Brandon’s Room
Hembusan angin dari celah jendela kamar Brandon menambah suasana tenang di dalam ruangan yang cukup besar. Langit-langit tinggi dengan lampu gantung modern menciptakan bayangan lembut yang memantul ke dinding biru keabu-abuan. Brandon, yang masih mengenakan kaos oblong putih dan celana panjang kasual, terbaring dengan tubuh sedikit miring di atas tempat tidur king size yang rapi dengan seprai putih polos. Suara dengkur halusnya menggema pelan, tanda bahwa ia sudah benar-benar tenggelam dalam tidurnya.
Pintu kamarnya masih sedikit terbuka. Di lantai kayu yang mengilap, jejak sepatu bundanya terlihat samar menuju arah tempat tidur.
Di Ruang Tamu
Sementara itu, di ruang tamu, ayah dan bunda Brandon duduk di sofa besar berbahan kulit hitam. Ruangan itu terasa megah dengan perapian elektronik menyala di salah satu dinding. Di hadapan mereka, meja kaca dihiasi vas bunga mawar segar, memberi sentuhan hangat pada ruang yang didominasi warna netral.
“Ke mana Candy, Bund?” tanya Ayah lagi dengan nada tegas, namun tak sepenuhnya marah.
Bunda menghela napas, matanya beralih ke lantai. "Aku tidak tahu. Tapi aku yakin dia bukan bersama Brandon. Mereka belum tentu cocok, Yah. Kau tahu itu," ucapnya, mencoba meredam emosi.
“Bund, aku hanya ingin memastikan masa depan Brandon,” jawab Ayah, mengencangkan dasi yang sedikit melonggar. “Perjodohan ini adalah keputusan terbaik, baik untuknya maupun untuk bisnis keluarga kita.”
Namun Bunda menggeleng perlahan, wajahnya terlihat resah. Ia bukan tipe wanita yang sering berbicara keras, tetapi kali ini ada keteguhan dalam suaranya. “Kau tidak bisa memutuskan hidup anak kita hanya berdasarkan keuntungan bisnis, Yah. Brandon harus memilih sendiri jalan hidupnya.”
Ayah mengerutkan kening, tidak menyukai argumen itu, tetapi memilih untuk diam. Bunda memanfaatkan momen itu untuk pergi memeriksa Brandon di lantai atas.
****
Di Kamar Brandon
Langkah kaki Bunda terdengar lembut di sepanjang koridor lantai dua. Sepatu hak rendahnya menyentuh lantai kayu dengan ritme pelan, mencerminkan keraguannya. Saat tiba di depan pintu kamar Brandon, ia mengangkat tangan, mengetuk pelan.
Bunda mengetuk beberapa kali pintu kamarnya. "Brandon, kamu di dalam?” suara lembutnya memecah kesunyian.
Namun tidak ada jawaban. Bunda mengulang panggilan, kali ini lebih keras.
“Brandon?!”
Tetap saja, tidak ada sahutan. Dengan hati-hati, Bunda memutar kenop pintu yang ternyata tidak terkunci. Ia masuk perlahan, langkahnya berhenti sejenak di ambang pintu. Pemandangan Brandon yang tertidur lelap menyambutnya. Wajah putranya yang damai, dengan rambut hitam acak-acakan, membuat senyum kecil terukir di bibirnya.
“Anakku…” gumamnya, mendekat.
Bunda berjalan ke sisi tempat tidur, menarik selimut lembut hingga menutupi tubuh Brandon yang sedikit menggigil. Ia duduk di pinggir kasur, memandangi wajah putranya dengan penuh kasih sayang. Tangannya terulur, membelai rambut Brandon yang terasa halus di jari-jarinya.
“Seharusnya ini bukan bebanmu, Nak,” bisiknya pelan, suaranya hampir seperti gumaman. “Bunda tahu kamu lelah. Tapi percayalah, Bunda akan mencoba membantumu. Kamu berhak bahagia, Brandon.”
Air mata nyaris jatuh dari sudut matanya, tetapi Bunda buru-buru menghapusnya dengan punggung tangan. Ia tahu tanggung jawab besar yang dipikul Brandon, tetapi ia tak tega melihat putranya harus mengorbankan kebahagiaannya demi kepentingan keluarga.
Setelah memastikan posisi tidur Brandon nyaman, Bunda berdiri, mengambil jaket yang masih melekat di tubuh putranya. Gerakannya perlahan, memastikan Brandon tidak terbangun. Ketika jaket itu berhasil dilepaskan, ia melipatnya rapi dan meletakkannya di kursi dekat meja belajar.
****
Kembali ke Ruang Tamu
Bunda turun dengan langkah mantap, tetapi wajahnya tetap terlihat sedikit tegang. Ia menemukan Ayah masih duduk di sofa, memegang ponselnya seperti siap menelepon kapan saja.
“Bagaimana?” tanya Ayah, tatapannya tajam.
“Dia tidur,” jawab Bunda, melepaskan sepatu hak rendahnya dan melangkah ke sofa.
"Apakah ada Candy?" tanya ayahnya.
"Tidak ada, hanya Brandon!"
"Lalu kemana Candy? Kenapa dia tidak bersamanya?" tanya Ayahnya yang mulai mengambil ponsel didalam kantung celananya dan membuka ponsel untuk menghubungi ayahnya Candy.
Bundanya yang tahu gerak-gerik ayahnya ingin melakukan apa. Langsung dengan segera Bunda mencegahnya dengan alasan Bunda.
"Aku tidak tahu, sebaiknya biar Brandon saja yang mengurus. Lagian dia tertidur jangan sampai terganggung," alasan Bunda agar ayahnya tidak menelepon ayahnya Candy.
"Baiklah," jawab ayahnya sambil menutup ponselnya dan meletakkannya kembali didalam kantung celana.
Bersambungg.....
KAMU SEDANG MEMBACA
Brandon [TAMAT]
RomansaBrandon terang - terangan menyukai Donia, tapi saat hubungan mereka mulai tumbuh, Brandon tiba- tiba pergi ke luar negeri tanpa kabar. Bertahun - tahun kemudian, saat hampir lulus kuliah, ia kembali masih dengan rasa yang sama, dan satu harapan semo...
![Brandon [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/251426311-64-k595558.jpg)