42) Sekutu Bucin Adia

350 29 8
                                        

“Saat kita merana karena cinta, ada orang tua kita yang merana karena memikirkan masa depan kita.”

🍁🍁🍁

Dug.

"Bego lo!"

Dug.

"Ngapain masih kepedean Myesha bakalan mesem-mesem!"

Dug.

"Lo lihat tadi gimana reaksi Adia! Dia enggak peduli. Dia jijik sama lo!"

Dug.

"Bego lo malu-maluin diri sendiri!"

Dug.

Napas Langit tak teratur, belum lagi keringat yang mulai membanjiri dahinya. Cuaca hari ini begitu terik, dirinya sedang berada di lapangan outdoor, dan hatinya sedang terbakar. Lengkap sudah penderitaannya.

Langit malu sekaligus marah karena respon Adia jauh dari ekspetasinya. Niat Langit ingin melihat pipi Adia yang bersemu saat membaca surat darinya, tetapi kenyataannya tidak demikian.

"ARGHHHH!!!"

Boleh Langit menyesal karena telah melepaskan Adia? Langit belum rela sepenuhnya. Langit benci sikap Adia yang tidak lagi berpusat padanya.

"Galau sih galau, Bro, tapi enggak gini juga."

Langit membelalakkan matanya kemudian memutar badannya 180 derajat untuk melihat siapa gerangan orang yang telah menciduknya.

"Galau karena Adia, ya?" tanya orang itu yang tak lain adalah Alex.

"Ngapain lo?!" tanya Langit so ketus, tapi sebenarnya dia malu setengah mampus.

Alex terkekeh sembari berjalan mendekat pada Langit kemudian menepuk-nepuk bahu Langit, so akrab. "Lang, nasib kita sama. Bedanya kalau gue tuh lebih miris. Udah suka sama Adia sejak kelas sepuluh awal, tepatnya sih waktu daftar ekskul kesenian. Gue waktu itu masih cupu jadi ya ketikung si Justin. Pas mereka putus eh keduluan lo. Parah, ‘kan?"

Langit menepis tangan Alex. "Enggak usah curhat, lo!"

"Ah elah, galau bareng lebih rame tahu."

"Enggak enggak. Sana balik!" usir Langit dengan wajah datarnya.

"Dih, gue sekolah di sini juga kali. Jadi, gue juga boleh main di sini," tolak Alex.

"Tapi gue ger—"

"HALO ABANG-ABANG SEKUTU BUCIN KAK ADIA!" sapa Andrew yang tiba-tiba muncul.

Langit melotot tak percaya melihat kedatangan Andrew yang tiba-tiba. Apa lagi ini?

Andrew senyum-senyum so imut. "Napa sih tegang amat?"

"Lo ngapain ke sini?" tanya Langit sinis.

"Ikut galau, gue juga kan fansnya kak Adia. Gue tuh agak potek pas denger kak Adia udah enggak sendiri. Kalian juga, ‘kan?" tanya Andrew dengan tampang polosnya, "eh tapi tenang aja sih gue mah sekedar kagum sama tertarik saja, kalau tahap suka sama cinta sih belum, ah enggak akan deh berat saingan gue."

"Yaudah gabung sini aja, Drew!" ajak Alex enteng.

Andrew dengan senang hati berdiri di samping kanan Langit, jadi posisi Langit berada di tengah-tengah Alex dan Andrew.

Alex dan Andrew kontan mencekal tangan Langit tatkala pria itu baru saja ingin kabur.

"Jangan kabur dulu, mending duduk," ujar Alex.

Tentang Adia [ Complete ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang