“Tidak ada yang bisa membenci saudara kandungnya sendiri karena bagaimanapun saudara adalah rumah kedua setelah orang tua.”
🍁🍁🍁
"Kita harus lebih sayang dan perhatian lagi sama Adia, Bang."
"Abang udah awasin dia. Apa enggak cukup?"
Kenan menggeleng. "Bukan gitu caranya, Bang. Kalau gitu kesannya kita ngekang. Adia bukan ngerasa dijaga, tapi dia takut. Lo lihat kan, Bang, dia sampai nangis dan ngamuk. Kita terlalu menjauh dari dia, Bang. Seharusnya kita sebagai abang-abangnya itu jadi orang yang paling dia percaya buat cerita."
Evano melepas jas putih kebanggaannya kemudian ayah satu anak ah on the way dua anak itu melipat kemejanya hingga siku, rasanya gerah.
"Setuju enggak sih sama pendapat aku, Bang?" tanya Kenan yang sedikit jengkel dengan abangnya itu.
"Setuju, tapi Abang bingung harus apa. Adia terlanjur benci sama Abang."
Kenan merangkul Evano. "Bang, Adia itu sebenarnya sayang sama kita, tapi dia terlanjur kecewa dan aku yakin kalau kita mau berubah pasti Adia nerima kita lagi. Kita berubah, yuk! Abang lihat kan mama sama papa sedih lihat Adia kayak gini."
Evano tahu, rasa iri terhadap kasih sayang mamanya untuk Adia membawa petaka untuk adik mungilnya itu dan apakah ini saatnya dia berubah? Apakah Adia mau memaafkannya?
"Coba aku tanya, Bang. Kapan sih Abang pernah meluk Adia? Belum pernah, kan? Ayo sekarang kita samperin dia ke kamar. Kita peluk dia bareng-bareng sama kayak keinginan dia waktu kecil."
"Aku juara menggambar, Bang!"
Evano dan Kenan sontak menatap Adia yang dengan bangganya menunjukkan piala yang dia raih dari perlombaan menggambar yang diikutinya.
"Wahhh... Adik Abang hebat," puji Kenan tak lupa pria itu menghampiri sang adik dan memeluknya.
Adia tersenyum cerah sembari membalas pelukan Kenan, namun matanya masih menatap penuh harap pada Evano.
"Abang, peluk aku juga. Kita pelukan sama-sama, ya?"
Evano menatap adik kecilnya sebelum akhirnya berkata, "Selamat ya. Abang enggak bisa peluk kamu, Abang bau."
"Enggak papa, Adia enggak papa kok kalau Abang bau yang penting Ad—"
"Kalau enggak mau tetep enggak mau!" potong Evano sebelum akhirnya pria itu bergegas meninggalkan kedua adiknya yang masih saling memeluk.
Adia mulai terisak, nyatanya menjadi juara tidak lantas membuatnya mendapatkan pelukan Evano.
Kenan mengusap punggung Adia berusaha menenangkan adik kecilnya itu. "Enggak papa kan ada Bang Kenan...."
***
"Yaya...."
"Aku bukan Yaya! Aku udah gede."
"Udah gede, ya? Kok tingginya masih 150 centimeter sih?"
"Abang!!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Adia [ Complete ]
Fiksi Remaja#GenerasiAgasaDKKTheSeries1 Ini tentang Adia Myesha Prakarsa, si gadis rapuh yang bersembunyi di balik kesempurnaan yang dimilikinya. Namun, nyatanya apa yang dilihat belum tentu itu yang sebenarnya. Adia memang cantik, dia juga pintar, keluarganya...
![Tentang Adia [ Complete ]](https://img.wattpad.com/cover/240549836-64-k514034.jpg)