Sesampainya di bandara, Brandon melangkah cepat, seakan waktu yang dimilikinya tak cukup untuk sekadar menoleh ke sekeliling. Langkahnya mantap, memecah keramaian bandara yang dipenuhi suara koper berderak, percakapan samar, dan pengumuman penerbangan. Di belakangnya, Candy berjalan tergesa, berusaha menyusul dengan wajah yang sudah memerah karena kesal.
“Brandon!” panggil Candy dengan suara lantang, yang bahkan mengatasi hiruk pikuk suara bandara. Namun, Brandon tetap tak menggubris. Lagu di headset-nya mengalun lembut, menjadi pelarian sempurna dari suara Candy yang terus berusaha menembus dunianya.
Candy mengerutkan kening, rasa kesalnya semakin memuncak. “Brandon! Tunggu, dong!” teriaknya lagi. Namun tetap saja, tidak ada respons.
Di sisi lain, Ibu Brandon yang sejak tadi memperhatikan tingkah Candy hanya menghela napas panjang. Mata tajamnya mengamati gadis itu dengan penuh ketidaksukaan, bahkan nyaris sinis. Dalam pikirannya, Candy selalu terlalu ribut, terlalu berusaha menarik perhatian, seolah dunia ini hanya berpusat padanya. Dan itu membuat Ibu Brandon semakin yakin—Candy tidak pernah cocok untuk putranya.
Ia kembali teringat pada Donia, gadis manis yang pernah ia temui di hotel beberapa waktu lalu. Tidak seperti Candy, Donia memiliki keanggunan yang alami. Setiap gerak-geriknya tenang dan lembut, tidak pernah ada kesan memaksa. Justru itu yang membuat Donia tampak istimewa di matanya. Dia adalah sosok yang menurutnya pantas berada di sisi Brandon, bukan gadis seperti Candy yang terlalu gaduh.
Dengan langkah pasti, Ibu Brandon mendekati Candy yang masih sibuk memanggil nama putranya dengan nada kesal. Tanpa ragu, ia melontarkan kalimat dingin yang membuat Candy tertegun.
“Sudahlah, kalau dia tidak mau menjawab, tidak perlu dipanggil terus. Suaramu itu bikin pusing,” ujarnya tajam.
Candy menghentikan langkahnya. Ia menoleh, matanya membulat penuh keterkejutan dan menggerutu. “Lah, tante? Suara cakep begini dibilang bikin pusing?!” sambil mendelik, namun Ibu Brandon tak lagi peduli. Ia sudah berjalan menjauh, meninggalkan Candy yang masih berdiri dengan mulut menganga.
Sementara itu, Brandon terus melangkah tanpa mengurangi kecepatannya. Ia hanya berhenti ketika merasakan seseorang menyamakan langkah di sisinya. Menoleh sekilas, ia melihat ibunya berdiri di sampingnya dengan wajah tenang.
“Brandon,” panggil sang ibu dengan suara lembut.
Brandon melepas headset-nya, menatap ibunya dengan alis yang sedikit terangkat. “Ada apa, Bu?”
“Ibu dengar dari ayah, kamu tidak memberitahu siapa pun tentang rencana keberangkatanmu ini. Apa benar?” tanyanya, suaranya terdengar seperti sebuah ujian kesungguhan.
Brandon mengangguk santai. “Iya, Bu. Semuanya gak aku kasih tahu.”
Ibu Brandon memiringkan kepalanya sedikit, memandang putranya dengan sorot penuh arti. “Termasuk Donia?”
Pertanyaan itu membuat Brandon tersenyum tipis. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku jaket, menatap jauh ke depan sebelum menjawab, “Iya, termasuk dia. Kan aku bilang semua, jadi Donia juga gak boleh tahu.”
Sang ibu hanya mengangguk pelan, menyembunyikan perasaan lega yang tiba-tiba menyeruak. Namun, di balik itu, pikirannya berkelana.
Bagaimana Donia akan bereaksi jika tahu bahwa Brandon pergi tanpa memberitahunya? Apakah gadis itu akan marah, sedih, atau justru mencoba memahami? Sejenak, ia merasa ingin sekali melihat ekspresi Donia dalam situasi seperti ini. Namun, ia memilih diam, menyimpan pemikirannya untuk dirinya sendiri.
Langkah mereka berdua terhenti di depan konter check-in. Brandon menyerahkan dokumen-dokumennya tanpa banyak bicara. Di belakang, Candy masih berdiri terpaku, menggigit bibir dengan mata yang tak lepas dari punggung Brandon.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brandon [TAMAT]
RomanceBrandon terang - terangan menyukai Donia, tapi saat hubungan mereka mulai tumbuh, Brandon tiba- tiba pergi ke luar negeri tanpa kabar. Bertahun - tahun kemudian, saat hampir lulus kuliah, ia kembali masih dengan rasa yang sama, dan satu harapan semo...
![Brandon [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/251426311-64-k595558.jpg)