisa kita bicara?"

***

Justin membawa Adia ke kantin khusus kelas dua belas yang mendadak sepi karena semua murid kelas dua belas sedang sibuk mempersiapkan diri.

Justin dan Adia duduk bersebrangan.

Adia masih belum sanggup buka suara karena jujur dia merasa sangat bersalah pada Justin.

"Aku minta maaf, Ad."

Hah? Minta maaf? Bukankah yang seharusnya meminta maaf adalah dirinya? Adia yang salah. Adia yang tega menerima Justin sebagai kekasihnya, padahal jauh di lubuk hatinya ada sosok Langit yang bertahta.

Tentang Adia [ Complete ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang