|| 56. Heboh ||

471 111 141
                                        

Pagi hari yang cerah itu, Brandon bangun lebih awal dari biasanya. Kamar tidurnya yang sederhana terasa lebih hidup karena sinar matahari pagi menyelinap melalui celah tirai. Ia menggosok matanya perlahan, mengingat betapa pentingnya hari ini.

Hari terakhirnya di sekolah. Bukan hanya sekadar akhir dari rutinitas belajar, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki diri. Brandon, yang selama ini dikenal dingin dan tertutup, ingin memulai lembaran baru-menjadi seseorang yang ceria dan ramah.

Ia melangkah ke kamar mandi dengan semangat baru. Air dingin membasahi wajahnya, membawa kesegaran sekaligus keberanian untuk menghadapi apa yang menantinya. Setelah berpakaian rapi, ia turun ke lantai bawah, langsung menuju garasi.

Motornya yang mengkilap sudah menunggu, seperti siap menjadi saksi dari perubahan besar dalam hidupnya. Brandon menyalakan mesin dan memacu kendaraannya dengan semangat, membelah jalanan pagi yang masih lengang. Ada rasa tak sabar yang menggelitik dadanya, terutama karena ia tahu, hari ini ia akan bertemu Donia.

Sesampainya di sekolah, Brandon memarkirkan motornya di area parkiran yang mulai ramai oleh teman-temannya. Ia menatap gedung sekolah yang sebentar lagi akan menjadi kenangan, lalu melangkah masuk. Udara pagi bercampur aroma khas kelas yang penuh dengan buku dan semangat siswa di hari terakhir.

Ketika bel berbunyi, suasana di kelas Brandon berubah hening. Semua murid masuk dengan tenang dan duduk di tempat masing-masing, seolah mengikuti karakteristik Brandon yang selalu kalem. Namun, situasi berbeda terjadi di kelas sebelah, kelas Donia.

Kelas Donia riuh dengan suara tawa, obrolan, dan kehebohan khas anak-anak yang tahu bahwa gurunya tidak masuk. Aurel, salah satu teman sekelas Donia, sedang bernyanyi-nyanyi dengan suara keras tanpa memperhatikan sekitar. Suaranya yang melengking membuat Donia, yang sedang duduk di barisan tengah, merasa terganggu.

"Aurel, berisik ih!" seru Donia, menoleh ke arah Aurel dengan tatapan kesal.

Namun, Aurel hanya tertawa kecil. "Biarin aja, orang gurunya juga gak masuk!" Ia malah melanjutkan nyanyiannya dengan lebih semangat.

Donia mendengus dan membalikkan badannya. Ia mengambil ponselnya, berusaha mengalihkan perhatian dari kebisingan kelas.

Ketika layar ponselnya menyala, pikirannya langsung melayang pada kejadian semalam. Ia tersenyum kecil, mengingat momen ketika Brandon datang ke rumahnya dan mengajaknya jalan-jalan. Itu adalah hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

"Ra, aku semalam jalan sama Brandon," bisik Donia kepada Rara, teman baiknya yang duduk di sebelah. Suaranya pelan, tapi cukup untuk membuat Aurel yang sibuk bernyanyi mendengar.

"APAAA?!" seru Aurel, spontan berhenti bernyanyi. Seluruh kelas langsung terdiam, menoleh ke arah Aurel yang berdiri sambil menatap Donia dengan mata membelalak.

Donia dan Rara menoleh ke arah Aurel dengan wajah bingung. "Kenapa sih kamu?" tanya Donia.

"Kamu serius jalan sama Brandon?" Aurel mendekati Donia, masih dengan ekspresi tak percaya.

"Iya, semalam dia datang ke rumahku terus ngajak aku jalan," jawab Donia santai, meskipun ia tahu pernyataannya akan memicu kehebohan.

Seperti yang diduga, kelas langsung riuh. Semua siswa mulai berbisik-bisik, tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Brandon, si cowok dingin yang anti berinteraksi dengan cewek, tiba-tiba saja mengajak Donia jalan-jalan. Itu adalah hal yang luar biasa dan sulit dipercaya.

"Seriusan? Brandon yang kita kenal itu?" bisik salah satu siswa.

"Anak keluarga Razifa bisa jalan sama Brandon? Gila banget sih ini!" sahut siswa lain.

Donia mulai merasa risih dengan keramaian di kelasnya. Ia berdiri dan keluar dari kelas, berniat mencari tempat yang lebih tenang. Namun, Aurel dan Rara langsung mengikuti dari belakang, memanggil-manggil namanya.

"Donia!"

"Donia, tunggu!"

Donia menghentikan langkahnya dan menoleh. "Kenapa sih kalian?"

"Kamu marah?" tanya Aurel dengan nada sedikit cemas.

Donia menggeleng cepat. "Enggak, aku cuma kebelet tahu!" jawabnya, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.

Aurel dan Rara saling pandang, lalu tertawa kecil. "Kirain dia marah. Yaudah, ayo temenin dia!" ajak Rara. Mereka pun mengejar Donia yang sudah berlari lebih dulu.

Namun, langkah Donia terhenti tiba-tiba. Tubuhnya menabrak sesuatu lebih tepatnya, seseorang.

Brugh!

Donia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh, tetapi seseorang dengan cepat menahan lengannya. Ia mendongak, dan pandangannya bertemu dengan sepasang mata cokelat tajam yang begitu familiar. Itu Brandon.

"Donia?" suara Brandon terdengar datar, tetapi ada sedikit nada khawatir di dalamnya.

Donia terpaku, tidak tahu harus berkata apa. Aurel dan Rara yang mengejarnya juga ikut berhenti, menatap dengan ekspresi kaget dan penasaran.

Bersambung...


Jangan lupa share ke teman-teman ya cerita ini!

Brandon [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang