Dalam perjalanan panjang itu, Brandon tetap diam, tenggelam dalam musik yang mengalun di telinganya. Dia sengaja mengabaikan Candy yang terus berbicara tanpa henti. Baginya, kehadiran Candy di pesawat ini sudah cukup mengganggu, dan sikapnya yang bawel hanya memperburuk suasana hati.
Sementara itu, di sisi lain pesawat, Bunda Brandon terus melanjutkan percakapan seriusnya dengan suaminya.
"Tidak, aku tidak akan selingkuh darimu," kata Ayah Brandon dengan nada penuh keyakinan, mencoba menenangkan istrinya.
"Beneran?" tanya Bunda, memastikan.
"Aku janji, aku akan selalu bersamamu sampai maut memisahkan kita," balas Ayah sambil menggenggam tangan istrinya.
"Okey," Bunda tersenyum kecil. "Aku mau minta tolong sesuatu sama kamu, Mas."
"Apa itu?"
Bunda menghela napas, ragu sejenak sebelum bicara. "Ku rasa Candy anaknya kurang cocok. Aku nggak srek sama dia, Mas."
Ayah Brandon mengernyit. "Kenapa? Bukannya dia baik?"
"Di depan kita, iya. Tapi bersama Brandon? Aku rasa dia agak... genit," jawab Bunda, suaranya menunjukkan ketidaknyamanan.
Ayah Brandon tertawa kecil. "Genit gimana maksudmu?"
"Bunda nggak suka cara dia cari perhatian ke Brandon. Aku takut kalau mereka nikah nanti, Brandon malah nggak bahagia," jelas Bunda dengan nada khawatir.
Ayah mengangguk pelan, mencoba memahami kekhawatiran istrinya. "Mas sudah janji sama ayahnya Candy, Bun. Nggak enak kalau dibatalin."
Bunda langsung menggenggam tangan suaminya lebih erat. "Mas, coba pikirkan kebahagiaan Brandon. Aku yakin dia lagi jatuh cinta sama Donia, anaknya Darnia."
"Donia?" Ayah Brandon terlihat bingung.
"Iya, anak sahabatku itu. Mas, mas pikir-pikir dulu ya. Nanti mas tanyain langsung ke Brandon. Kalau bisa, ajak aku juga. Aku mau dengar langsung jawaban anak kita."
Ayah Brandon hanya mengangguk, memberi janji samar. "Oke, nanti mas coba cari waktu yang pas."
Percakapan mereka terhenti sejenak, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka. Sementara itu, Candy, yang tidak menyadari apa pun, masih terus berbicara pada Brandon, meskipun tidak mendapat tanggapan.
Brandon memejamkan mata, mencoba mengabaikan suara Candy yang menurutnya sudah seperti dengungan lebah. Dalam hatinya, dia hanya berharap perjalanannya segera selesai dan segalanya menjadi lebih jelas.
Brandon menundukkan kepala dan memejamkan mata, berharap Candy akhirnya menyerah dan memberi dia ruang untuk tidur. Headset yang dipasang di telinganya menyaring suara riuh di sekitar, tetapi Candy tetap tidak berhenti mengganggu. Telinga Brandon terasa aman, tapi hatinya terjebak dalam kebingungan. Jika saja yang mengganggunya itu Donia, mungkin dia akan mendengarkan, tetapi Candy yang tak henti-hentinya memaksanya untuk berbicara membuatnya merasa jengkel.
"Apa sih, Candy?" jawab Brandon dengan suara berat, akhirnya menoleh dengan tatapan yang jelas menunjukkan ketidaksenangannya.
Candy, meskipun terlihat kecewa, tetap memegang pundaknya, berharap sedikit perhatian dari Brandon. "Bisa diam gak? Aku mau tidur." Mencoba mengusir rasa malas yang menghantui dirinya.
Namun, Candy masih berusaha dan memaksanya. "Plis, temenin aku sedikit. Aku bosan banget nih."
Brandon merasakan dorongan untuk tidur yang semakin kuat, tapi dia tidak ingin mengungkapkan ketidaksukaannya begitu langsung. "Gak, aku ngantuk banget. Jangan ganggu deh." mengalihkan pandangan dan mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan menutup mata.
"Ayo dong, cuma sebentar aja. Ngobrol dikit," Candy melanjutkan dengan suara memohon.
Brandon merasakan matanya semakin berat. Dia berpura-pura tidur, berharap Candy mengerti dan berhenti mengganggu. Namun, suara Candy terus terdengar, semakin mengganggu ketenangannya.
"Diam sebentar kek, berisik banget," batin Brandon kesal, meskipun dia tidak berniat untuk membuka mata.
"Brandon, kamu tidur ya?" tanya Candy sekali lagi, namun tidak ada jawaban dari Brandon. Matanya tetap tertutup rapat, pura-pura tidur.
Akhirnya, Candy merasa pasrah dan berhenti mencoba. Dia hanya bisa menatap Brandon yang terlelap, merasa seolah-olah dia ditinggal sendirian dalam kebosanan yang tak terduga. Namun, di dalam hatinya, Candy tetap punya niat yang besar.
"Awas aja ya, Brandon," gumamnya pelan, dengan keyakinan yang menggelora. "Aku akan menaklukkan kamu. Kamu harus jadi milikku, gak boleh yang lain."
Dengan tatapan penuh tekad, Candy membayangkan masa depan yang ia inginkan.
"Dan aku pastikan, perjodohan ini sangat lancar untuk ke depannya. Aku bakal jadi istrimu, Brandon," katanya dalam hati, menyusun rencana yang ia yakini akan terwujud, meskipun Brandon tidak menginginkannya.
Bersambunggg....
Vote dan koment ya. Follow instagramku @_faizahjahro_
KAMU SEDANG MEMBACA
Brandon [TAMAT]
RomanceBrandon terang - terangan menyukai Donia, tapi saat hubungan mereka mulai tumbuh, Brandon tiba- tiba pergi ke luar negeri tanpa kabar. Bertahun - tahun kemudian, saat hampir lulus kuliah, ia kembali masih dengan rasa yang sama, dan satu harapan semo...
![Brandon [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/251426311-64-k595558.jpg)