Aurel membisu, seperti tersesat dalam dunianya sendiri. Pandangannya kosong, meskipun telinganya menangkap setiap kata sindiran tajam dari Donia. Suasana di sekitar terasa seperti memudar, seakan waktu berhenti hanya untuk menekannya dengan pertanyaan yang menggantung di udara. Namun, bukan Donia yang benar-benar mengusik pikiran masih tertahan di tenda, pada percakapan tak terduga dengan Arvin.
"Jawab apa?!" teriaknya dalam hati, panik.
Tubuhnya terasa kaku, seolah setiap gerakannya akan mengungkap rahasia yang ia sembunyikan. "Mana mungkin aku bilang yang sebenarnya?" pikirnya lagi, kegelisahan mulai membanjiri hatinya. Malu dan bingung saling bersahutan, membuat napasnya terasa berat. Donia, dengan caranya yang tajam, seakan bisa melihat apa yang terjadi, membuat Aurel semakin merasa terpojok.
"Ya ampun, kenapa aku jadi seperti ini?!" batin Aurel, matanya melirik Donia dengan ragu, takut jika ia membuka mulutnya, kebenaran akan tumpah begitu saja.
Hening merayap di antara mereka. Hening yang penuh ketegangan. Hingga akhirnya suara Brandon memecahkan suasana, lembut namun penuh dengan nada penasaran yang tak bisa disembunyikan.
"Bukannya tadi di perjalanan kamu nanya-nanya terus tentang Donia?" katanya santai, namun jelas-jelas mengarahkan perhatian semua orang kembali pada Aurel.
Aurel menoleh cepat, terperangah. Kata-kata Brandon terasa seperti badai kecil yang menyerang pertahanannya. Tatapan Donia yang kini penuh selidik semakin menusuk, membuat darah di wajah Aurel surut. Ia ingin menjawab, ingin membela diri, tapi kata-kata seperti tersangkut di tenggorokannya.
"Astaga, Brandon!" batinnya, cemas dan malu bercampur menjadi satu. Tidak ada jalan keluar yang terasa aman.
Aurel tercekat. Memang tadi dia khawatir tentang keadaan Donia, tetapi sekarang situasinya jadi lebih rumit dari yang dia bayangkan.
Aurel menatap tajam ke arah Brandon yang duduk di seberang kasur Donia. Tatapan itu seolah-olah ingin memperingatkannya untuk diam, tetapi bukannya terintimidasi, Brandon justru menatap balik dengan santai, senyum smirk menghiasi wajahnya.
"Kenapa kamu tatap aku seperti itu? Bukankah yang aku katakan tadi benar?" tanyanya dengan nada menggoda.
"Brandon, dasar sialan!" Aurel mengumpat dalam hati, malu bukan main. Perkataannya tak bisa lagi dihindari, dan Aurel semakin terpojok. Kini dia benar-benar bingung harus berkata apa di depan Donia.
"Semoga Donia tidak menanyakan apa-apa..." batinnya harapan Aurel saat ini.
Namun, harapan itu seketika pupus. Donia justru menoleh dan mengajukan pertanyaan yang paling tidak ingin didengar Aurel. Wajah Aurel langsung mematung, seolah kata-kata terkunci rapat di tenggorokannya.
"Apakah itu benar, Aurel? Kamu mengkhawatirkanku?" tanya Donia dengan nada lembut, meski matanya memperlihatkan tanda-tanda penasaran.
Aurel tetap terdiam, perasaannya campur aduk antara malu dan bingung. Setiap detik terasa semakin menekan. Lalu, Brandon menambahkan beban itu dengan senyum penuh kemenangan.
"Aurel, kenapa diam? Apa yang dikatakan Brandon benar?" ulang Donia, kali ini lebih serius.
Tak ada lagi jalan keluar. Aurel menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian. “Itu benar, Donia."
Akhirnya Aurel berkata dengan suara yang hampir berbisik. “Aku memang mengkhawatirkanmu.”
Donia tersenyum lebar saat mendengar suara Aurel yang begitu pelan, meski berusaha menahan kegembiraannya di depan Aurel. "Sungguh? Kamu sungguh mengkhawatirkanku?"
“Tentu,” jawab Aurel, kali ini lebih tegas.
Donia tampak bahagia, meski berusaha tetap tenang, sementara Aurel hanya bisa merasa lega telah jujur. Namun, dia tak bisa menghilangkan rasa canggung yang mengganjal di antara mereka.
"Wah, aku benar-benar gak percaya kamu khawatir sama aku. Tapi terima kasih ya," kata Donia sambil tersenyum ke arah Aurel. Aurel pun membalas senyuman itu dengan kikuk, merasa sedikit lega setelah pengakuannya.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, dan sepasang kekasih masuk. Ryan dan Rara, yang baru datang, langsung menuju ke tempat tidur Donia.
"Donia, kamu g-gapapa?" tanya Ryan, suaranya terdengar sedikit gugup saat berdiri di antara Daniel dan Brandon.
Donia terkekeh melihat ekspresi khawatir mereka, terutama Ryan. "Ryan, kamu gak lihat ini apa?" katanya, menunjuk infus yang masih terpasang di tangannya. "Masih bilang aku gapapa?"
"Hehehe, maksudku, kamu udah baikan apa belum?" Ryan meralat dengan nada canggung.
"Sudah, kok," jawab Donia, tersenyum.
Rara yang berdiri di samping Aurel, meraih tangan kanan Donia dengan penuh perhatian. "Syukurlah kamu udah baikan, Donia," katanya penuh kekhawatiran.
Donia tersenyum lembut pada Rara. "Aku udah baikan, Ra. Gak usah khawatir."
"Aku beneran khawatir! Aku takut kamu dimakan hewan buas," sahut Rara sambil membayangkan skenario liar itu.
Donia mendengus kesal, meski jelas bercanda. "Hei, kejam banget kamu sama aku. Gimana bisa kamu berpikir aku bakal dimakan hewan buas?"
Rara hanya tertawa kecil. "Ya, gak tahu... Mungkin aku terlalu khawatir sampai mikir yang aneh-aneh," jawabnya, masih memegang tangan Donia erat.
Bersambungg...
KAMU SEDANG MEMBACA
Brandon [TAMAT]
RomanceBrandon terang - terangan menyukai Donia, tapi saat hubungan mereka mulai tumbuh, Brandon tiba- tiba pergi ke luar negeri tanpa kabar. Bertahun - tahun kemudian, saat hampir lulus kuliah, ia kembali masih dengan rasa yang sama, dan satu harapan semo...
![Brandon [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/251426311-64-k595558.jpg)