21) Luka Adia

522 35 4
                                        

“Tuhan, Adia salah apa? Adia banyak dosa, ya? Sampai-sampai enggak ada yang sayang Adia atau Adia emang diciptain biar jadi orang kuat?"

🍁🍁🍁


Kejadian Adia dan Langit menghebohkan seantero Nusba, bahkan Bu Friska, kesiswaan yang terkenal killer ikut turun dan berakhir dengan diseretnya Adia dan Langit ke ruangannya.

Bu Friska menatap sengit pada kedua murid kesayangan Nusba ini. Bu Friska tidak menyangka jika mereka bisa melakukan hal semacam tadi, di depan kelas dan menjadi tontonan banyak murid.

"Kalian sadar apa yang kalian lakukan itu salah?" tanya Bu Friska ketus.

Keduanya kompak mengangguk.

Brak.

Dengan emosi yang meluap Bu Friska menggebrak meja sangking kesalnya. "KALIAN DIDIDIK UNTUK MENJADI CONTOH YANG BAIK! PERCUMA PIALA OLIMPIADE KIMIA DAN EKONOMI YANG KALIAN RAIH JIKA SEPERTI INI KELAKUAN KALIAN!" bentak Bu Friska membuat Adia memejamkan matanya, Adia sangat takut, sedangkan Langit terlihat datar saja.

"KEPUTUSAN SAYA BULAT, PUTUS ATAU BEA SISWA KE GERMAN LANGIT BATAL!" tegas Bu Friska.

"Putus!" jawab Adia cepat dan yakin tentu hal itu membuat Langit lantas menoleh ke arah samping tepat dimana Adia duduk.

"Enggak," protes Langit tak setuju.

Adia menatap Bu Friska, dia takut, tetapi dia harus mempertahankan keputusannya. "Saya mau putus saja, Bu. Hubungan saya sama Langit sudah toxic. Biarkan saja selesai, jika memang jodoh pasti kembali. Bea siswa ini lebih penting daripada hubungan kami."

"Tapi saya tidak mau berpisah dengan Myesha, Bu," tambah Langit.

Adia menggeleng. "Saya tidak setuju, Bu. Keputusan saya tetap harus putus. Itu yang terbaik. Hubungan kamu sudah tak seh—"

"Sampai kapanpun gue enggak mau putus sama lo!" potong Langit.

"Tapi aku mau, Langit."

"Gu—"

Brak.

"BISA TENANG, HAH? KALAU TIDAK SAYA PANGGIL ORANG TUA KALIAN!"

Mempan.

Keduanya lantas diam.

"Saya setuju pada Adia, kalian harus putus. Tidak ada bantahan! Kalian masih kecil, masih banyak yang harus kalian kejar. Saya juga akan membuat peraturan agar kalian tidak pernah bertemu lagi. Saya tidak mau ada murid bermutu seperti kalian melakukan hal semacam ini."

Adia mengangguk dan Langit menggeleng.

"Keputusan Ibu sudah bulat, Langit! Saya harap ini terakhir kalian bertemu, jika berpapasan, berlaga seperti orang tak mengenal saja. Saya kira ini cukup, silahkan keluar."

Adia tersenyum pada Bu Friska. "Saya permisi, Bu."

Adia keluar, Langit pun lantas meyusul. Ini tidak bisa dibiarkan. Harusnya yang mengambil keputusan itu Adia dan dirinya bukan bu Friska.

"Myesha!"

Adia menghela napasnya sebelum akhirnya menatap sang mantan kekasihnya. "Mau apalagi? Udah jelas, kan? Kita putus. Aku enggak mau ya harus ngorbanin bea siswa kamu."

"Gue tahu lo masih cinta sama gue, Mye."

"Cinta enggak berguna kalau hubungan kitanya enggak sehat, Langit. Kamu bukan sekedar enggak percaya sama aku, tapi kamu udah berani hina aku. Aku harap kamu sadar itu."

Tentang Adia [ Complete ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang