24) Aku Takut, Jangan Pergi

466 34 10
                                        


“Ketika aku rapuh dan tak lagi sanggup dengan permainan takdir, aku hanya berharap bahwa kamu setia untuk berada di sampingku. Hanya itu. Apa kamu mau?”

🍁🍁🍁

Sepasang mata mengerjap-ngerjap seakan menyesuaikan dengan cahaya yang ada di ruangan tempatnya berada, sampai akhirnya sepasang mata itu terbuka sempurna.

Sang empunya mata merintih sakit kala merasakan pening di kepalanya. Sontak hal itu membuat seseorang yang sedari tadi menanti momen itu lantas menghampiri si empunya mata yang tak lain adalah Adia.

"Myesha...." panggil Langit sembari menggenggam tangan Adia yang memegangi kepalanya yang terasa pening.

"Langit," ucap Adia terkejut namun terdengar seperti rintihan karena kondisi tubuhnya yang memang sedang tak baik-baik saja.

Langit mengulas senyumnya. "Iya ini gue, Langit. Akhirnya lo sadar, Mye."

"Pengin duduk," rengek Adia diiringi tatapan memohonnya yang sialnya terlihat sangat menggemaskan di mata Langit dan siapapun yang melihatnya tidak akan bisa menolak apa yang Adia mau, "boleh, ya?" lanjut Adia kembali memohon.

Langit mengangguk dan membantu Adia untuk duduk bersandar di bantal yang sudah Langit letakkan.

"Makasih," ucap Adia.

"Sama-sama. Sekarang gue yang minta sama lo."

"Minta apa?"

"Lo makan, ya?"

Adia baru ingat jika sejak kemarin sore belum ada apa-apa yang masuk ke perutnya entah itu makanan ataupun minuman sekalipun.

"Lo harus makan, Mye. Lo tahu kan lo punya maag. Jangan cari gara-gara kalau ada masalah cari gue aja, gue siap dengerinnya dan semoga bisa ngasih solusi juga sama lo. Jangan siksa diri sendiri, ya?" Langit melanjutkan ucapannya sembari menatap Adia cemas membuat jantung Adia berdetak tak karuan, seperti biasa.

"Jangan khawatir kayak gitu, kita kan udah mantan." Adia terpaksa mengucapkan kalimat itu karena dia tidak mau jika Langit terus berada di sampingnya bea siswa Langit akan jadi taruhannya.

Langit berdecak kesal. "Kenapa sih itu terus yang lo pikirin? Kenapa enggak mikirin perasaan gue, Mye. Gue masih sayang sama lo. Gue khawatir akan semua tentang lo. Belum sehari kita putus lo udah gini. Mana bisa gue tenang aja, Mye."

Adia menunduk dan tak lama setelahnya air matanya jatuh membasahi punggung tangannya. "Aku cuman enggak mau mimpi kamu terhambat karena aku, Lang. Aku mau kamu kejar mimpi kamu biar bisa jadi dokter bedah kayak mending ayah kamu dan aku juga bisa jadi kayak mama. Cuman itu, Lang. Apa salah?"

Langit menghela napasnya kemudian tangannya mengangkat dagu Adia agar menatap padanya tak lagi menunduk.

Langit menangkup kedua sisi wajah Adia dan menatapnya lekat. "Gue paham maksud lo, tapi kalau kondisinya lo enggak baik-baik aja gue enggak bisa diem, Mye. Lo paham, kan? Kalau emang lo enggak mau lagi gue campuri hidupnya gue mohon lo baik-baik aja, bisa?"

Adia menatap Langit sendu. Ini bukan yang Adia inginkan, tetapi keadaan memaksanya demikian.

"Oke, gue paham, tapi sekarang boleh enggak lo harus makan dan gue supain? Hm... anggap aja ini terakhir kalinya gue pasang badan buat lo, tapi ya kalau lonya nakal dan bandel gue enggak janji."

Adia tertawa singkat membuat pipi tembemnya membulat kala bibirnya melengkung indah dan jangan lupakan matanya yang menyipit karenanya. Tentu hal itu membuat Langit gemas dan dia khilaf.

Tentang Adia [ Complete ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang