Brandon memandangi pesan yang sudah ia ketik di layar ponselnya. Jari-jarinya berhenti di atas tombol "kirim" tapi gengsi menahannya. Dia ragu-ragu.
Membayangkan reaksi Donia membuat dadanya terasa sesak. Terlalu lama sudah mereka tidak berbicara, dan rasanya tidak mungkin untuk sekadar memulai percakapan dari story Instagram. Tiba-tiba, segala keraguan dan perasaan tidak nyaman menghantamnya sekaligus.
"Apa gua bakal kelihatan terlalu peduli?" pikirnya dalam hati, kemudian menghela napas panjang. Dia tidak ingin terlihat seperti orang yang terlalu memperhatikan hal-hal kecil, apalagi tentang story Instagram. Gengsinya terlalu besar untuk itu.
Akhirnya, dengan frustrasi, Brandon menghapus pesan yang sudah diketiknya. Layar ponselnya kembali kosong, tapi pikiran dan perasaannya tetap penuh dengan pertanyaan yang tidak terjawab. Ia merasa bodoh, kenapa bisa-bisanya dia begitu memikirkan Donia lagi setelah sekian lama?
Brandon menyandarkan tubuhnya ke sofa, menatap kosong ke arah televisi yang tidak dinyalakan. Di apartemen yang sunyi itu, ia merasa semakin jauh dari keramaian dan kebahagiaan yang dilihatnya di story Donia. Mereka semua terlihat begitu bahagia, sementara dia hanya terjebak di tempat yang sama, tidak tahu bagaimana harus memulai kembali hubungan yang dulu terasa begitu dekat.
Di sisi lain, Donia yang baru saja sampai di rumahnya yang berada di kamar tidak menyadari bahwa Brandon hampir menghubunginya malam itu. Dengan lelah, ia meletakkan tasnya dan duduk di atas sofa, menatap ponselnya yang masih menampilkan daftar orang-orang yang melihat story-nya. Nama Brandon masih ada di sana, namun ia tidak berpikir banyak tentang hal itu. Bagi Donia, malam ini hanya tentang bersenang-senang dengan teman-teman, tanpa membawa perasaan lama yang mungkin sudah terkubur.
Brandon, di tempat lain, hanya bisa merasakan kerinduan yang samar, tanpa ada tindakan nyata untuk menjangkaunya. Malam itu pun berlalu begitu saja, tanpa satu pesan pun terkirim.
Malam semakin larut, dan Brandon masih terduduk di sofa, ponselnya tergeletak di sebelahnya. Meskipun gengsinya menahan, pikirannya terus melayang ke arah Donia. Ia berpikir, apakah Donia merasakan hal yang sama? Mungkin ia juga menunggu untuk dihubungi? Namun, sekali lagi, Brandon menepis pikiran itu. Ia selalu berusaha tampak kuat, bahkan ketika di dalam hatinya, perasaan lama itu masih ada.
Sementara itu, di kamar Donia akhirnya menutup story Instagram setelah melihat nama-nama yang telah menontonnya. Ia tersenyum tipis, senang karena malam itu berjalan dengan sangat seru bersama teman-temannya. Azhar, Cintya, Azalea, dan lainnya memang selalu tahu cara membuat suasana menjadi hidup. Meskipun begitu, saat ia merebahkan diri di tempat tidur, pikirannya tiba-tiba kembali pada Brandon nama yang tadi ia lihat di daftar pemirsa story-nya.
Donia dan Brandon memang pernah sangat dekat, tapi sejak beberapa bulan terakhir, hubungan mereka mulai merenggang tanpa sebab yang jelas. Bahkan terakhir Brandon pergi keluar negeri tanpa beritahui kepada Donia.
Donia pun tahu, mungkin ada gengsi atau rasa canggung di antara mereka. Baginya, melihat Brandon menonton story-nya adalah tanda kecil bahwa dia masih ada di sana, meski dari kejauhan. Namun, Donia tidak ingin berharap banyak. Ia sudah terbiasa mengabaikan perasaan-perasaan yang terlalu dalam.
“Ya udah, mungkin cuma kebetulan dia lihat,” gumamnya, mencoba menghibur diri sebelum akhirnya menarik selimut dan memejamkan mata.
Di tempat lain, Brandon bangkit dari sofa dan berjalan ke jendela, memandangi pemandangan malam kota yang gemerlap di luar. Ia merasa hampa meski kota di hadapannya penuh cahaya. Keinginan untuk menghubungi Donia tidak hilang, tetapi perasaan gengsi dan takut ditolak membuatnya kembali mundur. Ia merasa seperti berada di antara dua dunia—antara kerinduan dan rasa ingin menjaga harga diri.
Malam itu, keduanya tertidur dengan perasaan yang sama, tanpa ada kata yang terucap atau pesan yang terkirim. Dan seiring berjalannya waktu, baik Brandon maupun Donia tetap terjebak dalam kebisuan mereka, masing-masing menunggu yang lain untuk memulai, namun tidak ada yang berani melakukannya. Malam itu berakhir seperti malam-malam sebelumnya, dengan jarak di antara mereka semakin terasa, meskipun hati mereka masih saling terpaut.
Bersambungg...
KAMU SEDANG MEMBACA
Brandon [TAMAT]
RomanceBrandon terang - terangan menyukai Donia, tapi saat hubungan mereka mulai tumbuh, Brandon tiba- tiba pergi ke luar negeri tanpa kabar. Bertahun - tahun kemudian, saat hampir lulus kuliah, ia kembali masih dengan rasa yang sama, dan satu harapan semo...
![Brandon [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/251426311-64-k595558.jpg)