Extra Part

937 43 21
                                        

"MAMAA!!!"

Teriakan cempreng khas anak kecil diiringi gedoran pintu membuat sepasang suami istri yang tadinya memejamkan mata itu lantas terpaksa terbangun.

Masih dengan tangan yang mengucek matanya sang isteri bertanya, "Itu pasti suara Bubu, dia kenapa lagi?"

"Aku enggak tahu, biar aku aja yang liat."

"Jangan, kamu suka berantem sama Bubu."

Suami dan putri bungsunya itu memang kerap kali bertengkar dan berdebat memperebutkan dirinya.

Putri bungsunya kerap merasa jika papanya itu merebut sang mama darinya, sedangkan papanya yang usil itu sering menggoda putrinya dengan segala cara.

"MAMAA BUKA!!! BUBU SAMA ABANG MAU BOBO SAMA MAMA!!!"

Sudah tak tahan dengan teriakan itu membuat sang istri yang tak lain adalah Adia itu lantas turun dari ranjangnya dan menghampiri pintu kamar sebelum akhirnya membuka kuncinya dan membuka pintunya yang langsung menghadiahkan sebuah pemandangan kedua anaknya.

"Mama, Bubu bobo di sini sama Abang boleh?" tanya si putri kecilnya sembari menggoyangkan tangannya yang menggenggam tangan sang Abang yang memasang wajah kantuknya.

Adia tersenyum hangat sembari mencondongkan badannya agar sejajar dengan kedua anaknya. "Boleh, Sayang. Ayo."

Adia lantas menggenggam tangan putri bungsunya menuntun dirinya dan kedua anaknya untuk segera naik ke kasur. Sungguh ini sudah jam sebelas malam, tetapi mengapa anaknya ini terbangun.

"Papa enggak boleh bobo sama kita," ucap si putri bungsu Adia dan Langit yang memperingati Langit yang baru saja akan bergabung dengan kedua anak dan istrinya.

"Lho, kenapa? Papa kan suami Mama, jadi boleh tidur sama Mama," balas Langit dengan tampang usilnya. Sungguh, Adia tak pernah menyangka jika sejak menikah dan memiliki anak Langit berubah 180 derajat. Pria itu berubah jadi usil, tukang menggoda, kadang-kadang konyol, ya meskipun hanya di depannya dan kedua anak mereka saja.

"Papa jahat sama Mama," jawab putri bungsunya yang bernama Bulan Adila Pandawa.

Dahi Langit mengernyit. "Papa jahat? Jahat apa?"

"Papa gigit Mama," jawab Bulan dengan polosnya sembari menunjuk leher sang mama.

"Aduh ketahuan."

"Pokoknya Papa jangan bobo di sini. Iya kan, Bang?"

Sosok yang dipanggil Abang yang tak lain adalah kakaknya sendiri yang bernama Bumi Adlan Pandawa itu ternyata sudah tertidur. Salahkan Bulan yang menyeretnya tatkala dirinya sedang ngantuk berat.

"Papa enggak usah ketawa!" ujar Bulan kesal melihat Langit yang sedang menahan tawanya, "pokoknya Papa jangan bobo di sini. Di sofa aja. Iya kan, Ma?"

Adia tersenyum manis, seperti biasa. "Iya, Bubu. Papa bobo di sofa."

Sontak Bulan tersenyum merekah sebelum akhirnya menatap remeh pada sang papa, lalu setelahnya gadis berumur lima tahun itu memeluk sang mama, menenggelamkan wajahnya di leher mamanya.

Adia tersenyum hangat ke arah Langit membuat Langit terpaksa harus tidur di sofa saja, daripada dia terus berdebat dengan putri bungsunya.

Sambil merebahkan diri di atas sofa, Langit menatap pada kedua anak juga istrinya. Senyum bahagia terukir jelas di wajahnya. Langit bahagia? Tentunya. Bisa hidup bersama dengan orang dicintai adalah kebahagian yang tak bisa dibeli.

Enam tahun lalu, Langit meminang Adia. Setelahnya mereka lantas pergi ke Jerman dan menatap di sana selama tiga tahun sampai kuliah Langit selesai.

Tentang Adia [ Complete ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang