“Kembali bersama seseorang di masa lalu tidak salah asalkan kita bisa saling introspeksi diri dan berkomitmen untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.”
🍁🍁🍁
Seperti halnya kemarin hari ini Adia dijemput oleh Justin, tetapi Justin menunggu di rumah kelima dari rumah keluarga Adia. Adia beruntung karena hari ini Evano ada jadwal check up kandungan Karin, Kenan sudah lebih dulu berangkat karena ada urusan dengan organisasinya dan sang papa harus menjaga mamanya yang sedang sakit. Rencana jemputan Justin berjalan lancar karena ketiga hal itu.
"Kak...."
Justin yang baru saja akan melajukan mobilnya harus mengurungkan niatnya karena panggilan Adia.
"Kenapa? Btw, manggilnya nama aja kayak biasa," balas Justin sembari mengalihkan tatapannya pada Adia.
Perihal panggilan Adia kepada Justin, waktu itu Justin tidak suka jika Adia memanggilnya dengan embel-embel kakak sejak mereka berpacaran, maka dari itu sejak saat itu Adia terbiasa memanggil nama Justin saja, hanya saja setelah dipikir-pikir sekarang menggunakan embel-embel kakak itu lebih baik.
"Soal pertemuan orang tua kita, aku boleh undur enggak? Mama sakit," ucap Adia menghiraukan soal panggilan Justin.
"Tante Diana sakit? Sakit apa?" tanya Justin cemas, bagaimanapun juga Diana pernah baik padanya saat mereka berpacaran dulu.
"Demam, kepikiran aku, mogok makan, jadi ya gitu. Aku juga belum bilang apa-apa soal tunangan kita. Abang sama papa yang udah tahu aja pasti belum siap buat ngomong itu karena kondisi mama. Oh iya satu lagi, kalau bisa tunangannya selesai UNBK, biar aku lega soal sekolah juga. Gimana?"
Justin menatap manik coklat milik Adia. Adia memang tak main-main dengan keputusan yang dia ambil, tetapi Justin tahu jika dalam hatinya masih terselip nama pria lain. "Terus Langit gimana?" tanya Justin akhirnya karena jujur hatinya sedikit mengganjal jika perkara pria itu.
Tatapan Adia berubah sendu, tetapi Adia masih bisa menutupinya dengan sebuah senyuman lebar di bibirnya. "Kita udah selesai. Semalam dia nelpon, cuman dua kata. Aku kira itu bahasa Jerman, tapi nyatanya bukan karena aku enggak tahu artinya kalau bahasa Jerman pasti aku tahu karena di sekolah juga belajar. Terus aku search google ternyata artinya maaf dari bahasa Spanyol, aku baru ingat kalau Langit emang belajar bahasa Spanyol juga karena katanya dia tertarik sama negara itu. Sebenarnya aku pengin nanya dia awalnya, tapi ternyata dia blok aku. It's okay, mungkin emang ini akhir kisah aku sama dia, setelah tahu dia blok aku, aku juga blok dia."
Justin senang, tentunya, tetapi dia juga sadar jika Adia masih belum sepenuhnya ikhlas akan akhir kisahnya bersama Langit. Mungkin mulut Adia bisa mengatakan itu, tetapi dari tatapannya Justin menemukan hal yang sebaliknya. Namun, Justin sudah bertekad pada dirinya sendiri jika Adia akan menjadi miliknya, selamanya.
"Karena hubungan lo udah beres, mau enggak jadi pacar gue? Enggak enak aja kita jalan kayak gini, bahkan mau tunangan, tapi enggak ada status," saran Justin. Langkah pertama Justin untuk kembali merebut hati Adia.
"Oke, kita pacaran," jawab Adia tanpa berpikir. Adia hanya meminta jika ini yang terbaik karena hubungannya dan Langit memang sudah tidak bisa dipaksakan lagi.
Adia sadar jika Justin banyak berubah. Pria itu sudah lebih baik dari sebelumnya, bahkan perlahan Adia mampu mengikis rasa takutnya, meski rasa itu masih ada.
***
"ADIAAAAA!!!"
Telinga Adia sakit karena teriakan histeris ketiga sahabatnya, belum lagi badannya yang sesak karena ketiga sahabatnya itu langsung memeluknya erat. Ah ralat, sangat erat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Adia [ Complete ]
Teen Fiction#GenerasiAgasaDKKTheSeries1 Ini tentang Adia Myesha Prakarsa, si gadis rapuh yang bersembunyi di balik kesempurnaan yang dimilikinya. Namun, nyatanya apa yang dilihat belum tentu itu yang sebenarnya. Adia memang cantik, dia juga pintar, keluarganya...
![Tentang Adia [ Complete ]](https://img.wattpad.com/cover/240549836-64-k514034.jpg)