19) Justin Lagi

369 31 3
                                        

“Dulu ku akui aku memang salah, tapi yakinlah rasa itu masih sama, bahkan tidak pernah berubah.”

🍁🍁🍁

Langit berlari tergesa-gesa, bahkan sesekali pria dengan seragam SMA itu menabrak orang membuatnya digerutu, tetapi Langit tidak peduli karena yang terpenting untuk saat ini adalah adiknya.

"Ibu!"

Langit langsung memeluk tubuh ibunya. Ibunya terlihat sangat cemas, lagipula orang tua mana yang tidak cemas ketika anaknya mengalami kecelakaan.

"Ibu, maafin Langit kalau aja Langit jem—"

"Udah enggak papa, Nak," potong Melly, wanita paruh baya itu mengusap punggung Langit, "kamu enggak salah, ini kecelakaan."

"Tetap aja Langit salah. Langit tahu Nadia enggak bisa nyebrang, tapi Langit malah milih anterin Myesha yang masih bisa diantar supir."

"Langit, nikmati aja masa-masa kamu sama Adia. Kalian sebentar lagi pisah, tapi untuk saat ini Ibu minta jaga adik kamu juga ya."

Langit mengurai pelukannya dia menatap sang ibu lekat, sungguh Langit menyesal. "Langit janji Nadia bakalan Langit jaga."

Melly mengusap pundak sang Langit. "Terimakasih, Nak."

"Enggak usah makasih sama aku, Bu."

"Iya, sini duduk aja yuk!"

Langit mengangguk dia menuntun dirinya juga sang ibu untuk duduk di kursi tunggu di depan ruangan dimana Nadia sedang ditangani.

Di sela-sela itu seseorang yang memakai jas hitam datang menghampiri mereka.
"Permisi, ini Bu Melly?" tanyanya.

Melly mengangguk. "Ada apa?"

"Saya Lutfi, supirnya orang yang menabrak anak Ibu. Saya hanya ingin menyampaikan permohonan maaf, selain itu urusan administrasi sudah saya selesaikan."

"Makasih, tetapi lain kali saya harap bos Anda yang datang secara langsung. Cara seperti ini sangat tidak beretika," balas Melly dingin, "ya sudah sana pergi, saya takut jika saya lepas kendali," sambung Melly.

Lutfi memilih pergi, tugasnya hanya meminta maaf dan menyampaikan jika administrasi sudah selesai.

Melly menatap kepergian Lutfi tak bersahabat. Langit yang menyadari itu lantas menggenggam tangan ibunya. "Sabar ya, Bu," ucap Langit menenangkan.

Melly mengembuskan napasnya kemudian tersenyum hangat. "Ibu cuman kesel aja sama orang kaya, mereka selalu aja ngerasa apa-apa bisa mereka ganti dengan uang."

Langit meringis, dia tidak tahu bagaimana jadinya jika sang ibu tahu perlakuan keluarga Adia padanya.

"Kamu harus hati-hati sama orang kayak mereka, Lang. Orang kayak mereka yang nipu ayah kamu. Ibu enggak mau kejadian itu ke ulang. Jikalau nanti kamu sukses, Ibu harap kamu pergunakan dengan sebaik-baiknya," lanjut Melly.

Langit hanya mengangguk dan dia berharap Melly tidak mengetahui apapun tentang perlakukan keluarga Adia padanya.

***

"Kak Adia!"

Adia menoleh ke samping kanannya. Dugaannya benar pemilik suara itu adalah Andrew, tetapi adik kelasnya itu tidak sendirian melainkan berdua dengan sahabatnya.

"Kakak belum pulang?" tanya Andrew, pria itu dan juga temannya sudah berdiri di depan Adia.

"Belum."

Tentang Adia [ Complete ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang