“Kehilangan adalah suatu hal yang pasti ketika kita dipertemukan.”
🍁🍁🍁
Adia berjongkok guna memungut nasi yang sudah berhamburan di tanah. Adia selalu diajarkan oleh mamanya jika kita tidak boleh membuang makanan karena masih banyak di luar sana yang harus berjuang mati-matian demi sesuap nasi.
"Maafin aku ya karena aku kalian jadi enggak bisa dimakan," ucap Adia sembari memungut satu persatu nasi guna dimasukkan kembali ke kotak bekal.
"Padahal aku yakin kalian rasanya enak."
Adia terus saja bergumam dengan nasi yang sudah tak berdaya di atas tanah seolah nasi itu adalah seseorang yang bisa dia ajak bicara.
Namun, gumamannya terhenti tatkala seseorang menariknya untuk berdiri.
"Kebiasaan," cibir orang itu membuat Adia membelalakkan matanya karena orang itu Langit.
"Dengan lo jongkok kayak tadi itu sama aja lo pamer paha. Enggak sadar lo itu legging lo terekspos," lanjut Langit dengan nada yang sangat kentara jika pria itu tidak suka dengan tindakan Adia.
"Maaf," cicit Adia.
Langit menghela napasnya kemudian merebut kotak bekal dari tangan Adia sebelum akhirnya dia yang memungut nasi yang berhamburan di tanah.
Sebenarnya Langit tidak ingin melakukan ini, tetapi ada perasaan tidak rela ketika paha Adia terekspos begitu saja. Semacam perasaan cemburu mungkin.
Setelah semua nasi sudah berpindah ke kotak bekal kini giliran betis Adia yang Langit bersihkan.
"Lain kali jangan kayak gini lagi," ucap Langit sembari memberikan kotak bekal yang langsung Adia terima, "gue juga minta maaf karena gue enggak sengaja nyenggolnya," lanjut Langit.
Adia tersenyum lebar. "Aku tahu. Kamu itu cowok baik, Langit. Aku juga yak—"
"Enggak usah berharap lebih sama gue. Gue ngelakuin ini karena gue enggak mau semua orang zina mata karena paha lo dan gue enggak mau dosa karena udah buang makanan," potong Langit membuat Adia mengerucutkan bibirnya.
"Semalam itu hari paling bahagia aku, Langit, tapi kenapa kamu ngerusaknya pagi ini?" tanya Adia sedikit kesal.
Langit memandang Adia dengan wajah sedatar mungkin, meskipun sebenarnya dia ingin tahu apa yang sudah terjadi malam tadi pada Adia.
"Aku baikan sama bang Evan," ucap Adia seakan tahu isi pikiran Langit, "keluargaku udah mulai tentram, tapi aku belum bisa cerita soal Justin."
Langit diam tak menanggapi. Dia bahagia? Tentu. Langit tahu bagaimana Adia berharap bisa menjadi adik kakak pada umumnya bersama Evano.
"Tapi kayaknya hari ini aku bakalan kehilangan sesuatu yang bikin aku bahagia. Sesuatu itu kamu, Langit. Aku enggak bodoh buat sadar kalau kamu berubah, Lang. Aku ada salah, ya? Atau kamu marah karena aku nginep di apartemen Alex?" Adia menatap Langit penuh tanya.
"Lo enggak akan pernah paham. Gue minta jangan ganggu gue lagi, ya? Ada beasiswa gue yang dipertaruhkan di sini. Gue harap lo paham. Gue cuman orang miskin yang enggak bakalan bisa sekolah kalau enggak mengandalkan beasiswa, sedangkan lo bisa sekolah tinggi-tinggi tanpa harus mikirin biaya," jawab Langit.
"Jadi, selama ini aku ganggu kamu?" tanya Adia lirih.
Dengan berat hati Langit menganggukkan kepalanya. "So, mulai detik ini kita jadi orang asing aja."
Congrat Langit karena kamu udah berhasil buat hati aku patah.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Adia [ Complete ]
Teen Fiction#GenerasiAgasaDKKTheSeries1 Ini tentang Adia Myesha Prakarsa, si gadis rapuh yang bersembunyi di balik kesempurnaan yang dimilikinya. Namun, nyatanya apa yang dilihat belum tentu itu yang sebenarnya. Adia memang cantik, dia juga pintar, keluarganya...
![Tentang Adia [ Complete ]](https://img.wattpad.com/cover/240549836-64-k514034.jpg)