|| 5. dihukum ||

1.4K 305 191
                                        

Sebelum baca...

Follow wattpad kedua
@vionacadee

Follow instagram
@faizahjahro

Subricber youtube
@vionacadee

Follow Tiktok
@ssyussy

__Happy Reading__

Donia spontan menoleh ke belakang, mencari sosok berani yang baru saja melontarkan hinaan pedas tentang wajah cantiknya. Matanya menyapu ruang kelas dengan tajam hingga akhirnya tertuju pada seorang gadis yang sedang berdiri dengan senyum miring penuh kemenangan, seakan menikmati momen mempermalukan orang lain.

"Wajahmu sangat jelek, sampai membuat mataku sakit, tau!" ejek gadis itu dengan nada meledek, penuh kesombongan.

Donia hanya bisa menatapnya dengan jengah, tapi tidak mau menunjukkan bahwa ucapannya itu benar-benar melukai perasaannya. Ia lalu memutar otak mencari cara untuk membalas tanpa kehilangan kendali. Lalu dengan ekspresi imut yang sudah menjadi andalannya, Donia menatap balik gadis itu sambil membiarkan senyum manisnya merekah.

Momen itu seperti sulap, karena pandangan para laki-laki yang sedari tadi memperhatikannya langsung terpaku, wajah mereka berubah menjadi terpana dan penuh kekaguman.

"Kalau kau mau mengatai orang, coba deh bercermin dulu. Gak punya kaca di rumah?" balas Donia dengan nada santai tapi mengandung sindiran halus.

"Ngomong-ngomong, emangnya kamu cantik sampai berani ngatain orang lain?" sambung Donia lagi.

Gadis yang bernama Aurel itu mendengus kesal, lalu membalas dengan suara dingin tapi penuh tantangan, "Hei, berani banget kamu!"

Donia membalas tanpa ragu, "Ngapain aku harus takut sama kamu? Lagi pula, aku kan memang cantik, kan?"

Aurel meledek lagi, "Cantik? Cantik aku lah!"

Donia tak mau kalah. Ia menatap penuh sinis pada Aurel yang berada tepat di belakangnya, tak sedikit pun takut. "Kalau kamu belum bercermin hari ini, coba deh ngaca dulu, biar tahu seperti apa sebenarnya wajahmu."

Tatapan tajam dari Aurel berubah menjadi penuh amarah, matanya menyipit dan menantang, seakan ingin melempar sesuatu ke arah Donia. Tapi sebelum pertikaian itu bisa berlanjut, suara lantang dan tegas Bu Windy memecah ketegangan.

"Donia! Aurel! KELUAR SEKARANG JUGA!" bentak Bu Windy sambil menatap tajam kedua gadis itu, menegaskan bahwa drama di kelas sudah cukup dan harus dihentikan segera.

Donia dan Aurel sama-sama terkejut oleh bentakan itu, tapi tanpa banyak kata, mereka berdua berdiri dan berjalan keluar dari kelas dengan langkah berat, membawa perasaan campur aduk yang sulit diungkapkan.

"Tapi, Bu, kenapa saya disuruh keluar?" suara Aurel yang duduk tepat di belakang Donia terdengar sedikit ragu dan penuh tanya. Ia merasa bingung sekaligus kesal harus meninggalkan kelas di tengah pelajaran.

"Yah, karena kamu sudah terlalu berisik di jam pelajaran saya," jawab Bu Windy tegas, tanpa memberi ruang untuk perdebatan. Suaranya membawa kehangatan tegas yang menandakan bahwa ia serius dan tidak main-main.

Donia, yang belum pernah merasakan hukuman seperti ini sebelumnya, tak bisa menyembunyikan kebingungannya. Dengan nada lembut tapi penuh harap, dia bertanya, "Ibu, sampai kapan saya harus keluar dari kelas ini?" Rasa penasaran bercampur sedikit takut membuat suaranya bergetar halus.

Bu Windy menatap kedua gadis itu dengan tajam, lalu menjawab singkat, "Sampai pelajaran saya selesai." Jawaban itu seperti palu yang mengetuk di kepala mereka tidak ada kompromi.

Kedua gadis itu kemudian saling berpandangan, berusaha memohon dengan tatapan memelas yang tak biasa mereka tunjukkan. "Tapi, Bu-" mulut mereka hampir bersamaan mengucap, berharap Bu Windy berubah pikiran.

Namun, tanpa ampun, Bu Windy memotong, "Tidak ada tapi-tapi'an! Kalau tidak, kalian bakal makan hidup-hidup sama saya!" ujarnya sambil melemparkan tatapan tajam yang membuat keduanya tersentak.

Merasa tidak punya pilihan lain, Donia dan Aurel buru-buru berdiri dari bangku mereka. Dengan langkah cepat dan wajah masih penuh rasa kecewa, mereka berdua berlari keluar kelas. Di belakang mereka, suara ketukan meja dan suara Bu Windy yang menegaskan, "Jangan coba-coba buat ribut lagi!"

Momen itu membuat Donia dan Aurel sadar bahwa mereka harus lebih berhati-hati di kelas ini. Meski berat, mereka menerima konsekuensi itu dengan hati yang perlahan mulai memahami aturan permainan di lingkungan baru ini.


****
D

onia kini berdiri tepat di depan pintu kelas XI IPA 3, dengan tatapan yang mencerminkan rasa frustrasi dan kekecewaan mendalam. Hari pertamanya di sekolah baru seharusnya menjadi momen yang membahagiakan dan penuh harapan, namun nyatanya, segalanya justru berjalan berlawanan. Dia merasa seluruh harinya hancur berantakan, dan semua itu berawal dari kehadiran satu sosok yang duduk persis di sebelahnya Aurel, gadis yang tampaknya begitu mudah memicu keributan dan masalah.

"Gara-gara kau juga nih, aku jadi dihukum berdiri di depan kelas!" gerutu Aurel dengan nada penuh kemarahan dan kesal, seakan ingin menjatuhkan semua kesalahan hanya pada Donia tanpa melihat apa yang sebenarnya terjadi. Suaranya yang meninggi penuh emosi itu menegaskan betapa ia merasa dirugikan dan tidak terima harus menanggung malu di depan teman-teman sekelasnya.

Donia terdiam sejenak, terkejut mendengar ucapan itu. Dalam benaknya, ia mengulang-ulang kejadian tadi-betapa Aurel dengan sengaja mengejek dan menghina wajahnya dengan kata-kata yang menusuk hati. Donia berusaha memahami, bahwa semua ini bermula dari perlakuan kasar Aurel.

Seandainya saja Aurel tidak meledek dengan kata-kata yang menyakitkan itu, tentu saja mereka berdua bisa melewati hari ini dengan lebih baik, tanpa harus terjebak dalam masalah yang sama. Mungkin sekarang, Donia dan Aurel sudah duduk bersama di kelas, belajar dengan tenang bersama teman-teman yang lain.

Tatapan Aurel yang tajam menusuk seperti belati, membakar amarah yang tertahan dalam dada Donia. Namun, alih-alih mundur atau menangis, Donia memilih untuk berdiri tegak, menatap balik ke arah Aurel dengan keberanian yang membara. Ia tidak ingin menunjukkan kelemahan, karena bagi Donia, sikap tegas adalah cara terbaik untuk menghadapi orang yang suka memprovokasi.

"Hei, berani sekali kamu menatap tajam ke arahku begitu!" suara Donia terdengar cukup lantang, menandakan bahwa dia tidak takut sedikitpun pada Aurel. Nada bicaranya penuh percaya diri, dan raut wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak akan membiarkan dirinya diperlakukan semena-mena.

Aurel, yang sepertinya tak ingin kalah dalam pertarungan diam itu, membalas dengan cepat, "Hah? Bukannya kamu yang duluan yang menatap tajam ke aku?!" Dia mencoba mempertahankan posisi dan martabatnya, meskipun sebenarnya suasana semakin memanas dan ketegangan di antara keduanya sulit diredam.

Donia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang bergejolak. Dalam hati, ia bergumam dengan nada kesal, "Cih, salah terus di mataku nih anak. Padahal aku yang disakiti duluan." Perasaan dongkolnya bercampur dengan keheranan, mengapa orang yang telah menyakitinya justru bersikap seolah-olah dirinya yang bersalah.

Meskipun suasana antara mereka tegang, Donia tahu ia harus tetap kuat dan tidak membiarkan emosi menguasai dirinya. Ini baru hari pertama, dan dia sudah menghadapi ujian yang berat. Namun, dia yakin bahwa dengan sikap tegas dan keteguhan hati, ia bisa melewati semua tantangan yang akan datang di sekolah barunya ini.


Bersambungg...

Jangan lupa vote dan koment ya! Share ke teman-teman juga buat baca cerita ini!

Follow wattpad kedua
@vionacadee

Follow instagram
@faizahjahro

Subricber youtube
@vionacadee

Follow Tiktok
@ssyussy

Brandon [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang