|| 66. Keberangkatan Brandon ||

487 128 14
                                        

Brandon terbaring di atas kasurnya, menatap langit-langit kamar yang seolah kosong seperti pikirannya saat ini. Dadanya terasa sesak, bukan karena udara, tetapi karena kenyataan bahwa hari ini adalah hari terakhirnya berada di tempat yang ia sebut rumah. Semua yang pernah ia jalani tawa, cerita, dan kenangan bersama teman-temannya akan ia tinggalkan tanpa satu pun ucapan perpisahan.

"Argh," desahnya, tangan menutupi wajahnya seolah ingin mengusir kegelisahan yang terus menghantui.

Ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Suara ayahnya terdengar dari balik pintu.

"Brandon, cepatlah siap-siap! Kita akan berangkat sebentar lagi!"

Ayahnya tidak menunggu jawaban. Ia membuka pintu, melangkah masuk, dan memandang Brandon dengan sorot mata penuh harapan namun tak sabar.

“Jangan buang waktu. Ini untuk masa depanmu,” ujar ayahnya sambil berbalik meninggalkan kamar, menutup pintu di belakangnya.

Brandon menatap pintu yang tertutup rapat. Kata-kata ayahnya terasa berat di telinga, seperti beban yang semakin menekan pikirannya. Ia duduk di tepi kasur, melirik koper yang sudah tertata rapi di sudut ruangan. Semua barang sudah ia kemas, tapi hatinya terasa kosong, seolah tidak ada apa-apa yang bisa ia bawa untuk mengisi kehampaan yang akan ia hadapi di tempat baru.

Setelah ayahnya meninggalkan kamar, Brandon akhirnya bangkit dari kasurnya dengan gerakan malas. Langkahnya berat saat menuju kamar mandi, seperti beban perasaan yang enggan ia tinggalkan. Ia berhenti sejenak di depan pintu kamar mandi, menatap refleksinya di kaca yang tergantung di dinding. Wajahnya yang biasanya ceria kini tampak kosong, mencerminkan konflik batinnya.

Dia tidak benar-benar ingin pergi. Namun, keinginan ayahnya adalah sesuatu yang tidak bisa ia tolak. Sejak kecil, Brandon selalu diajarkan untuk patuh, meski terkadang itu berarti mengorbankan keinginannya sendiri.

Beberapa menit kemudian, Brandon keluar dari kamar mandi, tubuhnya segar tetapi pikirannya tetap terasa berat. Ia berdiri di depan lemari, memilih pakaian dengan gerakan cepat. Setelah mengenakan pakaian yang rapi—jaket biru dan celana biru yang tampak serasi—ia duduk sejenak di tepi tempat tidur, memandangi layar ponselnya yang menyala.

Perlahan, ia mengenakan headset di telinganya, mencoba melarikan diri ke dunia musik. Tapi sebelum ia menekan tombol play, sesuatu terlintas dalam pikirannya. Dengan napas panjang, ia membuka aplikasi Telegram, menatap daftar kontak yang dipenuhi nama-nama yang pernah mengisi harinya.

Brandon ragu sejenak, namun akhirnya ia menghapus aplikasinya dengan satu ketukan. "Lebih baik begini," gumamnya, meyakinkan diri sendiri bahwa ini adalah cara terbaik untuk memutus hubungan sementara waktu. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan, tidak ada alasan untuk kembali.

Ia menarik koper kecilnya dan berjalan keluar dari kamarnya dengan langkah yang lebih pasti. Lagu pertama mulai mengalun di headset-nya, menyelimuti suasana hati yang penuh keheningan. Hari ini adalah awal perjalanan yang ia sendiri tidak tahu akan menuju ke mana.

Brandon turun dari kamarnya dengan langkah tenang, membawa beberapa koper di tangannya. Lagu dari headset-nya mengalun pelan, namun tidak cukup keras untuk mengusir keramaian yang tiba-tiba menyambutnya di ruang tamu.

Di sana, Candy dan ayahnya tampak duduk santai bersama ayah dan ibunya, berbincang hangat seperti keluarga dekat. Candy tersenyum ceria, tetapi Brandon hanya menatap mereka dengan ekspresi datar, merasa canggung dengan kehadiran mereka di saat yang sudah cukup sulit baginya.

Ketika langkahnya terdengar di anak tangga terakhir, semua orang langsung menyadari kehadirannya. Seolah magnet, perhatian mereka langsung beralih kepada Brandon.

"Hei, sayang! Sudah rapi ya?" suara lembut Bundanya menyambutnya, penuh kehangatan dan kebanggaan.

Brandon hanya mengangguk kecil, tidak mengatakan apa-apa.

"Kau sangat tampan, Brandon!" sahut ayahnya Candy sambil tersenyum ramah.

"Tentu saja tampan, siapa dulu ayahnya!" Ayah Brandon menimpali dengan penuh percaya diri, menepuk dadanya seolah bangga dengan pernyataannya.

Candy terkikik kecil mendengar candaan itu, sementara Brandon hanya memaksakan senyum tipis. Di dalam hatinya, ia ingin segera menyelesaikan momen ini dan pergi. Semua percakapan ringan ini tidak mampu mengurangi perasaan berat di dadanya, tetapi ia tetap berusaha menghormati mereka.

"Terima kasih," jawab Brandon singkat, mencoba tetap sopan, sebelum ia melangkah mendekati koper-kopernya di depan pintu.

"Hai, Brandon!" sapa Candy.

Brandon mengacuhkan semua sapaan mereka. Dan dia langsung membawa kopernya dan berjalan menuju mobil.

"Ayok dah kita jalan," ajak Bundanya Brandon.

Semuanya pun bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju mobil. Mereka membawa dua mobil. Yang satu khusus untuk Candy dan Brandon. Nah yang mobil kedua, khusus untuk ayah Candy dan Ayah, Bundanya Brandon.

Supir mereka semua langsung menyalakan mesin mobilnya dan langsung berangkat ke bandara agar tidak ketinggalan pesawatnya.

Bersambungg...

Vote dan komentnya ya!

Brandon [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang